INDUSTRI PONSEL

Produksi ponsel lokal bergairah seiring impor melemah

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kiri) saat verifikasi partai politik bersama KPU dan Bawaslu di Jakarta, Senin (29/1/2018).  Airlangga menyatakan produksi ponsel Indonesia menembus 60 juta unit.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kiri) saat verifikasi partai politik bersama KPU dan Bawaslu di Jakarta, Senin (29/1/2018). Airlangga menyatakan produksi ponsel Indonesia menembus 60 juta unit. | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Produksi telepon seluler dalam negeri makin bergairah seiring impor makin diperketat. Kementerian Perindustrian mencatat, pada 2017 impor ponsel turun menjadi 11,4 juta unit, sedangkan produksi ponsel di dalam negeri tembus 60,5 juta unit.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, meningkatnya produksi ponsel di Indonesia, antara lain karena penciptaan iklim usaha yang kondusif. "Serta kebijakan hilirisasi dan pengoptimalan komponen lokal sehingga lebih banyak memberi nilai tambah," kata dia seperti dilansir di situs Kemenperin, Sabtu (17/2).

Airlangga menguraikan, pada 2013, impor ponsel mencapai 62 juta unit dan produksi dalam negeri sekitar 105 ribu. Pemerintah lantas mengeluarkan regulasi agar mendorong produktivitas dalam negeri dan mengurangi impor.

Hasilnya, pada 2014 impor ponsel turun sedikit jadi 60 juta unit. Sementara itu, produksi ponsel dalam negeri tumbuh signifikan menjadi 5,7 juta unit.

Selang setahun kemudian, impor ponsel 40 persen, menjadi 37 juta unit. Sebaliknya produksi dalam negeri melonjak 700 persen menjadi 50 juta unit untuk 23 merek lokal dan internasional.

Tahun 2016, impor ponsel makin susut 36 persen menjadi 18,5 juta unit. Produksi dalam negeri sebaliknya, meningkat 36 persen menjadi 68 juta unit.

Tahun 2017, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2017 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam, dan Komputer Tablet

Aturan ini membuat banyak produsen ponsel global memproduksi ponselnya di Indonesia.

"Tahun 2017, impor ponsel turun menjadi 11,4 juta unit, sedangkan produksi ponsel di dalam negeri 60,5 juta unit untuk 34 merek, 11 di antaranya adalah ponsel merek lokal," kata Airlangga.

Merek-merek lokal itu adalah SPC, Evercoss, Elevate, Advan, Luna, Andromax, Polytron, Mito, Aldo, Axioo, dan Zyrex

Ponsel selundupan juga diberantas

Guna mengurangi peredaran ponsel ilegal dari pasar gelap, pemerintah bakal mengontrol ponsel di pasaran dengan memvalidasi database nomor identitas asli ponsel (International Mobile Equipment Identity/IMEI).

"Pada April nanti, data IMEI ini sudah terkonsolidasi. Kami telah bekerja sama dengan Qualcomm dan akan didukung oleh Kominfo," ujar Airlangga di Kantor Bea Cukai, Jakarta, Kamis (15/2/2018) seperti dikutip dari Merdeka.com.

Nantinya, ponsel dengan IMEI yang tak terdaftar, tak bisa digunakan di Indonesia.

Airlangga mengatakan, sistem kontrol IMEI sangat dibutuhkan di Indonesia. Sebab, dengan jumlah pengguna ponsel di Indonesia yang banyak menjadi pasar empuk bagi pemasok barang ilegal, yang kemudian sangat merugikan bagi masyarakat dan industri lokal.

Kementerian mengutip laporan laporan e-Marketer mengungkapkan, pengguna aktif ponsel cerdas di Indonesia akan tumbuh dari 55 juta orang pada tahun 2015 menjadi 100 juta orang tahun 2018.

Dengan jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, ponsel ilegal yang dijaring secara nasional pada periode 2017-2018 sebanyak 20.545 unit dari 1.208 kasus. Nilai barang selundupan ini lebih dari Rp59,6 miliar dengan potensi kerugian negara lebih dari Rp10,3 miliar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR