TERORISME

Polri tangkap 29 orang yang berencana ledakkan bom

Sejumlah anggota polisi dan TNI melakukan olah TKP usai penangkapan terduga teroris di Jalan Nanggewer, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/5/2019).
Sejumlah anggota polisi dan TNI melakukan olah TKP usai penangkapan terduga teroris di Jalan Nanggewer, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/5/2019). | Dokumen /Humas Polres Bogor

Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Negara RI meringkus 29 terduga teroris dalam 17 hari selama bulan Mei 2019. Mereka ditangkap lantaran diduga merencanakan aksi teror dengan ledakan bom saat penetapan hasil pemilu pada Rabu (22/5/2019).

Meski puluhan terduga teroris telah ditangkap, Kepala Divisi Humas (Kadiv Humas) Polri Inspektur Jenderal M Iqbal mengingatkan ancaman teror pada 22 Mei tetap tak boleh dianggap remeh.

Aksi teror mereka menargetkan aparat keamanan dan masyarakat peserta unjuk rasa pada hari penetapan hasil pemilu di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta.

"Para terduga teroris itu ditangkap di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara. Mereka terbagi dalam dua kelompok besar," papar Iqbal di Mabes Polri, di Jakarta Jumat (17/5).

Penangkapan para terduga teroris itu dilakukan sebagai langkah antisipatif Polri. Sebab menilik catatan Global Teror Databese dan tim Lokadata Beritagar.id, sejak awal tahun 2019 hingga 13 Maret 2019, setidaknya terjadi tiga ledakan di Bogor, Jakarta, dan Sibolga (Sumatra Utara).

Sementara secara keseluruhan sejak 1977, telah terjadi 755 peristiwa teror berupa peledakkan bom di sejumlah tempat.

Kali ini Polri menangkap terduga pelaku teror dari dua kelompok besar. Pertama, 18 terduga yang mayoritas ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, pekan lalu. Mereka terlibat dalam pembuatan bom yang dapat diaktifkan dari jarak jauh melalui sambungan Wi-Fi.

Kelompok itu juga telah menyiapkan senjata tajam untuk aksi teror yang direncanakan pada aksi unjuk rasa menyikapi penetapan hasil pemilu pada 22 Mei 2019.

Kedua, 11 terduga ditangkap lantaran terkait dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Bekasi dan pernah ke Suriah untuk bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Kelompok tersebut juga pernah mempelajari pembuatan bom di kamp NIIS di Aleppo, Suriah. Mereka ditangkap di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kelompok JAD, menurut Iqbal, merencanakan teror dengan menyerang kerumunan peserta unjuk rasa 22 Mei dengan memakai bom. "Bagi kelompok ini, demokrasi adalah paham yang tidak sealiran dengan mereka. Jadi, mereka menjadikan rencana aksi massa 22 Mei sebagai target," jelasnya.

Satu dari 29 orang terduga, DY alias Jundi alias Bondan (32), mengungkapkan dirinya memimpin sejumlah anggota kelompok JAD yang akan merencanakan teror pada 22 Mei. Dia mengaku kelompoknya telah menyiapkan bom rakitan yang dapat dikontrol dari jarak jauh.

Mencapai 68 orang

Iqbal lebih lanjut menyebutkan, selama Januari-Mei 2019, Densus 88 Antiteror telah menangkap 68 terduga teroris.

Selama bulan Mei, ungkap Iqbal, Polri menangkap 29 orang. Selain itu, tim Densus 88 Antiteror juga menangkap 4 terduga teroris pada Januari, 1 orang pada Februari, lalu 20 orang pada Maret, dan 14 orang pada April.

Semua terduga teroris yang ditangkap adalah anggota JAD. Penangkapan dilakukan, antara lain di Jakarta, Bekasi, Sibolga (Sumatera Utara), Lampung, Bitung (Sulawesi Utara), serta sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Densus 88 Antiteror pun terus melakukan penyidikan dan pengembangan lanjutan dari semua penangkapan itu.

Menyikapi penangkapan yang dilakukan Polri, Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Indonesia mengeluarkan security alert (peringatan keamanan) kepada seluruh warga negaranya.

"Para pejabat kepolisian Indonesia secara terbuka menyebutkan risiko terorisme yang meningkat terkait finalisasi hasil pemilu dan media telah melaporkan beberapa penahanan warga negara Indonesia terkait terorisme," tulis Kedutaan Besar AS dalam siaran tertulis di laman resminya, Jumat (17/5).

Menko Polhukam Wiranto mengatakan, selama masa pemilu telah terjadi banyak kejadian yang menganggu ketertiban dan keamanan nasional. "Karena ada dinamika kondisi nasional yang perlu terus kita kawal, kondisi nasional yang harus terus kita lakukan langkah antisipasi," ujar Wiranto, Senin (6/5).

Sebagai langkah antisipasi lain, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga merilis Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT).

Langkah itu dilakukan untuk melaksanakan amanat Pasal 28 ayat (1) Undang-undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.

Dalam daftar tersebut terdapat 400 orang terduga teroris dan 89 organisasi yang mewadahi para terduga teroris.

Daftar itu berlaku selama 6 (enam) bulan sejak ditetapkan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: lPen.Pid-DTTOT/818/PN.JKBt tertanggal 17 Oktober 2018 tentang Penetapan Perpanjangan Pencantuman lndividu dan Organisasi sebagai Terduga Teroris dan Organisasi Teroris. (Selengkapnya: File PDF)

Pada Jumat (17/5) sore, Polri kembali menangkap seorang terduga teroris jaringan ISIS di Indonesia. Dia adalah E alias AR (51) yang diamankan tim Densus 88 Polri di Cibinong, Kabupaten Bogor. Sejumlah barang bukti berupa bahan baku pembuat bom disita.

Personel Polri membawa sebuah kontainer berisi barang bukti yang diduga bahan baku pembuatan bom rakitan.
Personel Polri membawa sebuah kontainer berisi barang bukti yang diduga bahan baku pembuatan bom rakitan. | Dokumen /Humas Polres Bogor

Kepala Polres Bogor Ajun Komisaris Besar AM Dicky Pastika Gading mengatakan, penindakan atas terduga teroris ini dilakukan Densus 88. Pihak Polres Bogor hanya memberikan dukungan dan pengamanan tempat kejadian perkara.

Dari pemeriksaan awal di lokasi penangkapan, E diduga pengikut ISIS di Indonesia. "Terduga sudah dibawa Densus 88," sebut Dicky.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR