INVESTASI ASING

Produsen mainan Tiongkok bersiap bikin pabrik di Indonesia

Foto ilustrasi. Seorang perajin menunjukkan mobil mainan yang dimodifikasi bergambar logo klub sepak bola di desa Singocandi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (18/6/2019).
Foto ilustrasi. Seorang perajin menunjukkan mobil mainan yang dimodifikasi bergambar logo klub sepak bola di desa Singocandi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (18/6/2019). | Yusuf Nugroho /Antara Foto

Menyusul wacana perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), Tiongkok berencana melakukan ekspansi niaga ke negara lain --termasuk Indonesia. Satu di antaranya adalah dengan melakukan investasi pabrik mainan di Indonesia.

Perkembangan itu disampaikan Ketua Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas di Jakarta, Jumat (12/7). Setidaknya ada dua investor yang ingin membuat kereta bayi (baby stroller) dan mainan kayu.

Sutijadi, dalam Kumparan.com, menjelaskan dua investor itu sekarang sedang mencari lahan untuk pabrik dengan harga Rp30-40 ribu per meter persegi. Padahal harga penawaran di Indonesia adalah Rp50 ribu per meter persegi.

Calon investor pembuat kereta bayi siap menanamkan modal maksimal Rp40 miliar untuk pembangunan pabrik. Sementara perusahaan mainan kayu menyiapkan dana Rp100 miliar karena ingin memiliki 10 pabrik, terutama di Jawa Tengah.

Seluruh calon investor ini ingin produknya juga diekspor. Produsen kereta bayi, misalnya memiliki pasar di AS senilai Rp124 miliar dengan jumlah kiriman hingga 70 kontainer.

Itu sebabnya produsen kereta bayi ingin memiliki pabrik di kawasan berikat. Sedangkan perusahaan mainan kayu ingin dekat dengan bahan baku.

Realisasi investasi ini, termasuk dengan menggandeng mitra lokal untuk keperluan sharing knowledge, diharapkan segera terjadi dan mulai beroperasi pada 2020.

Rencana kepindahan mereka ke Indonesia dilandasi fakta tarif masuk ke pasar AS yang cukup signifikan. "Mereka terbentur tarif 25 persen yang dikenakan pada barang-barang Tiongkok yang dikirim ke AS," ujar Sutijadi dilansir Bisnis.com, Minggu (7/7) lalu.

Namun, rencana kehadiran mereka bukan cuma itu. Pasar mainan di Indonesia pun cukup besar.

Itu sebabnya, lanjut Sutijadi dalam Kontan.co.id, ada pula pabrikan playgrounds dan dot bayi asal Tiongkok yang ingin masuk ke Indonesia. Sutijadi menegaskan, misalnya, kebutuhan mainan untuk taman kanak-kanak atau sekolah pendidikan anak usia dini (paud) memang belum berhasil dipenuhi.

"Memang kebutuhan mainan (sekolah) paud sangat besar, tapi kualitas di sini tidak standar SNI. Tapi bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan paud," katanya.

Indonesia adalah satu dari sedikit pasar besar mainan anak. Bila melihat laju pertumbuhan penduduk, data yang dilansir Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), ada 4,2 hingga 4,8 juta bayi baru lahir di Indonesia per akhir 2018.

Sejumlah produsen mainan dunia memang memiliki pabrik di Indonesia dengan dua target; memudahkan ekspor dan mendekati pasar lokal. Produsen boneka Barbie, Mattel --satu dari 10 produsen mainan terbesar di dunia, sudah lebih dari 25 tahun punya pabrik di Indonesia.

Per 2017, menurut laporan The Jakarta Post, Mattel Indonesia memproduksi dua juta unit mainan per pekan --termasuk boneka Barbie. Dari pabriknya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Mattel mengekspor mainan hingga $150 juta AS per pekan.

Adapun karena pasar yang besar di dalam negeri, AMI pun menggelar pameran mainan yang diklaim terbesar di Asia Tenggara. Pameran bertajuk internasional itu akan digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada pekan depan (18-20 Juli 2019).

Pameran tahunan ini rencananya digunakan AMI untuk menggaet investor, baik secara keseluruhan atau bagian mesin. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun menegaskan bahwa industri mainan memberi kontribusi cukup bagi pertumbuhan manufaktur dan perekonomian Indonesia.

"Ekspor komoditas mainan sepanjang 2018 mencapai $381,2 juta AS, naik 16,57 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai $347 juta AS,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih.

Kemenperin ingin pabrikan mainan lokal Indonesia juga perlu meningkatkan daya saing untuk eskpor. Kemenperin pun terus melakukan pendampingan, melayani kemudahan fasilitas impor tujuan ekspor, dan menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Sejumlah perajin mainan tradisional mengeluhkan SNI ini, tapi menurut Kemenperin itu dibutuhkan untuk melindungi pasar dalam negeri. SNI juga menjadi hambatan bagi pabrikan mainan dari luar Indonesia.

Selama ini, jika mainan itu impor, pabrikan harus mengundang petugas survei dari Indonesia ke negara produsen untuk mendapatkan penilaian dan SNI dengan menanggung biaya perjalanannya secara penuh.

“Bahkan, dalam upaya melindungi produk dan pasar dalam negeri serta menghindari gempuran produk impor yang tidak berkualitas, pemerintah menerapkan pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) mainan anak secara wajib,” kata Gati.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR