Proteksionisme AS unggul dalam pertemuan menteri keuangan G20

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin.
© Uwe Anspach /AP Photo

Amerika Serikat (AS) berhasil mengubah tradisi yang sejak lama dibangun dalam pertemuan menteri keuangan dan kepala perbankan dari negara-negara G20.

Tak hanya itu, negara di bawah pimpinan Donald J Trump ini juga berhasil membuat malu Jerman sebagai tuan rumah penyelenggaraan konferensi tahunan tersebut.

Pertemuan yang dilangsungkan dalam dua hari (17-18 Maret 2017) di Baden-Baden, Jerman, gagal mencapai kesepakatan.

Para menteri keuangan dan kepala negara yang hadir dalam pertemuan malah meninggalkan komitmen mereka untuk menjaga perdagangan bebas antarnegara tetap terbuka, dan merelakan sikap proteksionisme AS semakin merajalela.

Dalam pertemuan yang banyak disebut sebagai pertemuan "19 melawan 1" itu, AS sama sekali tidak membawa isu-isu penting seperti konsensus yang menargetkan terlaksananya kesepakatan-kesepakatan yang dibutuhkan G20.

"Ini adalah G20 pertama saya, jadi kesepakatan apapun yang sebelumnya terjadi, tidak relevan lagi dengan sudut pandangku," ujar Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dalam salah satu sesi penting dalam pertemuan itu.

Bukan pertama kalinya, sejak Trump memimpin, AS menarik diri dari sejumlah kesepakatan perdagangan antarnegara. Lewat amar eksekutifnya, Trump membatalkan keikutsertaan AS dalam kemitraan Trans-Pasifik (TPP).

Selain itu, Trump juga akan merenegosiasi Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dengan Kanada dan Meksiko dengan bulir-bulir kesepakatan yang lebih menguntungkan negaranya itu.

"Sektor perdagangan kami amat baik, dan seharusnya juga baik bagi negara lain. Menilik kenyataan itu, kami merasa perlu untuk mengkaji ulang sejumlah kesepakatan," ujar mantan eksekutif senior Goldman Sachs itu dalam Reuters.

Menteri Keuangan Jerman, Wolfgang Schaeuble sangat menyayangkan adanya "ketidaksatuan" dalam pertemuan ini. "(Pertemuan) itu sama sekali tidak mempersoalkan bahwa kami menolak proteksionisme," tegasnya.

Namun, Schaeuble mengaku tak bisa berbuat banyak. Sebab, keputusan penuh atas sebuah perdagangan antarnegara bukan berada di tangan menterinya.

Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, yang turut hadir dalam pertemuan, turut menyayangkan sikap para menteri dan pemangku kepentingan lainnya yang begitu saja mengamini kebijakan proteksionisme AS ini.

Bagi Sri Mulyani, kerjasama global di bidang perdagangan dan investasi merupakan instrumen yang terbukti ampuh mengurangi kemiskinan dalam empat dekade terakhir.

Sri Mulyani pun menyinggung tentang komitmen negara G20 untuk menghindari devaluasi nilai tukar yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing produknya dalam perdagangan di masing-masing negara.

Sayangnya, pandangan Sri Mulyani ini tak direspons positif oleh semua perwakilan negara yang hadir. Alhasil, kesepakatan mengenai pentingnya terus menjaga perdagangan dunia yang berdasarkan aturan global pun tidak dapat disepakati.

"Hasil tersebut sangat mengecewakan karena memberikan tanda bahwa aturan yang mengikat secara global tidak lagi menjadi dasar hubungan ekonomi dan perdagangan dunia, artinya negara kuat akan mendikte dan mendominasi hubungan menurut kepentingan mereka sendiri, bukan atas kepentingan bersama," tutur Sri Mulyani dalam keterangan resminya, Minggu (19/3/2017).

Beberapa pihak yang senada dengan Schaeuble dan Sri Mulyani mengusulkan agar isu ini dibawa dalam pertemuan pemimpin negara-negara G20 di Hamburg, Juli nanti.

Penting juga diketahui, dalam pertemuan itu, AS tak hanya menunjukkan sikap proteksionismenya atas kerjasama perdagangan antarnegara, melainkan juga menekankan penolakan atas pengucuran dana untuk proyek-proyek perubahan iklim seperti yang telah disepakati dalam KTT perubahan iklim PBB, di Paris, 2015.

Trump memang pernah menyebut bahwa perubahan iklim adalah kabar bohong (hoax) yang dibuat Tiongkok untuk melemahkan industri AS.

Dan agaknya sikap Trump itu sudah menular ke seluruh kabinetnya. Mick Mulvaney, Direktur Urusan Anggaran Gedung Putih, mengatakan bahwa pendanaan untuk mengatasi perubahan iklim adalah sebuah pemborosan.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.