PPN rokok naik, pabrik terancam gulung tikar

Pekerja menata keranjang berisi tembakau rajangan di gudang tembakau PT Gudang Garam, Bulu, Temanggung, Jateng, Kamis (3/9/2015). Dua pabrikan rokok besar masing-masing PT Gudang Garam menyatakan tahun ini akan membeli 8.500 ton tembakau dan PT Djarum akan membeli 4.500 ton tembakau.
Pekerja menata keranjang berisi tembakau rajangan di gudang tembakau PT Gudang Garam, Bulu, Temanggung, Jateng, Kamis (3/9/2015). Dua pabrikan rokok besar masing-masing PT Gudang Garam menyatakan tahun ini akan membeli 8.500 ton tembakau dan PT Djarum akan membeli 4.500 ton tembakau. | Anis Efizudin /ANTARAFOTO

Kementerian Keuangan telah menerbitkan aturan terkait kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) atas produk hasil tembakau. Kenaikan tersebut sebesar 0,3 persen dari sebelumnya 8,4 persen menjadi 8,7 persen dari harga jual eceran.

Menanggapi aturan tersebut, Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan telah menerima keluhan dari para pelaku industri rokok dalam negeri terkait kenaikan PPN rokok yang mulai berlaku di 2016 mendatang.

Dikutip dari laman Liputan6.com, Saleh mengatakan kenaikan PPN ini dinilai hanya semakin memberatkan industri setelah sebelumnya pemerintah juga berencana menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen di tahun depan.

Soal angka ideal untuk kenaikan cukai, Saleh mengatakan, mungkin lebih baik berada pada kisaran 10 sampai 12 persen, namun hal ini nantinya akan dihitung secara bersama.

"Ini akan berdampak mereka akan kesulitan dan pada akhirnya mereka akan semakin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam hal ini seperti produktivitasnya menurun lalu lama-lama menjadi PHK," kata Saleh di Kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta, Selasa (29/9/2015).

Saleh menambahkan, meski belum mengetahui lebih jelas, namun berdasarkan informasi yang ia terima, kenaikan cukai akan berlaku umum, dan tidak hanya diperuntukan bagi industri yang bahan bakunya impor.

"Kami sudah kirim surat ke Kemenkeu. Kami juga menerima teman-teman industri intinya mereka agak sedikit keberatan setelah target kenaikan cukai itu terlalu tinggi, tentu PPN ini akan menyulitkan industri rokok yang ada terutama indutri yang kecil, nanti bisa terjadi PHK besar lagi," kata Saleh seperti yang diwartakan Sindonews.com.

Pemerintah menargetkan cukai hasil tembakau naik 23 ppersen menjadi Rp148,85 triliun di 2015. Hal ini banyak menimbulkan kritik karena dianggap memberatkan dunia usaha di tengah melemahnya kondisi ekonomi.

Hasan Aoini Aziz, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia, dampak dari keputusan untuk menaikkan cukai rokok harus diantisipasi oleh pemerintah. Kesulitan yang dialami oleh industri pasti juga dirasakan oleh para pekerja.

Sebab pada tahun 2014 saja ketika pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 7 persen, sudah tercatat ada 10.000 tenaga kerja industri rokok yang terkena PHK.

Tak hanya itu, sejak 2010 sampai dengan 2014, sudah ada 999 pabrikan rokok yang gulung tikar, di mana hal ini juga berdampak kepada banyaknya pemutusan hubungan kerja. "Tentu kami tidak ingin hal ini terulang lagi," katanya kepada Kontan.co.id.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR