PENDIDIKAN NASIONAL

Rapor guru dalam hasil uji kompetensi

Nilai guru dalam Uji Kompetensi Guru (UKG) tiga tahun terakhir
Nilai guru dalam Uji Kompetensi Guru (UKG) tiga tahun terakhir | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Hari Guru Nasional tahun ini menyinggung tema kekinian tentang Revolusi Industri 4.0. Sementara, "rapor" guru Indonesia dalam Uji Kompetensi Guru (UKG) sejak 2015, rata-ratanya hingga 2017 masih di bawah 70 dari nilai maksimal 100.

Dalam peringatan HGN yang jatuh pada 25 November lalu, tema Revolusi Industri 4.0 dinilai penting, mengingat pendidikan adalah jalan menyiapkan sumber daya manusia.

Bila guru adalah tulang punggung pendidikan, sudah sepatutnya melongok kondisi guru saat ini. Salah satunya melalui pengukuran kompetensi guru, secara akademis dan non-akademis yang dilakukan pemerintah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan pengukuran akademis secara rutin setiap tahun melalui Uji Kompetensi Guru (UKG), dan pengukuran non-akademis dengan melakukan penilaian terhadap kinerja guru.

UKG dijalankan berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan menjadi bagian dari sertifikasi kemampuan guru. Selain sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu, pemegang sertifikasi juga dijanjikan tunjangan.

Pelaksanaan UKG berfokus pada identifikasi kemampuan guru dalam penguasaan kompetensi pedagogik dan profesional. Kompetensi pedagogik, pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik.

Lewat UKG, guru harus mampu memenuhi Standar Kompetensi Minimal dengan angka maksimal 100. Seperti Ujian Nasional yang harus dihadapi siswa, UKG juga menerapkan nilai minimal untuk kelulusan. Bila tak lulus, guru yang bersangkutan bisa ikut ujian lagi sembari mengikuti berbagai program peningkatan kapasitas.

Harian Kompas mencatat, peningkatan skor terus dilakukan sejak 2014 hingga 2017. Mulai dari rerata 40,7 poin; 50,5 poin; 60,49 poin, dan pada 2017 yang mencapai 80 poin. Namun, rerata 80 dirasa terlalu berat sehingga dilakukan penyesuaian.

Guru di DI Yogyakarta, termasuk paling tinggi dari target nasional, dengan angka rata-rata di atas 70. Selama ini, guru di DIY selalu mencatatkan skor tertinggi secara nasional. Pada awal UKG pun, rata-ratanya sudah sesuai standar Kemendikbud.

"Kemendikbud menarget tahun ajaran 2018/2019 UKG rata-rata di angka tujuh (puluh) koma sekian. Pada 2017/2018 DIY sudah di angka target nasional, DIY di rata-rata 71," ujar Kepala Disdikpora DIY, Kadarmanta Baskara Aji, Kamis (4/1/2018) dalam Solopos.

Capaian tiga tahun terakhir sejak 2015 dalam catatan Kemendikbud, peningkatan nilai secara signifikan terjadi pada 2016. Namun angka rata-ratanya hingga 2017 masih di bawah 70, untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Menjadi pertanyaan menarik bila merujuk pada salah satu tema peringatan Hari Guru Nasional tahun ini, yang menyinggung tantangan industri 4.0. Cukupkah angka-angka tersebut menjawabnya?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR