LITERASI

Program kirim buku gratis tak jadi dihentikan

Sejumlah pelajar membaca buku perpustakaan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (8/11/2018). Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Batang mengkampanyekan budaya membaca menggunakan perpustakaan mobil keliling di setiap sekolah setiap hari agar minat baca anak sejak usia dini dapat terjaga.
Sejumlah pelajar membaca buku perpustakaan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (8/11/2018). Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Batang mengkampanyekan budaya membaca menggunakan perpustakaan mobil keliling di setiap sekolah setiap hari agar minat baca anak sejak usia dini dapat terjaga. | Harviyan Perdana Putra /Antara Foto

Hanya tiga hari setelah diputuskan untuk dihentikan karena kekurangan dana, program kirim buku gratis (free cargo literacy/FCL) lewat PT Pos Indonesia (Persero) kembali dilanjutkan.

Keputusan tersebut diumumkan oleh VP Pengembangan Produk Kuris dan Logistik (Bangkurlog) PT Pos, Djoko Suhartanto, dalam surat bernomor 1321/Bangkurlog/1118 tertanggal 15 November 2018, perihal pembatalan penghentian sementara kiriman buku gratis.

Dalam surat itu disebutkan bahwa pembatalan dilakukan setelah Direktur Utama PT Pos Gilarsi Wahju Setijono berkoordinasi dengan kementerian terkait--dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Dengan demikian, program pengiriman buku gratis yang berlangsung setiap tanggal 17 setiap bulannya itu dilanjutkan kembali dengan layanan pos kilat khusus (untuk tujuan pengiriman ke luar Jawa) dan paket pos biasa (untuk tujuan pengiriman dalam Pulau Jawa).

Keputusan PT Pos ini sepertinya diambil setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menghubungi Gilarsi.

"Saya sudah telepon kepada direktur utama [PT Pos Indonesia] supaya tetap, tidak boleh dihentikan," tutur Muhadjir usai membuka Rapat Koordinasi Penataan Guru dan Tenaga Kependidikan di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (15/11), dikutip Bisnis.com.

Mengenai masalah dana yang menyebabkan PT Pos memutuskan menghentikan sementara program tersebut, menurut Muhadjir akan ditutupi menggunakan dana dari Kemendikbud.

Berapa besar dana yang akan ditanggung Kemendikbud, lanjutnya, masih dalam pembahasan dengan PT Pos.

Program pengiriman buku gratis melalui PT Pos sudah berjalan sejak Mei 2017 dan diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Masyarakat bisa mengirimkan buku secara gratis sebanyak-banyaknya lewat PT Pos pada tanggal 17 di setiap bulan. Syaratnya, buku-buku harus dikirimkan ke perpustakaan atau taman bacaan di Indonesia. Beratnya tak boleh melebihi 10 kg dalam sekali pengiriman.

Namun rupanya perusahaan pelat merah itu tidak sanggup lagi menanggung beban biaya pengiriman. Menurut Gilarsi, hingga Oktober 2018, mereka sudah mengeluarkan dana sebesar Rp13,051 miliar, yang telah melebihi dana CSR (corporate social responsibility) PT Pos.

Oleh karena itu, karena sumber pendanaan belum terkonfirmasi, pada 23 Oktober 2018 PT Pos mengeluarkan surat keputusan untuk menghentikan sementara program tersebut.

Gilarsi berharap pemerintah bisa menemukan solusi yang tepat untuk masalah pendanaan ini. Sementara Direktur Hubungan Strategis dan Kelembagaan PT Pos, Noer Fajrieansyah, dikutip Kompas.com, berharap Presiden Joko Widodo bisa mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) sebagai payung hukum program tersebut.

Pengiriman buku secara gratis ini dimaksudkan untuk mendorong tingkat literasi atau minat baca masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah--berbagai survei dan penelitian membuktikan hal tersebut.

Pada 2006, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Menonton televisi paling disukai (85,9 persen), lalu mendengar radio (40,3 persen), sedangkan membaca koran jadi kebiasaan paling buntut (23,5 persen).

Hasil penelitian Central Connecticut State University, Amerika Serikat, pada 2016 mengenai tingkat literasi di 61 negara, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas peringkat buncit, Botswana.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam survei tahun 2017 menemukan bahwa warga Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu dengan durasi 30-59 menit sekali baca. Setiap tahun hanya antara 5-9 buku yang tamat dibaca penduduk Indonesia.

Angka itu jauh di bawah penduduk India yang rata-rata menghabiskan waktu 10,7 jam per minggu untuk membaca buku. Durasi membaca warga India adalah yang tertinggi di dunia.

Kenyataan itu yang mendorong pemerintah untuk menggenjot minat baca masyarakat. Salah satunya dengan program pengiriman buku gratis ke berbagai perpustakaan di Indonesia melalui PT Pos.

Oleh karena itu, banyak pihak yang kecewa ketika PT Pos memutuskan untuk menghentikan sementara layanan tersebut. Komunitas Pustaka Bergerak Indonesia, melalui layanan petisi daring change.org, mendesak pemerintah untuk membantu PT Pos agar program bisa dilanjutkan.

Gayung rupanya bersambut dan program kirim buku gratis kini dilanjutkan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR