PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Posisi kasus Andi Arief dalam Pilpres 2019

| Salni Setyadi /Beritagar.id

TANGKIS | Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat (PD), Andi Arief, awal pekan ini (3/3/2019) ditangkap polisi di Jakarta karena menyalahgunakan narkotika (sabu). Itu adalah kasus pidana.

Memang sih, narkotika termasuk kejahatan luar biasa. Sejauh ini (4/3/2019 malam) Andi belum menjadi tersangka. Tapi kasus ini menjadi amunisi bagi pendukung Jokowi. Persoalan menjadi politis.

Lalu apa masalahnya?

  • Kasus narkoba menjadi berita besar jika pemakainya orang terkenal. Bisa artis, bisa politikus. Contoh politikus misalnya Indra J. Piliang (Golkar, kasus 2017) dan M. Hafiz (DPD PAN Batanghari, Jambi, 2018).
  • Andi adalah petinggi partai pendukung salah satu pasangan calon presiden, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Andi dikenal sering bicara keras membela kubu, termasuk menggemakan isu tujuh kontainer surat suara pemilu, Januari lalu. Oleh kubu capres 02, isu ini menjadi insinuatif, mengarah ke capres Joko Widodo - Ma'ruf Amin.
  • Juga pada Januari, Andi pernah mengancam akan menggeruduk rumah sejumlah pendukung Jokowi. "Saya akan geruduk juga dengan baik-baik rumah mereka untuk saya jemput memudahkan tugas polisi. Saya sudah buat tim," katanya.
  • Kubu Jokowi memanfaatkan kasus Andi untuk mengejek kubu seberang. Memang anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Achmad Baidowi, menyatakan prihatin, tapi pendukung lain Jokowi terus menyerang. Misalnya Guntur Romli, anggota TKN dari Partai Solidaritas Indonesia, melalui akun Twitter terverifikasi.
  • Di media sosial kasus Andi menjadi bahan bulan-bulanan lawan. Arsip cuitan Andi digali dan dimunculkan, termasuk permintaan Andi kepada Badan Narkotika Nasional untuk memeriksa lawan politik.
  • Terhadap kasus tertangkapnya Andi, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono malah menyalahkan Jokowi karena gagal memberantas peredaran narkoba.
  • Lantas juru bicara TKN Jokowi, Ace Hasan Syadzily, menangkis, "Pak Arief Poyuono sedang tidak mengigau, kan? Kok Andi Arief yang mengkonsumsi narkoba, Pak Jokowi yang disalahkan."

Begitulah sejumlah kasus yang menimpa kubu Prabowo menjadi bahan serangan politis dari lawan. Perbedaan kasus lain dan kasus Andi adalah motif pelaku.

  • Kasus Ratna Sarumpaet: kebohongan domestik menjadi punya ranah publik, dan kubu Prabowo mengarahkan dugaan penganiayaan (fiktif) sebagai tindakan penguasa — dalam hal ini Jokowi.
  • Kasus Pepes: kampanye hitam emak-emak pendukung Prabowo, yang berisi fitnah terhadap Jokowi — akan melarang azan dan jilbab, serta mengizinkan perkawinan sejenis— memang bagian dari rivalitas capres.
  • Kasus Andi: meski diduga melanggar UU Narkotika, Andi menyalahgunakan narkoba untuk kesenangan pribadi, bukan untuk menyerang lawan.

Pemilihan Presiden 2019 memang sangat emosional. Meneruskan Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017. Selalu ada peluang melakukan serangan balik dari setiap kubu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR