Pulau Jawa ''rajanya'' banjir dan longsor

Tim BPBD Klaten dan relawan mengevakuasi warga yang terjebak banjir dengan perahu karet di Desa Tlingsing, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/11/2017).
Tim BPBD Klaten dan relawan mengevakuasi warga yang terjebak banjir dengan perahu karet di Desa Tlingsing, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/11/2017).
© Aloysius Jarot Nugroho /Antara Foto

Bila warga Yogyakarta dan Sumatera Utara (Sumut) adalah paling rentan terhadap bencana gunung api, masyarakat di Jawa Tengah (Jateng) justru paling akrab pada banjir dan tanah longsor.

Itulah fakta yang terungkap menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama 2017. Lokadata Beritagar.id mengakses dan menganalisis data tersebut hingga Senin (4/12/2017).

Secara umum, pulau Jawa adalah "raja banjir" dan provinsi Jateng sebagai "juaranya" meski hanya "unggul tipis" dari Jatim. Sepanjang 2017, Jateng mengalami 98 bencana banjir dan 55.675 jiwa terkena dampak (atau mengungsi).

Sementara di Jatim, terdapat 96 bencana banjir. Namun jumlah warga terdampak jauh lebih banyak; 219.139 jiwa.

Jabar mengalami 59 kejadian banjir dan ada 171.665 jiwa yang terdampak. Namun Kalteng menjadi provinsi dengan jumlah warga terdampak banjir paling banyak, 275.785 jiwa, kendati jumlah insidennya relatif sedikit dibanding tiga provinsi di Jawa; 32.

Adapun jumlah warga terdampak di pulau Sulawesi secara total ada di atas Kalteng, tapi jumlah insiden banjirnya jauh di bawah empat provinsi di atas.

Sedangkan soal ancaman longsor, Jateng juga menjadi "raja". Hingga 4 Desember 2017, ada 211 insiden. Meski demikian, jumlah warga terdampaknya relatif sedikit (1.198 jiwa) dibanding tiga provinsi lain.

Jabar ada di posisi kedua dengan 106 kejadian dan 6.095 jiwa terdampak. Selanjutnya ada Sulsel dengan delapan kejadian dan 2.112 jiwa terdampak, lalu Sumbar dengan enam kejadian tapi jumlah warga terdampaknya paling banyak --27.010 jiwa.

Khusus di Jateng, jumlah wilayah yang terancam banjir dan longsor mencapai 32 kabupaten/kota. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa Pramana, pada 16 Oktober lalu, mengatakan hanya kota Salatiga, Semarang, serta Tegal yang tidak masuk kawasan rawan banjir dan longsor.

Meski begitu, Semarang dan Tegal, tidak 100 persen bebas banjir. Di Semarang, ibukota Jateng, sejumlah kawasan kota rutin banjir atau tergenang ketika hujan turun --misalnya di sekitar Stasiun Kereta Tawang seperti pada 1 Desember lalu (h/t Tribunnews).

Sementara di Kabupaten Tegal, banjir terjadi pada awal 2017 melanda empat desa di tiga kecamatan (h/t Radar Tegal). Adapun 11 daerah di Jateng, menurut Sarwa dalam Antaranews, menjadi prioritas waspada banjir dan longsor.

"Banjarnegara, Purworejo, Karangayu, Wonosobo, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Pemalang, Brebes, Kudus, dan Pati menjadi prioritas daerah...," kata Sarwa.

Bila melihat dari hanya sudut warga yang terancam dua jenis bencana alam tersebut, Jatim dan Jabar justru masuk risiko tinggi. Ada 3,9 juta jiwa warga yang terancam banjir di Jatim dan terdapat 1,80 juta warga yang terancam longsor di Jabar.

Ini ada kaitannya dengan konsentrasi permukiman di satu titik wilayah. Misalnya di Sumut yang memiliki 2,19 juta warga memiliki risiko tinggi terhadap banjir atau di Papua yang mempunyai 1,29 juta warga berisiko pada tanah longsor.

BNPB sudah menyatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang akrab dengan potensi bencana alam. Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI)-BNPB menunjukkan bahwa jumlah bencana terus meningkat sejak 2005 hingga 2016, baik bencana hidrometeorologi dan geologi.

Dari grafik menunjukkan jumlah insiden bencana sejak 2005 hingga 2016 relatif meningkat. Kategori bencana, hidrometeorologi paling mendominasi --bahkan jumlah insidennya meningkat 100 persen dari 2015 menuju 2016.

Bencana hidrometeorologi mencakup banjir, gelombang ekstrem, kebakaran lahan dan hutan, kekeringan, dan cuaca esktrem. Sedangkan bencana geologi meliputi gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan tanah longsor.

Adapun bencana hidrometeorologi pada 2016 mencapai 92 persen dari total bencana. Dan masyarakat di seluruh Indonesia patut mewaspadai ancamannya pada akhir tahun ini dan awal 2018.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap prakiraan curah hujan sejak Desember 2017 hingga Februari 2018. Pulau Sumatera secara keseluruhan akan diguyur hujan intensitas menengah dan tinggi.

Sementara di Pulau Jawa, intensitas hujan tinggi dan sangat tinggi akan mulai terjadi pada Januari dan Februari 2018 --terutama di Jabar, Jateng, dan Jatim. Sementara di Sulsel, Papua Barat, dan Papua, hujan intensitas sangat tinggi terjadi pula pada Januari atau Februari 2018.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.