SATWA LANGKA

Populasi menurun, status orangutan terancam punah

Satu dari dua individu Orangutan bernama Novi mengintip dari balik kandang saat akan dibawa untuk dilepasliarkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (3/11/2018).
Satu dari dua individu Orangutan bernama Novi mengintip dari balik kandang saat akan dibawa untuk dilepasliarkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (3/11/2018). | HO/Heri-Center for Orangutan Protection /ANTARA FOTO

Populasi orangutan menurun drastis selama 20 tahun terakhir. Beberapa spesies termasuk orangutan Kalimantan kini menyandang status kritis lantaran ulah manusia.

Data International Union for Conservation of Nature (IUCN), mencatat setidaknya tiga spesies orangutan yang populasinya menurun. Yakni orangutan Sumatra (Pongo abelii), orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Ketiganya masuk dalam daftar merah IUCN dengan status kritis (critically endangered) alias ‘sangat terancam punah’.

Berlandaskan data itu, pakar orangutan Universitas Indonesia Rondang Siregar menyatakan orangutan Kalimantan adalah populasi paling anyar yang menyandang status kritis.

"Dulu kita bisa bilang Kalimantan masih aman. Populasinya antara 35.000-55.000. Tapi setelah survei naik lagi (keparahannya), sekarang sama dengan Sumatra, kritis," ujarnya (3/7).

Pada 2018, Manager Perlindungan Habitat Center for Orangutan Protection (COP), Ramdhani, memang menyebut status orangutan Kalimantan masih tergolong genting. Belum seserius orangutan Sumatra yang tinggal selangkah lagi menuju punah.

Pernyataannya didukung hasil kajian Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2016 yang dihelat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Menurut PHVA, dari perkiraan 71.820 orangutan di Pulau Sumatera dan Borneo yang tersebar dalam 52 meta populasi di habitat seluas 17.460.000 hektare, mayoritasnya bernaung di Kalimantan.

Terdapat 57.350 orangutan Kalimantan di habitat seluas 16.013.600 hektare, dengan sub-spesies terbanyak yaitu Pongo pygmeaus wurmbii (38.200 ekor). Sementara orangutan di Sumatra hanya berjumlah 14.470 ekor.

Namun, jika diperinci lagi antara jumlah populasi seluruh orangutan dengan total luasan habitatnya (dalam km persegi), maka akan terlihat bahwa hasil rasionya berbanding jauh—di bawah nilai 1.

Singkatnya, spesies orangutan terbanyak di Kalimantan maupun Sumatra sekalipun, masih akan sulit ditemui dalam 1 km persegi habitat asalnya.

Kelangkaan seperti itu, ditambah sifat alami orangutan yang pemalu, membuat pendataan populasi orangutan tak pernah mencapai angka valid. Para periset hanya mampu memperkirakan populasinya berdasarkan jumlah sarang yang tersebar di hutan.

Pemantauan sarang, walau bukan patokan menentukan jumlah, bisa digunakan untuk menentukan pengurangan atau peningkatan populasi.

Satu studi besar yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada Februari 2018, mengungkap perkiraan 148.500 orangutan telah lenyap selama 16 tahun terakhir—periode penelitian tahun 1999-2015.

Menurut peneliti, kehilangan tersebut merupakan penurunan 53 persen dari populasi.

Meski menurun. Maria Voigt, penulis utama studi yang juga peneliti di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Jerman, mencatat keberadaan orangutan sebetulnya masih lebih banyak dari perkiraan, dan tak akan betul-betul punah dalam waktu dekat.

Dalam studi, ia mengaku tak memantau wilayah Malaysia dan taman-taman nasional Indonesia yang populasi orangutannya relatif stabil.

Kendati demikian, ulah manusia tetap menjadi kekhawatiran terbesar pemangkasan populasi orangutan.

Merujuk data CIFOR (Pusat Penelitian Kehutanan Internasional) antara tahun 2000-2017, 6,04 juta hektare hutan tua telah hilang di Kalimantan, turun 14 persen. Sebagian besar lahan hutan ditebang untuk dikonversi menjadi perkebunan industri, selebihnya dijadikan bendungan PLTA.

Akibat habitat orangutan terfragmentasi itu, “Akhirnya keluar dan berkonflik dengan manusia," ujar Rondang.

Mengutip data COP, Ramdhani mengungkap setidaknya 3 kasus pembantaian orangutan Kalimantan sepanjang 2018. Pihaknya juga mencatat konflik berkepanjangan antara manusia dan orangutan kian meningkat. Sampai 2018, tim COP mendata sekitar 25 kasus pembantaian orangutan di Indonesia.

Menurut studi Voight, Kebanyakan warga membunuh orangutan demi membela diri karena ketakutan atau marah.

Perkara lain adalah maraknya perburuan, penyelundupan dan perdagangan liar.

"Dulu harganya Rp 500.000 pas keluar hutan. Kalau sudah di pelabuhan, stasiun, terminal, bisa sampai jutaan. Pasti ada saja," timpal Rondang menegaskan keuntungan yang bisa didapat.

Lantaran perkara serupa, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara, Hotmauli Sianturi (3/7) menyampaikan bahwa satwa liar orangutan Sumatra kini semakin terancam punah.

Padahal, laporan tahun 2017 menyebut ada empat per lima dari populasi orangutan yang hidup liar di luar taman nasional dan kawasan lindung lainnya. Bagaimanapun, kelestarian mereka dilindungi undang-undang.

"Sesuai Pasal 21 ayat (2) huruf (a) Jo Pasal 40 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup," tutup Hotmauli menyusul upaya penggagalan penyelundupan tiga bayi orangutan ke Malaysia akhir Juni silam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR