GEGER HOAKS

Ratna Sarumpaet siap jalani persidangan, polisi buru pihak lain

Tersangka penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet bergegas menuju Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dari Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (31/1/2019). Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta memastikan berkas perkara Ratna sudah lengkap, sehingga tim penyidik Polda Metro Jaya akan melimpahkan tahap dua barang bukti dan tersangka ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Tersangka penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet bergegas menuju Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dari Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (31/1/2019). Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta memastikan berkas perkara Ratna sudah lengkap, sehingga tim penyidik Polda Metro Jaya akan melimpahkan tahap dua barang bukti dan tersangka ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Tak lama lagi, Ratna Sarumpaet bakal menjalani persidangan atas kasusnya, pemberitahuan berita bohong alias hoaks. Pasalnya, Kepolisian sudah menyatakan berkas Ratna lengkap, alias P-21, dan telah diterima Kejaksaan Tinggi Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Kini, kasus Ratna pun akan ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan. Menurut Kepala Kejari Jakarta Selatan, Supardi, pihaknya telah menerima sejumlah alat bukti yang dikumpulkan oleh pihak Kepolisian.

Beberapa barang bukti tersebut, seperti flash disk, Compact Disc (CD) dan laptop. Selain itu, ada juga tiket dan baju-baju milik Ratna mantan tim sukses calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Saat ini, Supardi mengatakan, pihaknya sedang mempelajari berkas-berkas serta memilah barang bukti. Harapannya, konstruksi dakwaan nanti sesuai dan memenuhi kualifikasi unsur yang didapatkan.

"Di dalam berkas perkara ibu RS (Ratna) disangkakan pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang pemberlakuan hukum pidana dan UU ITE pasal 28 ayat (2). Kami akan pelajari konstruksinya seperti apa," kata Supardi, dalam Merdeka.com.

Menurut Supardi, olah berkas akan memakan waktu sekitar 20 hari. "Yang paling lama itu adalah kita membuka file-file. Itu paling lama, karena banyak sekali (bukti-buktinya)," ucap Supriyadi dalam Viva.co.id.

Meski saat ini "bola" tengah berada di tangan korps Adhiyaksa, tapi Ratna tetap akan ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya. Langkah ini, diambil atas permintaan keluarga mantan aktris dekade 1990-an tersebut.

Permintaan ini tak dipersoalkan oleh Kejari. Menurut Supardi, Kejari Jakarta Selatan akan menitipkan Ratna selama 20 hari di Rutan Polda Metro Jaya sembari menunggu pemeriksaan barang bukti.

"Ibu Ratna sudah sepuh, hampir 70 tahun. Keluarganya mengajukan kepada penyidik agar ditahan di sana dengan alasan kesehatan. Selama di Rutan Polda, ibu Ratna mendapat perawatan dokter di sana dengan baik," ucap Supardi dalam Tribunnews.com.

Atas babak baru dari kasusnya ini, Ratna pun mengaku siap atas statusnya menjadi terdakwa. "Siap (jalani sidang). (Kondisi saya) Sehat," kata Ratna di Polda Metro Jaya, Kamis (31/1/2019), dalam CNN Indonesia.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya, Kombes Umar Shahab. "Dulu sempat mual. Sempat kita infus, tapi tidak sampai dirujuk ke rumah sakit. Saat ini, kondisi Ibu Ratna fit," ucap Umar, yang dikutip dari Republika.co.id.

Dari sisi Ratna, menurut sang pengacara, Insank Nasruddin, pihaknya akan siap menjalani persidangan. Insank mengakui bahwa Ratna telah berbohong. Namun, yang ia garis bawahi, Ratna tak melakukan penyebaran kebohongan tersebut.

"Kalau menurut kami, Ibu RS ini, betul dia berbohong. Tapi apakah kebohongannya itu sampai menjadi viral karena perbuatan dia? Itu yang akan kita uji," kata Insank dalam Detikcom.

Pernyataan itu, jelas Insank, tidak dimaksudkan untuk melempar kasus kepada pihak lain yang dipandang bertanggung jawab memviralkan kebohongan Ratna. "Saya nggak mau mengarah ke sana. Saya hanya fokus pada sejauh mana perbuatan Ibu RS ini," katanya.

Meski demikian, pihak Kepolisian tak menutup mata terhadap kemungkinan tersebut. Menurut Humas Polda Metro Jaya, Kombes, Argo Yuwono, bukan tak mungkin bakal ada tersangka baru mengenai kebohongan Ratna tersebut.

"Kemungkinan (tersangka baru) ada," ucap Argo.

Soal kebohongan Ratna ini, sebenarnya sekumpulan orang dari Komunitas Pengacara Indonesia Pro Jokowi (Kopi Pojok), telah melaporkan 17 orang ke Kepolisian. Mereka dilaporkan karena menyebar berita bahwa Ratna dipukuli.

Beberapa dari 17 orang tersebut adalah Prabowo, Sandiaga, Fadli Zon, Rachel Maryam, Rizal Ramli, Habiburokhman, Hanum Rais, hingga juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Tak dijenguk tim Prabowo-Sandi

Kasus ini berawal dari kebohongan Ratna pada awal Oktober 2018. Saat itu, ia mengaku-dipukuli sejumlah orang di daerah Bandung, Jawa Barat, hingga wajahnya lebam.

Singkat cerita, tim Prabowo-Sandiaga membela mati-matian atas kejadian yang menimpa ibu dari aktris Atiqah Hasiholan.

Nyatanya, wajah lebam Ratna bukan disebabkan pukulan, Melainkan efek dari operasi plastik yang ia lakukan di RSK Bina Aesthetic Surgery, daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Atas kasus ini, Ratna dijerat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menurut Insank Nasruddin, sejak ditahan di Polda Metro Jaya pada Oktober 2018 hingga Kamis kemarin, tak ada satu pun dari timses Prabowo-Sandi yang menjenguknya. "Pada prinsipnya timses itu nggak ada yang menjenguk," kata Insank.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR