Potret lansia Indonesia

Sepasang lanjut usia (lansia) menampilkan tari Joged Bumbung dalam lomba kesenian rangkaian peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Denpasar, Bali, Minggu (26/5/2019). Kegiatan tersebut untuk memotivasi para lansia sekaligus sebagai ajang silaturahmi dalam menyambut Hari Usia Lanjut Nasional.
Sepasang lanjut usia (lansia) menampilkan tari Joged Bumbung dalam lomba kesenian rangkaian peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Denpasar, Bali, Minggu (26/5/2019). Kegiatan tersebut untuk memotivasi para lansia sekaligus sebagai ajang silaturahmi dalam menyambut Hari Usia Lanjut Nasional. | Nyoman Hendra Wibowo /ANTARA FOTO

Dari tahun ke tahun, jumlah orang lanjut usia (lansia) makin banyak. Malah, Indonesia diperkirakan akan mengalami ledakan populasi lansia pada dua dekade awal abad ke-21.

Ini adalah dampak ledakan kelahiran beberapa puluh tahun lalu. Tak hanya itu, berbagai kemajuan di bidang kesehatan juga membuat orang semakin panjang usia.

Semua orang akan tua pada waktunya. Bicara kini, ada beberapa temuan menarik saat menilik kehidupan mereka yang kini sudah berstatus lansia.

Orang berusia 60 sampai 69 tahun masuk kategori lansia muda, usia 70 hingga 79 tahun lansia madya, dan mereka yang berusia 80 sampai 89 tahun masuk kategori lansia tua.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, ada 22,4 juta lansia di Indonesia. Jumlah ini sama dengan 8,69 persen dari seluruh penduduk.

Pada 2045, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan angka populasi lansia di Indonesia diperkirakan mencapai 63,31 juta. Hampir 20 persen dari seluruh penduduk negeri ini.

Perserikatan Bangsa Bangsa pun mengungkap proyeksi tak jauh berbeda. Sekitar 74 juta lansia pada 2050. Atau sekitar 25 persen dari populasi.

Tren ini berlaku global. Laju penuaan populasi di banyak negara berkembang saat ini secara substansial lebih cepat dari yang terjadi di negara maju pada masa lalu.

Akibatnya, kini negara-negara berkembang harus beradaptasi lebih cepat dengan populasi yang menua. Bahkan sering kali pada tingkat pendapatan nasional yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pengalaman negara-negara yang berkembang jauh lebih awal.

Lansia di Indonesia pada 2018 menurut provinsi.
Lansia di Indonesia pada 2018 menurut provinsi. |

Pada 2018, 9,27 persen dari total populasi Tanah Air atau 24,5 juta di antaranya adalah lansia. Baik itu lansia muda, madya, pun tua.

Sebagian besar lansia Indonesia, sebanyak 13,97 persen bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Empat provinsi dengan jumlah lansia tertinggi adalah Jawa Tengah (12,92 persen), Jawa Timur (12,54 persen), Bali (10,96 persen), dan Sulawesi Utara (10,73 persen).

Jogja adalah rumah bagi para lansia. Perhatian terhadap golongan sepuh ditunjukkan lewat berbagai hal, salah satunya Sekolah Lansia Imogiri Bantul.

Dihelat di Aula Klinik Naura Husada Imogiri Bantul, DIY sekolah informal ini mengajak para kakek dan nenek mengembangkan potensi diri. Mereka diajar agar memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, juga keterampilan yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.

Berjuluk kota pelajar, Gelar Budaya Lansia Nasional pertama dihelat pada Oktober 2018. Acara ini diselenggarakan Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia).

"Lansia kerap kali dianggap sebagai beban keluarga dan dinilai tidak produktif. Untuk itu stigma negatif tersebut harus diubah oleh lansia sendiri. Lansia harus bangkit dan didukung oleh masyarakat serta pemerintah sehingga lansia menjadi produktif, bermanfaat, sehat, dan bahagia," urai Sekretaris Daerah DIY, Gatot Saptadi.

Menua adalah hal wajar dan alamiah. Yang jadi masalah, seberapa siap seorang lansia menyongsong hari tua. Demikian pula orang-orang terdekat mereka, keluarga maupun bukan.

Sebab faktanya, jumlah lansia kini semakin besar. Mempersiapkan lansia sehat dan mandiri adalah sebuah tantangan tersendiri. Hal ini penting, agar kelak lansia tidak menjadi beban bagi keluarga, masyarakat, maupun negara.

Lansia hidup bersama cucu.
Lansia hidup bersama cucu. |

Realitas menunjukkan, lansia Indonesia bukan lansia mandiri. Menurut data yang diolah Lokadata Beritagar.id, pada 2018 hanya 9,28 persen yang tinggal sendiri. Sebanyak 27,03 persen lansia tinggal bersama anak, sementara 19,93 persen lain tinggal bersama pasangan.

Uniknya, kebanyakan lansia setidaknya sejak 2014 hingga 2018 paling banyak tinggal seatap dengan generasi ketiga. Mereka diurus oleh cucu.

Persentase lansia yang hidup bersama cucu lebih besar daripada yang hidup bersama anak dan menantu, pasangan, sendiri, maupun lainnya.

Status lansia yang tinggal bersama orang selain keluarga adalah yang paling kecil. Tepatnya 3,75 persen pada 2014, melonjak tiga tahun berikutnya, tapi berkurang drastis pada 2018 hingga hanya 0,58 persen saja.

Artinya, para lansia masih hidup bersama keluarga mereka. Bisa jadi karena makin hari keluarga di Indonesia menyadari pentingnya intervensi perawatan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Dengan pemenuhan kebutuhan lansia secara optimal, termasuk status kesehatannya.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek mengingatkan, kepedulian terhadap kesehatan lansia, adalah perwujudan memberikan jangkauan pelayanan kesehatan yang lebih luas juga hak atas kesehatan bagi semua orang.

Sebab, umumnya orang melalui siklus kehidupan yang sama. Mulai dari masa prahamil, hamil, bersalin dan nifas, bayi, balita, remaja, usia produktif, pra lansia, dan lansia.

"Di setiap tahapan siklus kehidupan, ada intervensi kesehatan yang harus diberikan untuk mewujudkan lansia yang berkualitas," kata Nila.

Belajar dari lansia masa kini, sudah selayaknya orang muda berusaha untuk tetap sehat, bugar, dan berdaya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR