PEMILU 2019

Ramainya persaingan wajah lama di satu dapil

Petugas membawa kotak suara untuk didistribusikan ke kantor Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di gudang Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (4/4/2019).
Petugas membawa kotak suara untuk didistribusikan ke kantor Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di gudang Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (4/4/2019). | Adeng Bustomi /Antara Foto

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada 17 April nanti, tak hanya memilih presiden dan wakil presiden. Masyarakat juga akan memilih para wakil rakyat untuk kursi DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD RI di daerah pemilihan masing-masing.

Kursi DPR RI, menjadi fokus utama tulisan ini. Ada 7.968 calon anggota legislatif (caleg) yang bakal berebut 575 kursi empuk di Senayan. Dari jumlah tersebut, 525 orang termasuk kategori caleg petahana. Artinya 91,3 persen anggota DPR RI periode 2014-19 belum mau kehilangan kursi mereka.

Mereka bakal berebut suara dari 192,8 juta pemilih di 80 daerah pemilihan (dapil) yang tersebar di 34 provinsi.

Tim Lokadata Beritagar.id mengurai dapil dan kuota kursi masing-masing, dengan jumlah petahana yang bertarung di daerah tersebut. Parameter wajah lama adalah caleg yang menjabat pada periode 2014-2019, baik masih menjabat atau sudah PAW (Pergantian Antar Waktu).

Pada beberapa dapil, jumlah wajah lama yang bertarung lebih banyak dari kursi yang tersedia. Dengan demikian bakal ada petahana yang takkan kembali ke posisi lama mereka.

Dapil Jawa Barat (Jabar) VI misalnya, hanya tersedia 6 kursi, tapi ada 9 wajah lama yang kembali mencalonkan diri. Di dapil itu ada nama Lukman Hakim Saifuddin dari partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang pernah menduduki kursi di Senayan pada 2004, 2009, dan 2014. Kini dia menjabat menteri agama.

Lukman akan bersaing dengan M Hanif Dhakiri dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang pernah menjadi anggota legislatif pada 2009 dan 2014. Saat ini dia menjabat menteri ketenagakerjaan.

Tercatat juga H Nuroji dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) -2009 dan 2014; Mahfudz Abdurrahman dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) -2009 dan 2014; Sukur H Nababan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) -2009 dan 2014.

Juga ada Lucky Hakim dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) -2014; Risa Mariska dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) -2014; Hj Intan Fitriana Fauzi dari Partai Amanat Nasional (PAN) -2014; Wenny Haryanto dari Partai Golongan Karya (Golkar) -2014.

Selain dapil Jabar VI, ada juga dapil Jawa Timur (Jatim) VI. Di dapil ini 12 petahana berebut 9 kursi. Di antaranya tercatat nama Guruh Sukarno Putra dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjabat anggota DPR sejak 1999 hingga 2014.

"Perang bintang" itu terjadi karena beberapa dari mereka pindah dapil sehingga para petahana itu berjubel di satu dapil.

Menjaga suara partai

Fenomena tersebut, menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraeni, terjadi lantaran mereka relatif memiliki modal sosial yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi basis pengumpulan suara partai.

Dia menilai, dominasi wajah lama ini terjadi karena Pemilu 2019 amat kompetitif. Naiknya parliamentary threshold (ambang batas suara untuk bisa mengikuti pemilu selanjutnya) dari 3,5 persen menjadi 4 persen adalah penyebabnya.

Selain naiknya ambang batas, jumlah konstestan pemilu juga bertambah, dari 12 partai pada 2014 menjadi 16.

Wajar jika partai mengandalkan wajah-wajah lama untuk memaksimalkan perolehan suara mereka. "Ada yang sudah mencaleg lima kali sejak 1999. Bahkan ada yang dari zaman Orba (Orde Baru)," kata Titi kepada Beritagar.id, Kamis (11/4).

Beberapa partai memang mengusung debutan. Namun, ujar Titi, kebanyakan dari wajah baru itu berasal dari kalangan artis atau orang-orang yang populer di mata masyarakat. "Alasannya, partai politik memiliki kepentingan supaya caleg yang mereka usung bisa mengamankan posisi suara partai di dalam perebutan kursi di Pemilu 2019," jelasnya.

Partai politik, sebutnya, berusaha menjaga suara dengan memastikan bahwa para caleg yang mereka usung bisa menarik perhatian para pemilih sehingga mampu meraup suara sebanyak-banyaknya.

Kuasai Parlemen

Tim Lokadata Beritagar.id mencoba melihat bagaimana perbandingan hasil survei Pemilu 2019 dengan raihan suara hasil Pemilu 2014 lalu.

Lembaga survei yang digunakan adalah mereka yang terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) seperti LSI Denny JA, Cyrus Network, Lembaga Survei Indonesia, Saiful Mujani Research Centre, Poltracking, Populi Center, Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Litbang Kompas, Indikator, dan Charta Politika.

Tidak semua survei longitudinal diambil lantaran keterbatasan data. Hanya survei terakhir yang dilakukan oleh tiap lembaga survei atau yang bisa diakses datanya.

Pertanyaan survei yang diajukan kepada responden: Jika pemilu legislatif (DPR) dilakukan sekarang, partai politik apa yang menjadi pilihan Anda?

Delapan lembaga survei kompak memprediksi terulangnya kejayaan partai Moncong Putih (PDIP) menguasai parlemen. Jika dibandingkan dari hasil Pemilu 2014, angka prediksi kemenangan lebih tinggi.

LSI Denny JA, misalnya, memprediksi kemenangan PDIP 23,7 persen atau berbeda 4,95 persen dari perolehan 2014.

Mayoritas dari delapan lembaga survei juga memprediksi Gerindra menduduki posisi kedua. Sedangkan Golkar menyusul di urutan ketiga.

Temuan menarik lainnya adalah ada setidaknya 11 partai yang diprediksi tak akan lolos parliamentary threshold. Empat di antaranya sempat lolos ke Senayan dan menduduki kursi parlemen. Mereka adalah PKS, PPP, PAN, dan Hanura.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR