PENDIDIKAN TINGGI

Profesor asal Korsel jadi rektor asing pertama di Indonesia

Menristekdikti RI  Muhammad Nasir berbicara saat meresmikan Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, Rabu (13/2/19).
Menristekdikti RI Muhammad Nasir berbicara saat meresmikan Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, Rabu (13/2/19). | Kahfie Kamaru /Antara Foto

Rencana pemerintah mengundang rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi mulai terealisasi. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengenalkan profesor asal Korea Selatan (Korsel)bernama Jang Youn Cho sebagai rektor asing pertama di Indonesia.

Perkenalan tersebut dilakukan di sela Pembukaan Kegiatan Ilmiah dan Rakornas Inovasi 2019 di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Bali, Senin (26/8/2019). Cho akan menjadi rektor Universitas Siber Asia --lembaga pendidikan pertama yang sistem pendidikannya berbasis daring (online) berkolaborasi dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

"Pertama kali rektor asing yang masuk di Indonesia yaitu di Universitas Siber Asia yang diselenggarakan Universitas Nasional Jakarta, universitas ini (merupakan yang) pertama kali berbasis online," kata Nasir dikutip dari detikcom, Senin (26/8).

Chou dinilai mempunyai rekam jejak yang bagus. Ia mempunyai pengalaman di dua universitas berbeda negara. Ia merupakan mantan rektor Fakultas Siber dan Program Pascasarjana di Universitas Hankuk, Korsel, dan pernah tinggal di Amerika Serikat (AS) selama 17 tahun.

Dikutip dari laman resmi Universitas Nasional (Unas), Chou kembali ke Korsel pada 1997, tepat setelah krisis keuangan melanda Asia.

Pada 1997 hingga 1998, dia menjabat Wakil Ketua Pendiri Dewan Standar Akuntansi Korsel. Badan ini merupakan badan pengaturan akuntansi di Korsel yang meletakkan dasar transparansi yang lebih baik dalam standar akuntansi Korsel.

Ada tiga bidang penelitian yang menjadi fokus Profesor Cho, yakni penilaian dan analisis bisnis, kinerja penghasilan, serta akuntansi internasional.

Profesor Cho pernah dinominasikan sebagai profesor terbaik selama sepuluh tahun terakhir di Universitas Nebraska-Lincoln, AS. Profesor Cho juga dikenal sebagai guru besar pendidikan online pertama di Korea. Dia juga membuka program MBA Cyber ketika masih menjabat dekan Graduate School of Business.

Indonesia dan Korsel memang sudah menandatangani perjanjian kerja sama dalam pengembangan universitas siber. Dikutip dari Kompas.com, kerja sama tersebut dilakukan antara Kemenristekdikti dengan Kementerian Iptek, Teknologi Informasi dan Komunikasi Korsel saat Nasir mengunjungi negara itu pada Maret lalu.

Nasir meyakini ke depan Indonesia dan Korsel dapat mengembangkan kerjasama bilateral dalam pengembangan Science and Technology Park(STP), riset bersama dengan tematik program yang akan disepakati kemudian.

Dongkrak kualitas pendidikan

Nasir mengatakan pengadaan rektor asing ini bukan lantaran tidak adanya rasa nasionalisme. Namun, pengadaan rektor asing ini dilakukan untuk mendorong kualitas universitas di Indonesia agar setara dengan universitas di luar negeri.

Dia berharap banyak dengan adanya rektor asing ini. Chou dituntut bisa memajukan mutu pendidikan di Indonesia agar setara dengan internasional.

"Targetnya adalah meningkatkan APK (Angka Partisipasi Kasar), mutu menjadi baik dan daya saing di tingkat internasional. Harapan saya, karena ini di Asia, mahasiswanya tidak hanya dari Indonesia saja dan ini ada permintaan dari ASEAN sendiri, Asia Barat, maupun di Afrika," tutur Nasir.

Namun, pengadaan rektor asing ini masih dalam tahap percobaan. Rektor asing baru akan dilakukan di beberapa kampus swasta. Untuk kampus negeri, Kemenristekdikti sedang melakukan rancangan yang matang. Nasir ingin rektor asing bisa berjalan di kampus negeri jika memungkinkan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

"Untuk PTN kami masih memperbaiki peraturan-peraturan yang terkait. Harapan saya mereka bisa berkolaborasi juga untuk meningkatkan kualitas," tandasnya.

Sebelumnya,Presiden Joko "Jokowi" Widodo menginstruksikan Kemeristekdikti agar menyiapkan instrumen regulasi untuk memuluskan wacana rekrutmen rektor dan dosen asing di perguruan tinggi Indonesia.

Dengan membuka pintu bagi rektor asing, pemerintah setidaknya menargetkan peringkat universitas di Indonesia bisa masuk 100 besar dunia. Selain itu, dengan rektor impor, menurut Nasir rakyat Indonesia akan lebih dekat dengan pendidikan tinggi yang berkualitas dunia.

Sebab, selama ini sebagian masyarakat Indonesia harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan tinggi terbaik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR