Ramai spekulasi ihwal lanjutan karier Ahok

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyapa warga saat kunjungan ke kawasan Kompleks Uka, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta, Jumat (24/3).
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyapa warga saat kunjungan ke kawasan Kompleks Uka, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta, Jumat (24/3).
© Aprillio Akbar /Antara Foto

Anies Baswedan segera berstatus "Gubernur DKI Jakarta terpilih". Hal itu merujuk hasil hitung cepat Pilkada DKI 2017, yang menunjukkan kemenangan Anies. Bila tiada rintangan, Anies bakal menyandang status barunya pada 5 Mei--seiring pengumuman resmi hasil Pilkada DKI 2017.

Kompetitor Anies, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, masih berhak menyandang status "Gubernur DKI Jakarta" sampai Oktober 2017--momen serah terima jabatan.

Lantas, bagaimana masa depan Ahok di jagat politik? Ke mana Ahok bakal meneruskan kariernya pasca-kalah dalam kontes pemilihan penggede ibu kota?

Sejauh ini, spekulasi ihwal masa depan Ahok mulai berembus di media sosial.

Di linimasa Twitter, Fadjroel Rachman (@Fadjroel, 815 ribu pengikut), jadi salah satu tokoh yang turut menguatkan spekulasi itu, Rabu (19/4). "Kalau Pak Ahok jadi menteri, apa ya yang paling tepat?" kicau Komisaris Utama PT Adhi Karya (milik negara) itu.

Pancingan @Fadjroel bersambut lebih dari 90 retweet. Lewat pelbagai respons, terpantau sejumlah posisi menteri yang dianggap pas untuk Ahok, seperti menteri dalam negeri dan menteri badan usaha milik negara.

Pun, khalayak media sosial memang sudah riuh mengomentari kans Ahok masuk Kabinet Kerja pimpinan Presiden Jokowi.

Selain posisi menteri, ada pula warganet yang mengembuskan wacana agar mantan bupati Belitung Timur itu diangkat sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)--lihat tagar #AhokKetuaKPK.

Keriuhan juga terjadi di layanan petisi daring, Change.org. Sejauh ini, ada dua petisi yang meminta agar Ahok sudi mencalonkan diri sebagai gubernur Bali.

Petisi pertama bertajuk "Ahok for Bali 1" digagas akun Wika Ganesha, dan sudah beroleh sekitar 1.400 dukungan (21/4).

Petisi serupa datang dari Yayasan Atman Shakti Bali. Permohonan itu ditujukan kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Boleh jadi, agar para pembesar partai tersebut mempertimbangkan pencalonan Ahok dalam Pilkada Bali 2018.

"Dengan prestasi dan karakter kepemimpinan yang jujur, bersih, dan tegas, kiranya beliau dapat memimpin provinsi Bali," kutipan petisi yang telah beroleh 1.500 pendukung itu (21/4).

Situs lokal, Beritabali.com, memuat pernyataan Yudha Ascarya (38), pendiri Yayasan Atman Shakti Bali. "Ini jauh dari unsur ras, suku, atau partai, karena yayasan kami merupakan yayasan non-profit dan kami mendukung ahok karena memang kualitasnya bagus dan layak jadi pemimpin," kata Yudha.

Tak hanya warga Bali yang jatuh hati pada Ahok. Di Twitter, misalnya, terdengar lontaran warganet yang ingin tokoh berusia 50 itu jadi orang nomor satu di Sumatra Utara.

Komentar ihwal masa depan Ahok datang pula dari Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto.

"Dia adalah seorang generasi muda yang masih memiliki kesempatan di tempat lain yang berguna bagi masyarakat Indonesia," kata Novanto, dikutip Elshinta. Namun Novanto enggan memerinci frasa "tempat lain".

Adapun Ahok belum menunjukkan sinyal apa pun. Terakhir, sebelum menggunakan hak suaranya dalam Pilkada DKI (19/4), mantan anggota Komisi II DPR-RI itu mengatakan bahwa dirinya masih punya kewajiban menunaikan tugas sebagai gubernur DKI.

"(Kalau kalah) saya masih sampai Oktober (jadi gubernur). Jadi kerja dulu saja," kata Ahok, dikutip Kompas.com. "Selesai (Pilkada) ini kami masih kerja. Semalam saja saya masih kerja dan masih minta disiapin pembelian barang-barang untuk kesehatan."

Ahok dinilai berhasil mengurusi Jakarta selama bertugas sebagai Gubernur sejak 2014--sebagai wakil gubernur per 2012. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyimpulkan 76 persen warga Jakarta puas dengan kinerja Ahok.

Meski warga mengaku puas, Ahok tetap keok dalam Pilkada DKI 2017. Ihwal kekalahan itu, banyak pengamat menganggap para pemilih lebih mempertimbangkan sentimen identitas ketimbang tawaran program atau capaian Ahok.

Dengan kata lain, hasil pemilihan dipengaruhi status Ahok sebagai seorang Kristen--keturunan Tionghoa--di wilayah mayoritas Muslim. Lebih-lebih, Ahok diterpa kasus dugaan penodaan agama dalam perjalanan Pilkada DKI 2017.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.