MEDIA DAN JURNALISME

Radio bertahan pada era disrupsi teknologi

Suasana talk show di salah satu stasiun radio di Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (13/2/2019).
Suasana talk show di salah satu stasiun radio di Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (13/2/2019). | Saiful Bahri /ANTARA FOTO

Radio perlu bertransformasi untuk mengeruk pasar baru dan bertahan dari derasnya arus perkembangan teknologi. "Berinovasi atau mati", meminjam istilah yang dipopulerkan tokoh manajemen, Peter Drucker.

Saat Music Television atau MTV pertama kali tayang di jejaring televisi kabel Amerika Serikat pada 1 Agustus 1981, ditayangkan video musik dari kelompok The Buggles berjudul "Video Killed the Radio Star". Momen itu diklaim sebagai awal dari senja kala radio karena kehadiran video (baca: televisi).

Namun, radio masih eksis meski popularitasnya menyusut. Hingga tahun 2016 pendengar radio di Indonesia masih mencapai seperempat jumlah penduduk saat itu. Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika tersebut mewawancarai 9.588 rumah tangga dan individu usia 9 hingga 65 tahun di 34 provinsi.

Survei bertajuk "Indikator Teknologi, Informasi, dan Komunikasi" yang diolah Lokadata Beritagar.id itu menyatakan pendengar radio terbesar datang dari kalangan berusia 26-35 tahun. Secara proporsi, penduduk laki-laki pendengar radio lebih banyak daripada perempuan, menurut populasi masing-masing. Musik, masih menjadi acara favorit.

“Mendengarkan radio jarang, hanya di mobil saat perjalanan jauh. Tapi, saat di rumah, tidak mendengarkan. Sekarang kalo misal mau mendengarkan musik pakai spotify,” ujar Kurniasari Abrar (22 tahun), karyawan PT BPR Arta Makmur Sejahtera di Kotamobagu Timur, Sulawesi Utara saat dihubungi Beritagar.id pada Kamis (14/2/2019).

Orang seusia Kurniasari yang berada di kelompok 16-25 tahun memang lebih gemar menonton televisi (79,3 persen) dan berselancar di internet (50,6 persen) dibandingkan mendengarkan radio (20,5 persen). Tapi, kesukaan mereka terhadap radio lebih tinggi dibandingkan membaca media cetak (15,1 persen).

Menurut Kurniasari, televisi dan internet memberikan konten yang lebih menarik. Sebelum beralih ke televisi dan internet, dia mendengarkan radio untuk mengikuti acara kuis, musik, dan mendengarkan jadwal berbuka puasa.

“Pendengar radio tak sebanyak dulu karena sekarang (orang) jarang punya radio di rumah. Dulu pendengar radio remaja usia 17 tahun, saat ini usia 25 karena yang membutuhkan radio adalah orang-orang lama,” ujar Andrie Kemir Maulana, Program dan Music Director OZ Radio Bandung, saat dihubungi Beritagar.id pada Rabu (13/2).

Pergeseran ini, menurut Kemir, perlu disikapi dengan beragam cara, termasuk menambahkan platform ke internet dan menginovasi konten.

Teknologi dan inovasi konten

Sejarah panjang radio membuatnya tetap dibutuhkan pendengar. Unesco bahkan menetapkan setiap tanggal 13 Februari sebagai Hari Radio Sedunia. Stasiun radio masih jadi saluran penting, misalnya, untuk menyiarkan informasi gempa dan tsunami.

Ada payung hukum bagi pemerintah untuk mewajibkan penggunaan radio. Payung itu adalah UU No. 31 Tahun 2009 pasal 34 dan Permenkominfo 20/2006 pasal 1 - 5. Dalam panduan menghadapi gempa, oleh Kogami dan Unesco, disebutkan bahwa salah satu isi tas siaga bencana adalah radio kecil dan senter.

Meski demikian, Kemir berpendapat radio perlu beradaptasi sesuai perkembangan zaman. Internet bisa menjadi medium baru untuk menambah jangkauan pendengar radio yang tidak hanya fokus pada siaran udara (on air) tetapi juga konten digital.

“Internet menuntut radio untuk semakin berkembang dalam membuat konten di berbagai media,” ujar Kemir.

Hal serupa diungkapkan Harliantara Harley Prayudha, pengamat radio Universitas Dr. Soetomo Surabaya kepada IDNtimes. Dia menilai internet bukan pesaing radio tapi bisa menambah bentuk lain seperti radio pengaliran (streaming).

Selain itu, inovasi konten menjadi strategi untuk mempertahankan pendengar radio masa kini atau disebut 3.0 yang meliputi siaran udara (on air), dalam jaringan (online) dan pertunjukan tidak langsung (off air).

Konten yang disuguhkan pun harus mengikuti minat pendengar--dalam hal ini acara musik, oleh 85,5 persen pendengar. Menurut Kemir, konten musik yang disuguhkan oleh radio memiliki sisi yang berbeda karena bisa membangun imajinasi pendengar.

Radio menyuguhkan konten musik dengan konsep seperti teman yang menemani. Artinya, pendengar bisa memilih musik yang ingin didengarnya dan tidak sekadar memutar lagu.

“Konten tidak terlalu berat, tidak kelebihan durasi, dan dekat dengan pendengar. Konsep ini yang membuat susah lupa dan jadi jatuh cinta sama radio,” ujar Kemir.

Agar tetap bertahan pada era disrupsi teknologi, Kemir berpendapat, radio perlu menjemput bola untuk menarik pendengar milenial seperti melakukan siaran di sekolah, melibatkan mereka dalam siaran, atau menghadirkan artis populer.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR