KONFLIK SOSIAL

Ratusan polisi masih berjaga di Penajam

Proses mediasi tokoh adat Kaltim dan Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) di Penajam, Kamis (17/10/2019).
Proses mediasi tokoh adat Kaltim dan Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) di Penajam, Kamis (17/10/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Polisi masih berjaga di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), menyusul aksi amuk massa pada Rabu (16/10/2019). Kepolisian Daerah Kaltim mengerahkan segenap kekuatan untuk mengamankan bakal ibu kota negara ini.

"Personil Brigadir Mobil (Brimob), Polisi Air dan Udara, Sabhara, serta satuan pengamanan lain (diturunkan)," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Kaltim Komisaris Besar Ade Yaya Suryana, Kamis (17/10/2019).

Kondisi keamanan dan ketertiban di PPU kini berangsur pulih pasca-kejadian itu. Dua hari lalu, massa membakar ratusan rumah warga dan pelabuhan penyeberangan.

Ade mengatakan, Polda Kaltim menempatkan ratusan personel untuk memastikan suasana kondusif. Aparat keamanan ditempatkan di titik layanan publik seperti pelabuhan ferry, kantor pemerintahan, hingga fasilitas objek vital nasional.

"Kapolda Kaltim masih di PPU memimpin langsung pengamanan pasukan," paparnya.

Bahkan, 600 personil Satuan Brimob tambahan didatangkan membantu pengamanan. Pasukan paramiliter Polri ini didatangkan dari Jawa Timur (Jatim), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Tengah (Kalteng).

Pengamanan ekstra itu membuat sarana layanan publik sudah berjalan normal. "Misalnya penyeberangan kapal ferry jalur Penajam – Balikpapan," papar Ade.

Sementara itu, Komando Daerah Militer VI Mulawarman mengerahkan 200 prajurit Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 17 Ananta Dharma untuk membantu polisi. Sejak awal, Pangdam Mulawarman Mayor Jenderal Subiyanto memang terus membantu menenangkan massa.

"Panglima Mulawarman juga masih di Penajam hingga saat ini," ungkap Kepala Penerangan Kodam Mulawarman Kolonel Dino Martino.

Pasukan TNI/Polri memantau akses dan keluar PPU. Pengamanan ini guna membatasi ruang gerak kelompok massa yang punya tujuan anarkistis.

Seperti Polri, Dino pun menilai kondisi kamtibmas PPU sudah pulih. Masyarakat mulai beraktivitas normal dengan membersihkan puing sisa kerusuhan.

Meskipun begitu, Dino memastikan Kodam Mulawarman tidak akan lengah. TNI tetap mempersiapkan pasukan tambahan memastikan keamanan PPU. "Pasukan TNI lain disiapkan bila dibutuhkan pengamanan," paparnya.

Tokoh adat melakukan mediasi

Di tempat terpisah, Bupati PPU Abdul Gafur Mas’ud melakukan mediasi bersama pelbagai tokoh masyarakat Kaltim. Proses mediasi dihadiri tokoh adat Dayak, adat Paser, dan perwakilan keluarga korban.

"Saya menjadi orang paling sedih dengan peristiwa di Penajam ini," sesal Gafur.

Ia mengatakan, PPU merupakan simbol keberagaman pelbagai suku bangsa di Indonesia. Penduduk PPU heterogen sehingga harus menjaga situasi harmonis kota.

Dalam kasus ini, Gafur curiga aksi rusuh massa ditunggangi pihak yang menolak penetapan PPU sebagai lokasi ibu kota negara. Namun aksi kerusuhan ini malah merugikan mayoritas penduduk PPU sendiri.

"Kalau ditunggangi untuk menolak kehadiran ibu kota, jangan dengan merugikan masyarakat sendiri," ujar Gafur yang meminta polisi bertindak tegas menghukum para pelaku aksi massa dan main hakim sendiri.

Ke depan, Pemkab PPU berniat merumuskan aturan pemanfaatan senjata tajam di area ruang publik. Warga akan dilarang menenteng senjata tajam tanpa peruntukan yang jelas.

Para tokoh adat yang hadir pun mayoritas setuju untuk bersama menjaga harmonisasi PPU. Mereka tidak ingin persoalan PPU ditunggangi pihak yang ingin merusak persatuan bangsa.

"Kita dapat saling menjaga dan jangan sampai masalah ini nantinya justru ditunggangi oleh oknum tidak bertanggung jawab," ujar Sesepuh Adat Paser, Sudirman.

Di sisi lain, Sudirman meminta budaya komunikasi antara pemerintah daerah serta warganya terus dipertahankan. Menurutnya komunikasi seperti ini efektif karena pimpinan daerah berdialog langsung dengan warganya.

Demikian pula Dewan Adat Dayak Balikpapan Abriantinus yang turut berduka pada keluarga korban pengeroyokan. Namun demikian, ia meminta seluruh pihak tetap menghormati ketentuan hukum di Indonesia.

"Serahkan saja kepada aparat hukum untuk menuntaskan kasusnya," ujarnya.

Aksi massa dipicu oleh kematian Chandra dan temannya Rian dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelita Gamma PPU yang masih kritis di RSUD Ratu Aji Putri Botung Penajam. Mereka merupakan korban pengeroyokan pada Jumat (11/10) silam.

Ironisnya, penyebab pengeroyokan ini terbilang sepele. Pelaku kesal oleh suara berisik sepeda motor korban.

Adapun dampak aksi massa luar biasa. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU; 145 rumah dan 11 loket pelabuhan terbakar. Aksi pembakaran di permukiman tiga RT ini juga menyebabkan 966 jiwa kehilangan tempat tinggal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR