Rasisme masih menjadi masalah di Amerika Serikat

Seorang pria membawa poster bertuliskan "Akhiri Rasisme!" di depan Staples Center, Los Angeles, California, April 2014.
Seorang pria membawa poster bertuliskan "Akhiri Rasisme!" di depan Staples Center, Los Angeles, California, April 2014. | Paul Buck /EPA

Kasus penembakan berbau rasialis kembali terjadi di Amerika Serikat.

Vester Flanagan, menembak dua jurnalis televisi WBDJ ketika keduanya sedang melakukan siaran langsung, dari sebuah pusat perbelanjaan dan rekreasi di Virginia, AS, Rabu (26/8/2015).

Korban adalah Alison Parker (reporter, 24 tahun), dan Adam Ward (juru kamera, 27 tahun). Keduanya bekerja untuk , stasiun televisi di Roanoke, Virginia, yang berafiliasi dengan CBS.

Flanagan alias Bryce Williams akhirnya tewas bunuh diri setelah melakukan aksinya.

Adapun alasan Flanagan melakukan penembakan tersebut adalah sebagai bagian balas dendam dari peristiwa penembakan bermotif rasial di Gereja Charlestn Juni lalu.

Tak terhitung seberapa banyak kasus penembakan yang diduga bermotif rasial. Beberapa kasus, baik yang korbannya tunggal maupun massal terjadi selama dua tahun belakangan.

Berikut sebagian dari kasus tersebut:

Eric Garner, 43 tahun, tewas setelah dicekik oleh petugas polisi yang mendapati dirinya sedang menjual rokok, Juli 2014. Sebelum dicekik oleh petugas Daniel Pantaleo, ia sempat mengeluh bahwa dirinya lelah dilecehkan. Sebuah video merekam Garner yang mengatakan kepada polisi sepuluh kali bahwa dirinya tidak bisa bernapas. Aksi protes tak bisa dibendung saat Majelis Hakim New York City tidak menjatuhkan hukuman apapun kepada petugas polisi tersebut.

Michael Brown, 18 tahun, tidak bersenjata saat ditembak oleh petugas Kepolisian Ferguson, Darren Wilson, Agustus 2014. Beberapa saksi mata mengaku Brown sempat menyerah dengan mengangkat kedua tangannya saat ia ditembaki delapan kali. Kasus Brown memancing kemarahan banyak pihak, hingga kalimat "hands up don't shoot (menyerah, jangan tembak)" menjadi slogan untuk mewakili penyiksaan berlebihan yang dilakukan oleh polisi, rasialis dan hak-hak kulit hitam.

Pada Juli 2015, seorang petugas kepolisian menahan Sandra Bland, 28 tahun atas pelanggaran lalu lintas. Tiga hari kemudian, Bland ditemukan tewas, gantung diri di dalam selnya di Hempstead, Texas. Banyak pihak menuntut penyelidikan lebih lanjut atas kasus kematiannya.

Pada November 2014, seorang polisi menembak Tamir Rice, 12 tahun, yang melambaikan senjata mainan di taman bermain di Cleveland.

Freddie Gray, 25 tahun, ditangkap polisi Baltimore karena tertangkap sedang menatap seorang anggota kepolisian, 12 April 2015. Saat hendak dibawa ke kantor polisi, Gray diletakkan di belakang mobil tanpa mengenakan sabuk pengaman. Gray dipukuli oleh enam orang petugas secara brutal. Gray mengalami luka serius. Seminggu kemudian Gray meninggal dunia.

Juni 2015, Dylan Roof, 21 tahun, sembilan orang di Gereja Emmanuel di kota Charleston, South Carolina, telah ditangkap. Roof diduga melancarkan aksinya dari dalam gereja ketika mengikuti pelajaran Injil. Ia dilaporkan duduk bersama peserta-peserta lain selama satu jam sebelum mengeluarkan tembakan ke arah peserta. Enam perempuan dan tiga laki-laki tewas, termasuk pastur di gereja yang dikenal sebagai salah satu gereja Amerika-Afrika tertua di kawasan Amerika Serikat bagian selatan. Tidak lama setelah penangkapan Dylann Roof, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyerukan agar warga secara bersama-sama mengubah cara pandang kekerasan senjata.

18 Juli 2015, James "Sonny" Goggles Jr., 50 tahun, dan Stallone Trosper, 29 tahun sedang tertidur di atas matras di dalam ruang detoksifikasi alkohol dan narkoba di Riverton, Wyoming saat Roy Clyde, 32 tahun, menerobos masuk dan tiba-tiba menembak keduanya dengan pistol semi-otomatis berkaliber 40. Trosper tewas, sementara Goggles terluka parah. Clyde mengaku kepada polisi bahwa dirinya lelah melihat para tunawisma yang hanya bermalas-malasan dan minum-minum alkohol. FBI kini sedang menyelidiki apakah penembakan yang dilakukan Clyde terkait dengan rasialis atau tidak mengingat dirinya adalah kulit putih dan korbannya berkulit hitam.

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama sendiri pernah secara mengejutkan menggunakan cercaan rasial untuk meluapkan kejengkelannya atas "penyakit" rasialis di AS yang tidak kunjung sembuh.

Obama tidak menyesal menggunakan "N-word" (kata Negro) untuk memperjelas "penyakit" rasialis di negaranya.

"N-word" adalah istilah lazim yang bisa digunakan untuk merendahkan warga kulit hitam. Gedung Putih menyadari sikap Obama yang menggunakan cercaan rasialis. Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, mengatakan Gedung Putih tidak terkejut bahwa Presiden Obama mengucapkan cercaan yang akan memicu kontroversi.

"Rasisme, kita belum sembuh dari itu," kata Obama. "Dan itu bukan hanya masalah tidak sopan untuk mengatakan 'Negro' di depan umum. Itu bukan ukuran apakah rasisme masih ada atau tidak. Ini bukan hanya soal diskriminasi terbuka. Masyarakat benar-benar belum menghapus segala sesuatu yang terjadi 200 sampai 300 tahun sebelumnya," ujar Obama seperti yang dikutip dalam Sindonews.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR