PT Pos Indonesia tombok biaya kirim buku gratis Rp15,33 miliar

Pekerja melakukan penataan paket barang yang akan dikirim melalui PT Pos Indonesia (Persero) di Kantor Pos Besar Solo, Jawa Tengah, Sabtu (25/5/2019). Menurut petugas pos setempat pengiriman paket pos sejak April hingga menjelang hari raya Lebaran mengalami peningkatan jumlah sebesar 40 persen dari hari biasa. ANTARA FOTO/Maulana Surya/wsj.
Pekerja melakukan penataan paket barang yang akan dikirim melalui PT Pos Indonesia (Persero) di Kantor Pos Besar Solo, Jawa Tengah, Sabtu (25/5/2019). Menurut petugas pos setempat pengiriman paket pos sejak April hingga menjelang hari raya Lebaran mengalami peningkatan jumlah sebesar 40 persen dari hari biasa. ANTARA FOTO/Maulana Surya/wsj. |

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan penundaan penerimaan biaya pengiriman buku gratis PT Pos Indonesia (Persero) sejak 2017 sebesar Rp15,33 miliar dari pemerintah. Alhasil, BUMN ini harus menomboki pengeluaran tersebut.

“PT Pos Indonesia (Persero) belum menerima pendapatan atas program pengiriman buku bebas biaya sebesar Rp13,88 miliar tahun 2017-2018 serta sebesar Rp1,45 miliar tahun 2019 dari pemerintah,” merujuk laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I 2019 BPK yang dibacakan Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (17/9/2019)

PT Pos Indonesia juga belum menerima kekurangan pendapatan Rp2 miliar atas selisih berat kiriman internasional sebanyak 9.294,49 kilogram serta penerimaan lainnya senilai Rp430 juta.

Dalam laporan, tidak disebutkan tenggat waktu pembayaran untuk program pengiriman buku bebas gratis tersebut.

Selain kekurangan pendapatan, PT Pos Indonesia juga mencatat kelebihan pembayaran Rp37,69 juta atas biaya operasional Layanan Pos Universal (LPU) pada Kantor Pos Pemeriksaan (KPRK) Merauke dan biaya operasional Kantor Pos Cabang lainnya yang tidak disertai bukti sah.

Hingga berita ini diturunkan, PT Pos Indonesia belum mengonfirmasi temuan BPK ini.

Pada November 2018 lalu, Direktur PT Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono menjelaskan perusahaan pelat merah ini menghentikan program tersebut lantaran kehabisan dana dan telah mengucurkan dana Rp13,05 miliar.

Pada saat itu, sumber pendanaan belum terkonfirmasi dan besarnya biaya tersebut sudah melebihi batas anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Program ini dimulai pada 20 Mei 2017 atas gagasan Presiden Joko "Jokowi" Widodo yang memberikan kesempatan untuk pengiriman buku gratis dalam tempo sekali sebulan lewat kantor pos. Berat maksimal buku yakni 10 kilogram sekali mengirim.

Meski demikian, per 18 Maret 2019, program ini kembali dibuka dan siapa pun bisa mengirimkan buku kemana saja melalui daftar kantor pos di sini.

Laba merosot

Sementara pendapatan belum dibayar, kondisi keuangan BUMN ini terus kendor. Laba bersih PT Pos Indonesia pada 2018 merosot 64,2 persen menjadi Rp127 miliar dari sebelumnya Rp355,1 miliar pada 2017.

Penurunan ini menjadi catatan terburuk kedua selama sembilan tahun terakhir setelah penurunan 81,2 persen pada 2015 menjadi Rp30 miliar.

Sementara dari sisi pendapatan dan beban, keduanya meningkat 12,2 persen berada di angka sekitar Rp4,6 triliun pada 2017 dari tahun sebelumnya Rp4,1 triliun pada 2016. Beban ini adalah catatan tertinggi selama sembilan tahun terakhir.

Pada Januari 2019, karyawan PT Pos Indonesia sempat protes karena gaji mereka belum dibayar sebulan. Untuk menalangi duit gaji karyawan, perusahaan ini pun mengutang ke bank.

"Benar kita meminjam uang ke bank, itu benar adanya ya," kata SVP Kerja sama Strategis dan Kelembagaan Pos Indonesia Pupung Purnama, seperti dilaporkan detik.com.

Pada pertengahan tahun ini, PT Pos Indonesia diisukan bangkrut. Tapi, isu ini dibantah dan PT Pos Indonesia berdalih masih terus mengembangkan jasa layanan pengiriman surat dan paket barang. Satu upaya reformasi yang dilakukan yakni digitalisasi sistem layanan keuangan.

"Kalau layanan keuangannya ya pengembangannya digitalisasi untuk financial service yang kita punya," kata Direktur Jaringan dan Layanan Keuangan PT Pos Indonesia Ihwan Sutardiyanta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR