KECELAKAAN PENERBANGAN

Prospek suram Boeing 737 Max 8 usai dilarang di beberapa negara

Petugas Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi GMF melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-8Max milik Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/3/2019).
Petugas Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi GMF melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-8Max milik Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/3/2019). | Muhammad Iqbal /Antara Foto

Sejumlah negara melarang operasional pesawat Boeing 737 Max 8 menyusul insiden jatuhnya unit yang digunakan maskapai Ethiopian Airlines tujuan Nairobi, Minggu (10/3/2019). Sehari setelah kejadian, Tiongkok menjadi negara pertama yang mengeluarkan larangan terbang. Setelah itu disusul Australia, Ethiopia pada hari berikutnya.

Uni Eropa, Indonesia, Argentina, Korea Selatan, India, Inggris, Uni Emirat Arab (UEA), Meksiko, dan Malaysia turut menambah daftar negara yang melarang pesawat pabrikan Seattle, Amerika Serikat, tersebut melintas di udara. Negara-negara lainnya memilih untuk terus melanjutkan operasional pesawat sembari menunggu hasil penyelidikan atas jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines.

Saat ini ada sekitar 350 unit pesawat Boeing 737 MAX 8 yang beroperasi di seluruh dunia. Beberapa maskapai besar di dunia yang menggunakan pesawat model tersebut antara lain; American Airlines, Southwest Airlines, China Southern Airlines, Turkish Airlines, Garuda Indonesia, Air Canada, China Southern Airlines hingga Air China.

Meski masih terlalu dini untuk menentukan apa yang menyebabkan kecelakaan mematikan pada Minggu lalu, ada kekhawatiran tentang keamanan pesawat 737 Max karena dua kecelakaan yang terjadi dalam setengah tahun terakhir melibatkan model baru dari keluarga 737 Max yang dikirim belum lama ini.

Tipe pesawat tujuan Nairobi, Kenya, itu sama dengan pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh pada Oktober 2018 dan menewaskan 189 orang. Sejumlah pihak menyebut adanya kemiripan antara kedua kecelakaan tersebut.

Alasan itu yang menjadi latar belakang Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) menangguhkan operasi penerbangan pesawat Boeing 737 Max 8 dan Max 9 di Eropa, yang mulai berlaku pada Selasa (12/3) pukul 19.00 GMT.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh lembaga Uni Eropa yang berlokasi di Cologne, Jerman, semua penerbangan komersial seri Boeing 737 MAX yang dilakukan oleh operator negara ketiga yang masuk, di dalam atau ke luar Uni Eropa akan ditangguhkan.

Mengutip CNBC, EASA mengatakan bahwa pihaknya mengambil setiap langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan penumpang, menawarkan bantuan dalam mendukung penyelidikan kecelakaan kecelakaan Ethiopian Airlines.

Indonesia juga mengandangkan pesawat-pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dimiliki maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air. Pemeriksaan pesawat telah dilakukan sejak Selasa (12/3) dan pesawat-pesawat tersebut akan tetap dikandangkan hingga dinyatakan layak terbang oleh badan keselamatan penerbangan.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan larangan terbang tersebut bersifat sementara (temporary grounded) dan akan berjalan selama sepekan. Hasil inspeksi selama grounded itu juga akan diinformasikan ke Boeing.

"Jika tim tidak temukan sesuatu maka bisa terbang kembali, apabila temukan hal yang tidak sesuai yang diharapkan, maka ada suatu keputusan yang harus dilakukan. Kita akan lakukan dalam seminggu," ujar Budi Karya.

Berbeda dengan negara lainnya, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat, mengatakan tidak akan menangguhkan pesawat Boeing 737 Max meskipun ada tekanan dari para senator dan serikat pekerja. FAA justru meyakinkan kepada berbagai maskapai bahwa model pesawat ini laik terbang.

Menteri Transportasi AS, Elaine Chao, berkata bahwa FAA akan segera mengambil langkah yang tepat jika suatu saat ditemukan kecacatan pada pesawat.

Namun langkah FFA tersebut dikritik oleh Presiden FlyersRights.org dan anggota Komite Penasihat Pembuat Aturan Penerbangan FAA, Paul Hudson. Ia meminta pesawat tersebut dilarang terbang.

"Sikap 'tunggu dan lihat' FAA justru membahayakan nyawa serta reputasi keamanan industri penerbangan AS," kata Hudson dikutip dari ABC.

Prospek suram Boeing

Sejumlah pesawat Boeing 737 Max 8 milik Norwegian Air terparkir di Bandara Arlanda Airport of Stockholm, Swedia. Otorita penerbangan Uni Eropa telah menangguhkan operasi penerbangan pesawat model Boeing 737 MAX 8 dan Max 9 di Eropa, yang mulai berlaku pada Selasa pukul 19.00 GMT.
Sejumlah pesawat Boeing 737 Max 8 milik Norwegian Air terparkir di Bandara Arlanda Airport of Stockholm, Swedia. Otorita penerbangan Uni Eropa telah menangguhkan operasi penerbangan pesawat model Boeing 737 MAX 8 dan Max 9 di Eropa, yang mulai berlaku pada Selasa pukul 19.00 GMT. | Johan Nilsson /EPA-EFE

Larangan terbang dari sejumlah otorita penerbangan dunia itu membuat prospek penjualan produsen pesawat tersebut makin suram.

Saham Boeing di indeks Dow Jones, terus turun pada perdagangan Selasa (12/3). Minggu ini saham Boeing telah terjun hingga lebih dari 11 persen, akibat bertambah banyak otoritas penerbangan melarang pesawat Boeing 737 Max terbang. Kini harga saham Boeing hanya $375,1 AS per lembar.

"Larangan terbang untuk 737 MAX oleh otoritas Tiongkok, Indonesia, dan Ethiopia adalah faktor negatif terhadap reputasi Boeing yang bisa berdampak pada penjualan, khususnya jika FAA Amerika Serikat mengikuti keputusan ini dan memberlakukan larangan terbang," ujar Analis Cowen & Co Cai von Rumohr, seperti dikutip ABC.

Ia menilai pelarangan ini pasti akan berujung pada pembatalan penerbangan dalam jumlah signifikan serta gangguan jadwal mengingat maskapai-maskapai yang terpapar harus beralih ke tipe pesawat lain--dengan asumsi pesawat itu tersedia.

Boeing 737 Max adalah salah satu jenis pesawat terpenting Boeing, yang diakui sebagai bagian penting dari upaya perusahaan itu untuk bersaing dengan pesaingnya dari Eropa, Airbus.

Diluncurkan pada 2017, Max 8 adalah produk terbaru dari seri 737. Produk ini menjadi model paling laris yang pernah dijual oleh Boeing. Pada akhir Januari 2019, Boeing telah mengantarkan 350 model dari 5.011 pesanan.

Pesawat yang jatuh di Addis Ababa, Ethiopia, merupakan salah satu di antara enam dari 30 yang telah dipesan Ethiopian Airlines sebagai bagian dari ekspansinya. Pesawat tersebut sebelumnya telah melalui "pengecekan pertama yang ketat" pada 4 Februari.

FAA telah mengeluarkan notifikasi yang meminta Boeing mengubah desain pesawat 737 Max 8 dan memberikan batas waktu hingga April 2019 bagi Boeing untuk menyelesaikan desain baru tersebut.

Dalam suratnya, FAA meminta produsen pesawat terbang itu menyelesaikan peningkatan sistem kontrol penerbangan yang mengurangi ketergantungan terhadap prosedur yang terkait dengan hal-hal yang harus diingat oleh pilot.

FAA juga menyatakan Boeing berencana memperbarui ketentuan pelatihan dan pedoman yang diberikan kepada kru pesawat sesuai dengan perubahan desain menjadi sistem proteksi otomatis yang disebut Sistem Perpanjangan Karakteristik Manuver atau Manoeuvring Characteristics Augmentation System (MCAS).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR