ILLEGAL FISHING

Provokasi di tengah penangkapan kapal ikan berbendera Malaysia

Foto ilustrasi. Para petugas mengapit sejumlah nelayan asing berkebangsaan Vietnam saat rilis kasus di atas kapal di dermaga Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (20/3/2019).
Foto ilustrasi. Para petugas mengapit sejumlah nelayan asing berkebangsaan Vietnam saat rilis kasus di atas kapal di dermaga Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (20/3/2019). | Jessica Helena Wuysang /Antara Foto

Kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap sejumlah kapal nelayan ilegal di daerah Selat Malaka selama dua pekan terakhir. Namun satu penangkapan terhadap kapal berbendera Malaysia justru disambut oleh provokasi kapal penjaga laut negeri Jiran.

Menurut siaran pers KKP, Rabu (10/4/2019), Kapal Patroli (KP) Hiu Macan Tutul 02 berhasil menghentikan dua kapal berbendera Malaysia di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Selat Malaka pada pukul 09.30 WIB, Rabu (3/4). Masing-masing identitas kapal itu adalah Kapal Motor (KM) PKFB 1852 dan KM KHF 1256.

Dari hasil pemeriksaan, KM PKFB 1852 berukuran 64.71 GT dengan alat tangkap trawl. Kapal diawaki empat orang yang terdiri dari dua orang asal Thailand, termasuk nakhkoda, dan dua orang lain asal Kamboja.

Sedangkan KM KHF 1256 berukuran 53.02 GT dengan alat tangkap trawl diawaki tiga orang berkewarganegaraan Thailand. Kedua kapal tersebut kedapatan menangkap ikan di Indonesia tanpa izin dari pemerintah Indonesia dan menggunakan alat tangkap ilegal.

Selanjutnya kedua kapal dibawa ke Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Belawan di Sumatra Utara untuk menjalani proses hukum oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan.

Namun dalam proses menggiring kedua kapal ke Belawan pada pukul 12.00 WIB, KP Hiu Macan Tutul 02 justru disambangi kapal patroli maritim Malaysia bernama Penggalang 13. Bahkan Penggalang 13 berusaha merapat dan meminta KP Hiu Macan Tutul 02 melepas dua kapal nelayan ilegal berbendera Malaysia.

Turut memprovokasi adalah tiga helikopter tentara Malaysia. Namun para petugas di KP Hiu Macan Tutul tidak menuruti permintaan Malaysia dengan alasan penangkapan dilakukan di 17 mil laut ZEE Indonesia.

Karena negosiasi gagal, pihak Malaysia pun kembali ke perairannya. Sedangkan KP Hiu Macan Tutul 02 beserta dua kapal nelayan ilegal berbendera Malaysia tiba di Belawan pada pukul 21.30 WIB.

Kapal Patroli KKP Nyaris Kontak Senjata dengan Kapal Patroli Malaysia /KOMPASTV

Itu menjadi satu-satunya insiden di tengah dua kali penghentian aktivitas penangkapan ikan ilegal di Selat Malaka dalam dua pekan terakhir. Pada Selasa (9/4), misalnya, penangkapan empat kapal berbendera Vietnam dan dua kapal berbendera Malaysia berlangsung tanpa gangguan.

Penangkapan empat kapal berbendera Vietnam dilakukan di ZEEI Laut Natura Utara oleh KP Hiu Macan Tutul 01. Sedangkan dua kapal berbendera Malaysia ditangkap di ZEEI Selat Malaka.

Penyebab penangkapan pun serupa; tanpa izin dari pemerintah Indonesia dan menggunakan alat tangkap yang dilarang (trawl). Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal PSDKP KKP, Agus Suherman, ada 24 warga negara Vietnam dari empat kapal di Laut Natuna Utara.

Sedangkan dua kapal berbendera Malaysia di Selat Malaka membawa sembilan orang warga negara Myanmar. Mereka dibawa ke Pangkalan PSDKP Batam di Kepulauan Riau, sedangkan empat kapal berbendera Vietnam digiring ke Stasiun PSDKP Pontianak, Kalimantan Barat.

Agus menjelaskan bahwa semua kapal perikanan asing itu diduga melanggar Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp20 miliar.

Total sejak Januari hingga 9 April 2019, KKP telah menangkap 38 kapal perikanan ilegal --10 di antaranya adalah kapal perikanan berbendera Indonesia. "Dari sejumlah kapal ilegal asing yang ditangkap tersebut, 15 kapal berbendera Vietnam dan 13 kapal lainnya berbendera Malaysia," tutur Agus.

Adapun provokasi dari petugas maritim Malaysia ini terjadi di tengah sedikitnya kapal berbendera Malaysia yang kedapatan melakukan penangkapan ilegal di Indonesia. Dari data KKP per Oktober 2014 hingga Agustus 2018, Satgas 115 menangkap 488 kapal perikanan dengan aktivitas tanpa izin.

Seluruhnya sudah ditenggelamkan oleh KKP. Masing-masing Vietnam 276 kapal (terbanyak), Filipina 90 kapal, Thailand 41 kapal, dan Indonesia 26 kapal.

Sedangkan dari insiden pada 3 April, KKP pun meminta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia untuk mengirimkan surat protes kepada Malaysia. "KKP segera mengirim surat permintaan kepada Kemenlu," ujar Agus di Jakarta, Kamis (11/4).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR