RADIKALISME

Polwan Bripda Nesti, dua kali ditangkap karena radikalisme

TANGKAP | Bripda Nesti Ode Samili (23; tengah) ketika ditangkap Densus 88 Antiteror di Yogyakarta, Kamis (26/9/ 2019).
TANGKAP | Bripda Nesti Ode Samili (23; tengah) ketika ditangkap Densus 88 Antiteror di Yogyakarta, Kamis (26/9/ 2019). | Abdul Fatah /Antara Foto

Dua kali Brigadir Polisi Dua (Bripda) Nesti Ode Samili ditangkap oleh korpsnya sendiri karena dugaan terpapar paham radikalisme. Perempuan 23 tahun itu diduga bertaut dengan Abu Zee Ghurobah dari kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi.

Terakhir, Kamis 26 September lalu, Densus 88 Antiteror menangkap Nesti di Yogyakarta, DIY. Versi lain menyebutkan Nesti ditangkap Rabu (2/10/2019) di Surakarta, Jawa Tengah.

Identitas palsu

Sebelumnya, Mei lalu, Densus 88 menangkapnya di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Alasan penangkapan antara lain juga karena dia meninggalkan tugasnya di Polda Maluku Utara, Ternate, tanpa izin. Bahkan dia menggunakan identitas palsu.

Setelah itu Polda Jatim mengirim si polwan ke Polda Malut "untuk dibina". Ternyata dia tetap berhubungan dengan kelompok teroris.

Kabag Penum Biro Penmas Divisi humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di, Jakarta, Rabu (9/10/2019), di Jakarta, menyatakan, "[...] terpaparnya sudah begitu dalam, ditandai dengan yang bersangkutan aktif terafiliasi dengan JAD."

Dua hari sebelumnya, Asep mengatakan, "Sedang didalami apa dia memaparkan ke anggota yang lain."

Dari medsos

Menurut polisi, dari hasil pemeriksaan, entah di mana, dapat disimpulkan bahwa Nesti tertulari radikalisme dari media sosial.

Adapun penangkapan terakhir — entah di Yogya, entah di Solo — itu terjadi setelah Densus 88 mencokok Wawan Wicaksono, terduga teroris, di Salatiga, Jateng.

Polri masih melakukan pemeriksaan internal, dan nantinya Komisi Etik akan menyidangkan. Jika terbukti terpapar radikalisme secara mendalam, komisi akan merekomendasikan pemberhentian Nesti dengan tidak hormat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR