INVESTASI ASING

Potensi investasi dari kunjungan Pangeran UEA

Putra Mahkota Uni Emirat Arab Pangeran Mohammed bin Zayid Al Nuhyan di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Mei 2017.
Putra Mahkota Uni Emirat Arab Pangeran Mohammed bin Zayid Al Nuhyan di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Mei 2017. | Chris Kleponis /EPA

Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MbZ) direncanakan mengunjungi Indonesia pada pekan depan.

Kepastian tanggal sudah dikantongi, namun Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi masih enggan mengumumkannya kepada publik. Retno menuturkan, Pangeran Abu Dhabi itu bakal membawa rombongan “gendut”.

“Rencana kunjungan akan dilakukan minggu depan dengan delegasi yang cukup banyak, menteri yang cukup banyak. Kayaknya bawa pengusaha juga deh,” kata Retno kepada wartawan di halaman Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Pangeran MbZ bersama delegasi bakal bertemu Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Sejumlah kerja sama bakal dibahas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bahkan memastikan tiga kerja sama sudah pasti akan diteken dalam pertemuan itu.

Kepastian penandatanganan kerja sama itu merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Energi dan Perindustrian UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei ke Kantor Wakil Presiden Jusuf Kalla, awal Juli 2019.

Ketiganya adalah kerja sama di proyek pembangunan fasilitas pengolahan minyak atau kilang proyek revitalisasi (Refinery Development Master Plan/RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur.

RDMP Balikpapan merupakan satu dari enam megaproyek kilang yang tengah dibangun PT Pertamina.

Kedua, kerja sama di pengembangan industri petrokimia dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Ketiga, kerja sama dengan PT Pelabuhan Indonesia Maspion di Surabaya, Jawa Timur.

Total nilai investasi dari tiga kerja sama tersebut mencapai $9 miliar AS atau setara Rp125,5 triliun.

Selain tiga proyek tadi, Indonesia juga akan menawarkan 21 daftar investasi lagi ke UEA. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan total nilai investasi itu mencapai $91 miliar AS (setara Rp1.274 triliun).

“Kita sudah siapkan lisnya, ada 21 proyek untuk siapa saja yang datang. Kemarin Jepang juga ditawarkan,” kata Luhut di Kompleks Istana Presiden, Jakarta.

Salah satu proyek yang bakal ditawarkan adalah pengembangan destinasi pariwisata prioritas Indonesia, seperti Sei Mangkei, Simalungun dan Danau Toba (Sumatra Utara) serta Mandalika (Nusa Tenggara Barat).

“Jadi jangan pikir kita ke Cina (Tiongkok) saja, mana saja yang mau datang kita kasih (lis investasi),” tegas Luhut.

Catatan Kementerian Perdagangan, neraca dagang Indonesia dengan UEA sejak 2017 tercatat selalu defisit. Nilai defisit bervariasi, tertinggi pada 2017 dan 2018, turun pada 2018, namun meningkat lagi pada semester I/2019.

Adapun nilai defisit yang tercatat hingga semester I/2019 sebesar $287 juta AS. Defisit berasal dari nilai impor UEA ke Indonesia mencapai $882,5 juta AS, sementara ekspor Indonesia hanya berkisar $594,4 juta AS.

Ekspor tertinggi Indonesia ke UEA disokong nonmigas, sementara impor tertinggi UEA berasal dari sektor migas.

Indonesia memandang Dubai, salah satu kota metropolitan UEA, sebagai hub perdagangan dunia. Karena itu, Indonesia selama ini memanfaatkan peran Dubai untuk peningkatan ekspor produk pertanian dan buah-buahan.

Adapun ekspor komoditi yang digenjot Indonesia berupa suku cadang pesawat, produk dari kayu, batu berharga, makanan jadi, mesin kendaraan bermotor, dan seterusnya. Sementara impor UEA kebanyakannya adalah mesin, minyak bumi, pelumas, alumunium, bahan kimia, dan biji plastik.

Mampir ke Tiongkok

Indonesia bukan negara utama dari lawatan Putra Mahkota Abu Dhabi. Sebelum ke Indonesia, rombongan pangeran bakal mampir ke Tiongkok. Rencananya rombongan bakal tiba pada Minggu, 21 Juli 2019.

Duta Besar Tiongkok untuk UAE, Ni Jian, menyatakan hubungan kedua negara sedang memasuki “masa terbaiknya”. Selain merayakan hubungan diplomatik ke-35 tahun, kunjungan Pangeran MbZ juga untuk membalas kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke UAE, kurang dari setahun lalu.

“Pertukaran kunjungan antara dua pemimpin kita adalah bukti hubungan yang sangat signifikan antara Tiongkok-UEA, sekaligus menandatakan loncatan pada perkembangan hubungan bilateralnya,” ucap Jian, dikutip dari Xinhua.

Tiongkok sudah pasti akan memperdalam program ambisiusnya, Belt and Road Initiative (BRI), yang direncanakan bakal melalui negara-negara Teluk dan Timur Tengah.

Sementara UEA, akan mengumumkan megaproyek pembangunan “kompleks perdagangan” di Dubai, di atas lahan seluas 557 hektare dengan nilai investasi mencapai $1 miliar AS.

Kompleks tersebut bakal terdiri dari area pergudangan dengan sejumlah fasilitas seperti pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan pengembangan re-ekspor produk pertanian, peternakan, dan perikanan.

Perusahaan komoditas Tiongkok, Zheijang China Commodities City Group Co Ltd. bakal mengembangkan sektor penyimpanan dan pengiriman produk Tiongkok dari Zona Bebas Jebel Ali itu.

“Tiongkok adalah negara besar dengan salah satu peradaban tertua di dunia. Mereka telah menjadi mitra komersial utama kami sejak lima tahun terakhir. Kami berniat meningkatkan transaksi dagang antardua negara menjadi $70 miliar AS pada 2020,” tutur Perdana Menteri UEA, Syeikh Mohammed bin Rashid dalam kunjungannya ke Tiongkok, April 2019.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR