PILKADA JABAR 2018

Proses cepat koalisi Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar

Para pengurus Partai Golkar Jabar mengapit Ketua Golkar Jabar, Dedi Mulyadi (keempat kiri), yang memamerkan Surat Keputusan untuk menjadi bakal calon gubernur Jabar 2018-2022 di Bandung, Jabar, Rabu (27/12/2017).
Para pengurus Partai Golkar Jabar mengapit Ketua Golkar Jabar, Dedi Mulyadi (keempat kiri), yang memamerkan Surat Keputusan untuk menjadi bakal calon gubernur Jabar 2018-2022 di Bandung, Jabar, Rabu (27/12/2017). | Novrian Arbi /Antara Foto

Setelah mencabut dukungan dari Ridwan Kamil, Partai Golkar akhirnya menggenapi prediksi. Dukungan untuk mengikuti Pilkada Jabar 2018 diserahkan kepada Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi.

Ketua Pemenangan Pemilu Wilayah Jawa dan Sumatera Partai Golkar, Nusron Wahid, menyerahkan surat keputusan (SK) dan rekomendasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar kepada Dedi di Bandung, Jabar, Rabu (27/12/2017). Artinya, Dedi akan menjadi bakal calon gubernur (bacagub) Jabar dari Golkar tahun depan.

SK juga memberi wewenang kepada Dedi untuk mencari koalisi demi Pilkada Jabar 2018. Dedi mendapat kuasa untuk mencari pasangan sekaligus partai koalisinya.

"Koalisinya harus ada Dedi Mulyadi nomor satu atau nomor dua. Pokoknya harus ada beliau," ujar Nusron dilansir Tribunnews.

Dedi, yang saat ini masih menjabat Bupati Purwakarta, pun tak mau buang waktu. Satu jam setelah resmi ditunjuk Golkar, Dedi langsung mendapatkan pendampingnya.

Wakil Gubernur (wagub) petahana Jabar, Deddy Mizwar (Demiz), langsung digandeng menjadi bacawagub dan Partai Demokrat dijadikan koalisi. Dalam jumpa pers pada Rabu, Dedi menyatakan Golkar dan Demokrat bakal mendaftar ke KPU pada 9 Januari 2018.

Tak pelak pasangan ini akan memiliki brand duo DM--dari inisial nama masing-masing. Dedi pun menjelaskan bagaimana proses koalisi demikian cepat.

Ditulis detikcom, Dedi mengungkap ada ikatan chemistry dengan Demiz. Lantas waktu yang mepet karena pendaftaran sudah dibuka pada 2 Januari 2018, mereka tak membuang waktu.

Meski begitu Nusron dan Dedi belum mau terang-terangan siapa yang akan menjadi cagub atau cawagub. "Siapa pun cagub dan cawagubnya tetap DM. Kan nanti kalau sudah menjabat harus bersama-sama bekerja membangun Jabar," kilah Dedi.

Hal senada disampaikan Wasekjen Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, kepada Medcom.id (h/t Metrotvnews.com). Hingga kini, Golkar dan Demokrat belum menentukan siapa di antara duo DM yang menjadi cagub dan cawagub.

"Akan dibicarakan lebih lanjut, sudah ada pembicaraan ke arah sana. Soal komposisinya seperti apa yang penting kan ada kesepahaman dulu," kata Ace.

Yang jelas, kepastian koalisi Golkar dan Demokrat pun membuat peta persaingan menjadi terang. Demiz pun tak perlu menunggu lama.

Pada Rabu, PKS resmi menolak Demiz dan Demokrat karena memilih duet Mayjen (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu untuk bertarung di Pilkada Jabar. Pasangan ini datang dari koalisi PKS dengan Gerindra dan PAN.

Orang Sunda asli

Pemilihan Sudrajat cukup mengejutkan. Presiden PKS Sohibul Iman menjelaskan bahwa Sudrajat adalah orang Sunda asli. Kebetulan itu adalah satu dari empat syarat PKS untuk memilih sosok cawagub Jabar.

Sohibul pun tak khawatir dengan elektabilitas Sudrajat yang belum mencuat. Sudrajat justru dinilai punya potensi.

"Sudrajat ini asli Sunda perilakunya nyunda bener, untuk pendidikan enggak bisa diragukan pernah di Amerika. Sudrajat mungkin bukan santri, insya allah terima, dan untuk tata krama Pak Sudrajat itu luar biasa sopan, santun bicara teratur," tutur Sohibul.

Sementara Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, mengaku sejak lama mengenal Sudrajat di lingkungan militer. Itu sebabnya Prabowo mengusung Sudrajat sejak 9 Desember. "Beliau juga orang Sunda asli. Dia cerdas karena juga lulusan Harvard dan pernah menjabat sebagai Dubes di Beijing," katanya dikutip Liputan6.com.

Sementara, tinggal Ridwan Kamil alias Emil yang belum ketahuan nasibnya. Setelah ditinggal Golkar, sang Wali Kota Bandung kini hanya punya dukungan dari PPP dan PKB.

Melihat situasi itu, Ketua Umum PPP, Romahurmuziy, pun mendesak Emil agar segera memutuskan siapa bacawagubnya. "Lebih baik segera menyepakati karena tarik menarik di Jabar begitu kencang," ujar Romahurmuziy dalam Kompas.com, Selasa (26/12).

Perubahan koalisi yang demikian cepat ini juga membuat peta elektabilitas bisa berubah seketika. Pada survei-survei terdahulu, Emil berada di urutan teratas apabila bersanding dengan Uu Ruzhanul Ulum.

Namun PKB tak sepakat bila Uu menjadi wacagub. Adapun Dedi dan Deddy yang berada di bawah Emil dalam survei elektabilitas, bisa melompat ke atas setelah kepastian koalisi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR