PROSTITUSI

Polres Gorontalo bongkar pelacuran gadis di bawah umur

Polisi memperlihatkan foto-foto para PSK di bawah umum yang diperjual-belikan oleh tersangka UM alias Uto (36) sebagai muncikari (kanan) dalam konferensi pers di Mapolres Gorontalo, Senin (4/2/2019)
Polisi memperlihatkan foto-foto para PSK di bawah umum yang diperjual-belikan oleh tersangka UM alias Uto (36) sebagai muncikari (kanan) dalam konferensi pers di Mapolres Gorontalo, Senin (4/2/2019) | Franco Dengo /Beritagar.id

Praktik prostitusi masih lazim dan makin terang-terangan. Di Gorontalo, sebuah kediaman diubah menjadi rumah bordil yang berisi para pekerja seks komersial (PSK) berusia belia alias di bawah umur.

Menurut Wakapolres Gorontalo, Kompol Satria Hadits, aktivitas prostitusi ini sudah berjalan selama dua tahun. Polres Gorontalo berhasil menggerebek rumah di Kelurahan Hepuhulawa, Kecamatan Limboto itu pada 22 Januari lalu.

Di dalam rumah ditemukan para gadis berumur belasan tahun. Sementara pemilik rumah berinisial UM alias Uto (36) adalah muncikari dan kini sudah menjadi tersangka.

"Waktu penggerebekan, Tim Opsnal sengaja mendatangi lokasi pukul 00.15 WITA. Saat itu, didapati dua orang perempuan sedang memandu dua orang laki-laki untuk berkaraoke ria, sambil mengkonsumsi minuman keras," ujar Satria dalam jumpa pers di Gorontalo yang didampingi Kasat Reskrim AKP. Muhammad Kukuh, Senin (4/2/2019).

Setelah dilakukan interogasi lebih lanjut, kata Satria, ternyata ada bisnis haram terselubung yang menyatakan UM sebagai dalang dari praktek prostitusi itu. UM adalah orang yang merekrut para PSK dan kemudian dijualnya kepada lelaki hidung belang untuk meraup keuntungan pribadi.

"Tarifnya antara Rp300 ribu sampai Rp800 ribu untuk sekali kencan. Dan sang mucikari mengaku mendapat jatah 50 Ribu dari setiap transaksi.

"Para PSK seluruhnya merupakan warga lokal. Lima dari total tujuh PSK adalah gadis berusia 15 hingga 17 tahun. Rata-rata mereka sudah tidak sekolah," terang Satria sembari memperlihatkan foto-foto para PSK.

Dalam menjalankan bisnisnya. UM, sengaja menyediakan satu kamar di rumahnya sebagai tempat karaoke dan pesta miras. Kemudian, ada satu bilik yang berjarak sekitar 50 meter di belakang rumah yang disulap menjadi "bilik bercinta".

Polisi juga menyita tiga buah ponsel milik UM. Ponsel itu digunakan untuk mengatur transaksi serta menghubungkan PSK dengan para pelanggan.

"Ia (UM) mengenalkan para perempuan kepada para pelanggan, lengkap dengan tarifnya, via seluler ataupun melalui media sosial (terselubung). Dirinya juga memeriksa siapa saja PSK yang siap melayani dan melayani para tamu. UM yang mengurusi para PSK setiap hari, termasuk makan dan membayar kos," kata Satria.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, UM dikenakan pasal berlapis: Pasal 88 Jo Pasal 761 Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, subsider pasal 296 KUHP lebih, subsider Pasal 506 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun kurungan badan.

Ini bukan kasus pertama di Gorontalo. Pada 6 September 2018 lalu, Polda Gorontalo berhasil mengungkap praktik prostitusi berkedok salon dan spa saat melakukan operasi patroli penyakit masyarakat (pekat).

Uniknya, dalam penggeledahan yang dilakukan pihak kepolisian saat itu, tak ada peralatan salon kecantikan dan spa yang ditemukan di lokasi. Di dalamnya justru terdapat satu bilik khusus dan polisi menemukan sejumlah alat kontrasepsi yang masih utuh atau bekas pakai.

Polisi pun mengharapkan peran serta masyarakat untuk memberantas kasus prostitusi ini. Apalagi hampir seluruh kasus yang berhasil diungkap oleh pihak kepolisian berawal dari laporan keresahan masyarakat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR