KESEHATAN

Rapor merah Angka Kematian Bayi di Indonesia

Petugas merawat dua dari tiga bayi kembar yang lahir prematur dengan bobot di bawah normal di ruang Neonatal Intensif care Unit (NICU) RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (8/11).
Petugas merawat dua dari tiga bayi kembar yang lahir prematur dengan bobot di bawah normal di ruang Neonatal Intensif care Unit (NICU) RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (8/11). | Destyan Sujarwoko /ANTARA FOTO

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia terus menurun setiap tahun. Namun, jalan memerangi AKB masih panjang.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan dari tahun ke tahun AKB mengalami penurunan signifikan. Dari 68 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada 1991, hingga 24 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, adanya penurunan AKI dan AKB disebabkan beberapa faktor.

Hampir seluruh Puskesmas--9.456--telah melaksanakan kelas ibu hamil, 96,1 persen ibu hamil pernah mendapatkan pelayanan antenatal sekali selama kehamilan, 86 persen ibu hamil periksa sekali sewaktu trimester I, dan 74,1 persen ibu hamil periksa sesuai standar, serta persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan telah mencapai 86 persen.

Namun, perkembangan terbaru dari beberapa daerah di Tanah Air menunjukkan AKB naik turun.

Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur mencatat sejak Januari hingga Maret 2019 ada 41 AKB. Sementara sepanjang 2018 jumlahnya mencapai 135.

"Trennya, cenderung menurun. Khususnya, untuk kematian ibu," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan, Agung Basuki.

Kabupaten Tangerang lain cerita. AKB justru meningkat seiap tahun. Pada 2016, 102 kasus, pada 2017 144 kasus, dan pada 2018 terdapat 247 kasus.

AKB maupun Angka Kematian Ibu (AKI) pun nyaris merata di 29 kecamatan Tangerang. "Kematian ibu dan bayi biasanya terjadi saat proses persalinan atau melahirkan. Biasanya menimpa warga dengan perekonomi lemah. Banyak penyebab yang membuat kasus kematian ibu dan bayi ini naik tiap tahun,” tukas Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Desiriana Dinardianti.

Tren AKB naik juga terjadi di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pada 2017, AKB sebesar 1,61. Namun pada 2018 menjadi 2,08 per 1.000 kelahiran hidup.

Kematian bayi bisa disebabkan banyak hal. Mulai dari keracunan kehamilan, pendarahan saat persalinan, gagal napas, berat badan lahir rendah, dan faktor lain.

Namun, hal-hal ini sebenarnya bisa dicegah. Syaratnya, ibu hamil rutin memeriksakan kesehatan diri dan janin.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) meneliti penyebab kematian ibu dan bayi di Indonesia. Mereka menyelisik data dari 7.381 literatur sejak Juni 2016 hingga Maret 2018.

Ketua Evidence Summit Profesor Dr. dr. Akmal Taher, SpU.(K). mengungkap, kualitas pelayanan kesehatan, sistem rujukan kesehatan, implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan kebijakan pemerintah daerah terkait kesehatan adalah penyebab kematian ibu dan bayi.

Namun, ada juga peran faktor budaya. Ada beberapa daerah di Indonesia yang berprinsip perempuan tidak berhak menentukan proses persalinannya.

Alhasil, banyak kasus perempuan melahirkan dalam kondisi darurat dan sulit ditolong. "Ini lantaran keluarga melarang ibu hamil dirujuk ke fasilitas medis yang masih memadai. Perempuan untuk melahirkan di rumah sakit saja harus menurut keputusan suami dan keluarga," kata Akmal.

Tak heran jika rapor AKB Indonesia masih merah. Tanah Air masih merupakan 1 dari 10 negara yang jadi fokus kampanye Every Child Alive 2018 UNICEF.

Sebanyak sembilan negara lain yang jadi fokus adalah Bangladesh, Etiopia, Guinea-Bissau, India, Malawi, Mali, Nigeria, Pakistan dan Republik Persatuan Tanzania. Negara-negara ini terpilih lantaran mereka lah sumber lebih dari setengah kematian bayi baru lahir di dunia.

Kampanye Every Child ALIVE UNICEF mendesak pemerintah, bisnis, penyedia layanan kesehatan, komunitas dan individu di ke-10 negara itu untuk memenuhi janji pertanggungan kesehatan universal health coverage (UHC) dan menyelamatkan nyawa setiap anak.

Kampanye ini bertujuan membangun konsensus atas prinsip bahwa setiap ibu dan bayi layak mendapat perawatan terjangkau dan berkualitas.

Sejalan dengan itu, percepatan penurunan AKB adalah satu dari empat prioritas yang jadi fokus Program Indonesia Sehat lewat pendekatan keluarga yang dihelat Kementerian Kesehatan RI.

Dalam upaya penurunan AKI dan AKB sangat diperlukan komitmen dan dukungan lintas program, lintas sektor serta peran serta aktif masyarakat. Semua upaya di atas harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR