PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

Proyek jembatan Balikpapan - Penajam terancam batal

Pelabuhan Kariangau di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang menghadapi langsung dengan Teluk Balikpapan. Dekat lokasi inilah akan dibangun proyek jembatan menuju Penajam.
Pelabuhan Kariangau di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang menghadapi langsung dengan Teluk Balikpapan. Dekat lokasi inilah akan dibangun proyek jembatan menuju Penajam. | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Konsorsium daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) berencana membangun jembatan yang membelah perairan Teluk Balikpapan. Dalam rencana, jembatan itu akan mencapai 6.342 meter sehingga menjadi jembatan terpanjang di Indonesia dengan mengalahkan Jembatan Suramadu (5.438 meter) di antara Surabaya dan Madura, Jawa Timur.

Namun proyek jembatan penghubung Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) ini terancam batal menyusul kenaikan nilai investasi yang harus ditanggung tiga pemerintah daerah. Nilai awal Rp5,6 triliun yang disepakati pada awal melonjak hingga Rp16 triliun.

Proyek ini dimotori oleh Kabupaten PPU pada 2014. Pemkab PPU kemudian membentuk konsorsium bersama Pemprov Kaltim, Pemkot Balikpapan, dan PT Waskita Karya Persero (Tbk) sebagai kontraktor.

Detailnya; Waskita menanggung investasi 60 persen, lalu Pemprov Kaltim 20 persen, Pemkab PPU 15 persen, dan Pemkot Balikpapan 5 persen. Namun, persentase itu seolah tak berarti karena nilai investasi naik drastis dibanding lima tahun yang berpatokan pada biaya pembangunan Jembatan Suramadu senilai Rp5 triliun.

"Kenaikan naik 300 persen dari perkiraan awal," keluh Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, Kamis (24/1/2019).

Kebaikan biaya itu tak lepas dari kajian dan evaluasi studi kelayakan yang dikerjakan Waskita. Artinya, Pemkot Balikpapan harus mengalokasikan dana segar Rp800 miliar sesuai perjanjian konsorsium.

"Ini terlalu berat buat kami, meskipun kewajiban kami hanya 5 persen dari total investasi. Namun bila Rp16 triliun akan menjadi besar juga," ungkap Rizal.

Kenaikan biaya pun pasti bakal berimbas pada biaya perlintasan. Jembatan ini memang dirancang berbayar, tidak gratis, dan tarifnya bisa mencapai Rp250 ribu per sekali lewat.

"Dulu katanya lebih murah dibandingkan tiket kapal feri. Ternyata informasinya akan lebih mahal," ujarnya.

Perahu klotok, moda transportasi andalan masyarakat Kalimantan untuk melintasi antar wilayah yang dibelah perairan.
Perahu klotok, moda transportasi andalan masyarakat Kalimantan untuk melintasi antar wilayah yang dibelah perairan. | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Kapal feri menjadi andalan masyarakat Balikpapan dan PPU yang dibelah Teluk Balikpapan. Tarif feri adalah Rp180 ribu hingga Rp1,5 juta untuk kendaraan roda empat dan sejenisnya.

Namun, jembatan setinggi 50 meter itu akan memangkas waktu perjalanan jadi 20 menit dan bisa pula dijadikan penghubung antara Kaltim dan Provinsi Kalimantan Selatan. Adapun perjalanan dengan kapal feri bisa mencapai tiga hingga empat jam.

Rizal pun berkeras Waskita menghitung kembali komponen yang mempengaruhi perubahan nilai proyek. Kemudian Waskita harus menjelaskan secara detail kepada Pemkot Balikpapan, Pemkab PPU, dan Pemprov Kaltim.

"Bulan ini rencananya akan ada pertemuan dengan Waskita bersama Pemkot Balikpapan dan Pemprov Kaltim. Kita lihat nanti,” ujarnya.

Sejauh ini, Balikpapan belum menentukan titik lokasi kaki jembatan yang berada di area objek vital nasional. Jembatan direncanakan berada dekat kompleks kilang minyak Pertamina, serta rumah dinas Kapolda Kaltim dan Panglima Kodam Mulawarman.

Sementara itu, Pemkab PPU bergeming meski nilai investasi jembatan melambung hingga Rp16 triliun. Sesuai kesepakatan konsorsium, daerah pemekaran ini tentunya harus menyetor Rp3,2 triliun atau 20 persen nilai proyek.

"Jembatan ini sangat penting bagi perkembangan Penajam pada masa datang," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten PPU, Alimuddin.

Alimuddin pun mengatakan Balikpapan merupakan kota dengan pertumbuhan perekonomian tinggi di Kalimantan. Keberadaan jembatan diharapkan memberikan keuntungan bersama dalam setiap sektor.

"Menguntungkan sektor ekonomi, sosial, budaya hingga keamanan dan ketertiban. Beban perekonomian yang sudah berat di Balikpapan, bisa dialihkan ke Penajam," tukas Alimuddin.

Alimuddin tidak menganggap remeh nilai Rp16 triliun. Namun, ia menganggap PPU punya kepentingan yang lebih besar untuk merealisasikan jembatan tersebut. "Kami tetap ingin merealisasikan proyek ini," tegasnya.

Alhasil, kelanjutan proyek Jembatan Teluk Balikpapan berada di persimpangan jalan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pun sedang mengevaluasinya.

"Masih proses evaluasi di PUPR untuk tender dan investor," kata Direktur PT Tol Teluk Balikpapan, Sutopo.

Anak perusahaan Waskita ini menyebutkan, Kementerian PUPR menyoroti kenaikan kebutuhan anggaran. "Ini (anggaran) termasuk kami evaluasi nantinya," ungkap Sutopo.

Kepala Divisi IV Waskita, Norman Hidayat menambahkan bahwa proyek jembatan masih tahap perencanaan divisi investasi. Semuanya dilakukan secara intensif oleh PT Tol Teluk Balikpapan.

"Masih membahas soal investasi, belum soal teknis pembangunan," sebutnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR