INDUSTRI PERTAMBANGAN

Produksi Pertamina di Blok Mahakam melampaui Total

Lokasi eksplorasi minyak dan gas di Blok Mahakam, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Kamis (27/6/2019).
Lokasi eksplorasi minyak dan gas di Blok Mahakam, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Kamis (27/6/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menjadi pusat perhatian setelah menguasai wilayah kerja Blok Mahakam di Kalimantan Timur (Kaltim) sejak Januari 2018. Cucu usaha Pertamina ini mengambil alih operator lama, Total E&P Indonesie (TEPI) yang menguasainya 50 tahun.

"Mayoritas wilayah kerja di Kaltim memang sudah tua usianya di atas 50 tahun," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Kalimantan dan Sulawesi, Syaifudin, Kamis (27/6/2019).

Syaifudin mengatakan, realisasi lifting minyak di Blok Mahakam sebesar 39.695 BOPD pada kurun Januari hingga Mei 2019. Setali tiga uang nasib lifting gas pun melorot drastis dari harapan pemerintah sebesar 664 MMscfd.

Lifting PHM memang masih di bawah harapan pemerintah. Padahal blok migas ini menjadi primadona nasional dengan asumsi produksi 48.271 BOPD kondensat dan 1.110 MMscfd gas.

Namun, faktanya dalam setahun ini produksi mengalami penurunan karena minim temuan sumur baru. Meski begitu, produksi migas PHM semester pertama masih mendominasi di antara kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Kaltim.

Total lifting minyak Kaltim sebesar 69.876 BOPD dengan detail kontribusi PHM 57 persen, PHKT 11,55 persen, PHSS 9,78 persen, PEP Kaltim 6,47 persen, Chevron Makassar 1,5 persen, dan Chevron Rapak 1 persen.

Adapun lifting gas Kaltim mencapai 1.434 MMscfd dari kontribusi PHM 46 persen, Eni Muara Bakau 42 persen, PHSS 5 persen, Chevron Rapak 4 persen, dan PHKT 3 persen.

Syaifudin pun mengapresiasi kemampuan PHM dalam mengendalikan penurunan produksinya. Menurutnya, bukan perkara gampang mengelola wilayah kerja migas tua yang membutuhkan penanganan intensif.

"Kami menghargai usaha yang sudah dilakukan PHM selama setahun terakhir," ujarnya.

Bahkan operator lama Blok Mahakam pun, kata Syaifudin, dibuat terkejut dengan produksi stabil di bekas wilayah kerjanya. Faktanya memang kurva realisasi lifting PHM lebih baik dibandingkan asumsi laporan TEPI pada tahun sebelumnya.

"Para bule itu terkejut dengan lifting PHM ini. Kurva penurunan produksinya lebih baik dibandingkan milik mereka," ungkapnya.

PHM dalam proses optimalisasi pengembangan Lapangan Tunu guna peningkatan cadangan produksinya. Target perusahaan mampu mengebor sebanyak 250 sumur selama lima tahun ke depan.

"Pencapaian pengeboran PHM sebanyak 42 sumur selama 1,5 tahun," tutur Syaifudin.

Di sisi lain, manajemen PHM, Pertamina Hulu Indonesia, hingga Pertamina pelit komentar soal produksi Blok Mahakam. Mereka bertiga kompak saling melempar jawaban dari pertanyaan wartawan.

"Seluruh kebijakan pemberitaan ditangani PHI maupun perseroan," kata Head of Communication Division PHM, Handri Ramdhani.

Demikian pula pernyataan Manager External Communication Pertamina, Arya Dwi Paramita. "Nanti saya hubungi pihak PHM dulu, atau sore nanti diberi jawaban," tuturnya.

Sudah setahun belakangan ini mereka berjuang menahan laju penurunan produksi lewat operasi surface dan subsurface. Program ini sudah sepengetahuan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi.

PHM mengandalkan lapangan tua seperti Handil, Tunu, Bekapai, Tambora, Peciko, Sisi dan Nubi. Ibarat istilah tua-tua keladi, produksi lapangannya menjanjikan.

Di satu sumur lapangan Handil mencatat produksi 1.057 BOPD kondensat dan 2,6 MMscfd gas. Handil adalah lapangan tua yang ditemukan sejak tahun 1974.

Lapangan ini mencatat total produksi 900 juta barrel minyak berikut 1,9 Tcf gas. Temuan lapangan ini menjadi masa keemasan TEPI memanen migas Blok Mahakam.

Sekarang ini, produksinya kisaran 18.207 BOPD kondensat dan 11,5 MMscfd gas. Produksi berasal dari 107 sumur hidrokarbon aktif, 4 sumur water producer, dan 13 sumur water injector.

Sumur tua memanfaatkan teknologi injeksi air, gas, pengangkatan buatan (artificial lift), dan electrical submersible pump. Itu akibat penurunan tekanan reservoir yang berdampak negatif terhadap produksi migas.

Demikian pula sumur Bekapai yang merupakan lapangan tertua cikal bakal Blok Mahakam. Eksplorasi di sini mulai dilakukan sejak tahun 1970.

Setelah puluhan tahun, PHM memberi perlakuan khusus dengan mendatangkan fasilitas pengeboran lepas pantai. Kedatangan rig Hakuryu 14 ini untuk mengebor sumur baru berikut lapangan tua lainnya.

SKK Migas Kalimantan Sulawesi memaklumi peliknya penanganan eksploitasi sumur migas tua. Bila produksi terus turun, biaya perawatan dan pengelolaannya justru naik.

"Ibarat sebuah balon gas di mana tekanannya semakin berkurang. Sehingga diperlukan berbagai perawatan agar potensi migasnya bisa terus dipanen," ujar Syaifudin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR