INTERNASIONAL

Raja Saudi serahkan santunan untuk korban crane roboh 2015

Katrol (crane) besar jatuh dan menimpa bagian Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, 11 September 2015.
Katrol (crane) besar jatuh dan menimpa bagian Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, 11 September 2015. | Irozaman /Shutterstock

Setelah empat tahun menunggu, para korban dan keluarga korban jatuhnya katrol (crane) raksasa di Masjidil Haram, Mekkah, pada 11 September 2015 atau musim ibadah haji 1436 Hijriyah, khususnya dari Indonesia, segera menerima santunan yang dijanjikan.

Kedutaan Besar RI untuk Arab Saudi di Riyadh dan Kementerian Agama RI, Senin (2/9/2019) mengumumkan telah menerima cek santunan dari pemerintah Saudi untuk 36 jemaah haji asal Indonesia--11 tewas dan 25 cedera--yang menjadi korban jatuhnya katrol tersebut.

Besarnya santunan sesuai dengan yang dijanjikan oleh Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud, yaitu sebesar SR1 juta, atau sekitar Rp3,79 miliar, untuk korban meninggal dan cacat permanen, serta SR500.000 atau sekitar Rp1,75 miliar bagi korban luka.

"Cek-cek tersebut 35 lembar dan terdiri dari dua nominal. Pertama AS$133 ribu (500 ribu Riyal) atau Rp1,8 Miliar untuk korban luka berat. Kedua, AS$266 ribu (setara 1 Juta Riyal) atau Rp3,7 Miliar untuk korban meninggal dan korban cacat permanen," kata Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, dalam siaran pers.

Satu cek lagi untuk seorang korban luka berat belum diberikan karena, jelas Agus, masih perlu pencocokan data paspor.

Total santunan yang diberikan untuk korban dari Indonesia mencapai AS$6,13 juta atau Rp85,1 miliar. Cek itu diserahkan Penasehat Hukum Deputi Konsuler Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Mohammad Alshammeri, kepada Koordinator Perlindungan Warga KBRI Riyadh Raden Ahmad Arief.

Dubes Agus menyatakan bahwa sejak mulai bertugas di Riyadh, hampir setiap pekan ada keluarga ahli waris di Indonesia bertanya soal realisasi santunan dari Raja Salman tersebut kepadanya.

"Selalu kami jawab bahwa sejak kami mulai bertugas di KBRI Maret 2016 akan selalu prioritaskan untuk menyelesaikan kasus crane dengan melakukan upaya komunikasi dengan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi," kata Agus.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berterima kasih atas kepedulian pemerintah Arab Saudi terhadap ahli waris dan keluarga para korban jatuhnya crane.

"Kementerian Agama siap membantu Kementerian Luar Negeri untuk mempercepat finalisasi administratif terkait penyampaian dana santunan kepada para korban luka berat dan cacat permanen serta para ahli waris korban meninggal dunia," tegas Lukman.

Musibah tersebut datang di tengah perluasan area Masjidil Haram di Mekkah yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi. Area tempat ibadah itu sedang diperluas menjadi 400.000 meter persegi. Alat-alat berat proyek pun tampak di sekeliling masjid.

Saat angin kencang dan hujan deras melanda Mekkah selama tiga hari pada Jumat nahas itu, sekitar pukul lima sore waktu setempat, alat berat katrol (crane) yang ada di sekitar Masjidil Haram roboh dihantam angin.

Sebanyak 13 karyawan Saudi Binladin Group, yang mengawasi dan mengoperasikan katrol, kemudian dijadikan tersangka. Saudi Binladin Group adalah kontraktor proyek renovasi Masjidil Haram saat itu.

Namun, pada 23 Oktober 2017, Pengadilan Arab Saudi memutuskan bahwa mereka tidak bersalah, sehingga tidak perlu membayar diyat (ganti rugi sebagai permohonan maaf kepada korban).

Walau demikian, Raja Salman memutuskan untuk tetap memberikan santunan terhadap para korban dan keluarga mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR