GEGER HOAKS

Ratna Sarumpaet dihukum lebih ringan dari tuntutan

Terdakwa Ratna Sarumpaet saat menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (11/7/2019).
Terdakwa Ratna Sarumpaet saat menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (11/7/2019). | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Majelis hakim menjatuhkan vonis dua tahun penjara kepada Ratna Sarumpaet, terdakwa kasus penyebaran berita bohong. Putusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta Ratna dihukum enam tahun penjara.

Dalam amar putusan, majelis hakim menyebut Ratna telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana menyiarkan pemberitahuan bohong yang telah menimbulkan keonaran di tengah masyarakat.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Ratna Sarumpaet dengan pidana penjara selama dua tahun," sebut Majelis Hakim Joni vonis yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2019).

Ratna divonis bersalah lantaran melanggar Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946. Hakim Joni mengatakan, penahanan terdakwa dihitung dengan dikurangi masa tahanan yang sudah dijalani dan memerintahkan terdakwa tetap berada di tahanan.

Hukuman yang dijatuhkan majelis hakim sejatinya lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dalam sidang tuntutan, JPU meminta majelis hakim menghukum Ratna enam tahun penjara.

Usai sidang pembacaan vonis, Ratna langsung berdiskusi dengan tim kuasa hukumnya. Menanggapi vonis tersebut, kuasa hukum Ratna, Desmihardi, menyatakan masih pikir-pikir. "Mengingat putusan baru dibacakan kami pikir-pikir dulu yang mulia," ujar Desmihardi.

Sikap serupa disampaikan juga tim JPU. Kedua pihak, JPU dan kuasa hukum Ratna memiliki waktu tujuh hari untuk menyatakan banding atau tidak. Jika tidak ada usulan masuk ke Pengadilan, keduanya dianggap menerima putusan.

Lantas keonaran macam apa yang membuat majelis hakim menganggap Ratna Sarumpaet bersalah lantaran menyiarkan pemberitahuan bohong? (Penjelasan dalam Infografik)

Onar. Keonaran. Dua kata ini jarang masuk percakapan sehari-hari maupun berita media. Lebih sering "heboh" dan "gaduh" yang terucap dan tertulis. Infografik arsip 2018.
Onar. Keonaran. Dua kata ini jarang masuk percakapan sehari-hari maupun berita media. Lebih sering "heboh" dan "gaduh" yang terucap dan tertulis. Infografik arsip 2018. | Antyo® /Beritagar.id

Bermula dari khayalan

Penyebaran berita bohong yang diciptakan Ratna Sarumpaet menyeret dirinya mendekam di balik jeruji besi. Dia bahkan menyandang gelar sebagai Ratu Hoaks dari warganet.

Berita penganiayaan Ratna Sarumpaet oleh sekelompok orang kali pertama beredar dalam Facebook per tanggal 2 Oktober 2018 pada akun Swary Utami Dewi. Unggahan itu disertai tangkapan layar (screenshoot) aplikasi pesan WhatsApp yang disertai foto Ratna.

Konten tersebut kemudian viral melalui Twitter yang diunggah kembali serta dibenarkan sejumlah tokoh politik tanpa melakukan verifikasi pada kebenaran berita tersebut.

Cerita bualan itu bahkan diamini Prabowo, Amien Rais, dan para tokoh lainnya, hingga mereka menggelar konferensi pers, pada Selasa (2/10/2018).

Lewat amplifikasi yang dilakukan oleh para politisi –dan bahkan tokoh nasional, telah memicu keonaran di tengah masyarakat seolah-olah ada upaya pembungkaman terhadap aktivis politik.

Namun, sehari sesudahnya, Ratna menggelar konferensi pers untuk membantah cerita bohongnya. "Tidak ada penganiayaan. Itu cerita khayalan yang entah dihembuskan oleh setan mana kepada saya. Kali ini saya pencipta hoax terbaik ternyata. Menghebohkan sebuah negeri," ucap Ratna, Rabu (3/10/2018).

Ratna ditangkap Kamis (4/10/2018) malam di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Dia sudah berada di dalam pesawat, kemudian dilarang meninggalkan Indonesia oleh petugas imigrasi dan polisi. Menurut polisi, Ratna akan melarikan diri –hingga kemudian ditetapkan menjadi tersangka.

Ratna membantah bahwa dirinya akan melarikan diri. Malam itu, menurut Ratna, dirinya berencana pergi ke Chile untuk menghadiri acara The 11th Women Playrights International Conference 2018, yang telah dijadwalkan jauh-jauh hari.

Setelah memeriksa Ratna selama dua jam di Polda Metro Jaya, polisi pada Jumat (5/10/2018) dini hari langsung melakukan penggeledahan di rumah pesohor politik itu. Dari penggeledahan itu, polisi membawa sejumlah barang untuk alat bukti dalam penyidikan.

Saat menjalani hari-hari di hotel prodeo, Ratna diminta untuk mengembalikan dana sponsor perjalanan ke Chile. Pemprov DKI Jakarta telah menggelontorkan dana sebesar Rp70.764.041 untuk memberangkatkan Ratna ke Chile.

Minta dibebaskan dari hukuman

Tangis Ratna pecah saat membacakan pleidoi atau nota pembelaan atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menuntutnya menjalani hukuman 6 tahun penjara.

Dalam pleido itu, Ratna meminta dibebaskan secara hukum kepada majelis hakim. Ia mengatakan lebih baik membebaskan 1.000 orang bersalah daripada satu orang yang bersalah.

"Majelis hakim yang mulia, saya memohon bebaskan saya secara hukum. Karena yang saya tahu lebih baik membebaskan 1000 orang bersalah daripada menghukum 1 orang yang tidak bersalah," ujarnya.

Begitu juga dengan pengacara Ratna, Insank Nasruddin yang membacakan duplik menanggapi replik jaksa. Ia menyebut tuntutan jaksa kepada kliennya lebih berat dari koruptor.

Duplik yang dibacakan Insank di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (25/6/2019), meminta hakim menolak semua dalil jaksa. Ia juga berharap Ratna dinyatakan bebas dan tidak terbukti bersalah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR