GEMPA LOMBOK

Redupnya pesona tiga Gili di Pulau Lombok

Puing-puing restoran dan bar yang hancur akibat gempa di Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (19/8/2018)
Puing-puing restoran dan bar yang hancur akibat gempa di Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (19/8/2018) | Ronna Nirmala /Beritagar.id

Gili Trawangan kerap menjadi tempat pelarian bagi wisatawan yang bosan dengan suasana di Pulau Bali.

Lokasinya ideal. Bisa ditempuh dari Padang Bai, Bali, pun melalui Pelabuhan Bangsal Pemenang, Lombok. Pilihan penyeberangannya beragam, dari yang privat sampai menggunakan kapal feri biasa.

Suasana yang ditawarkan begitu identik. Kafe-kafe bergaya internasional berpadu dengan kehidupan warga lokal yang sebagian besarnya adalah muslim menjadi warna tersendiri di pulau itu. Musik kencang yang diputar di bar kerap berhenti, memberi kesempatan bagi suara azan untuk berkumandang.

Bersama dengan Gili Meno dan Gili Air, Gili Trawangan adalah tiga gugusan pulau kecil yang berada di sebelah utara Lombok, sekitar 18 kilometer (km) dari Senggigi. Akan tetapi, dibandingkan Meno dan Air, Trawangan punya nuansa "pesta" yang lebih kental.

Sementara, dua gili lainnya lebih dikenal sebagai pulau “honeymoon” bagi wisatawan dengan bujet liburan yang sedikit lebih melimpah.

Gili Trawangan pertama kali didatangi wisatawan pada sekitar tahun 70an. Saat itu listrik dan menara komunikasi belum ada. Sepi dan gelap. Wisatawan hanya disuguhkan fasilitas seadanya yang disiapkan penduduk lokal keturunan Bugis.

Baru pada 15 Oktober 1996, Desa Gili Indah—wilayah administratif tiga gili—dikukuhkan menjadi desa definitif melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur NTB dengan kode desa 52.01.04.2006. Sejak itu, roda ekonomi di Gili mulai berputar.

Kini, suasana di tiga Gili seperti kembali ke tahun 70an. Gelap dan sepi. Bahkan, cenderung mencekam. Rentetan gempa yang mengguncang wilayah Lombok dalam beberapa waktu belakangan mematikan gemerlap tiga Gili.

Dermaga Trawangan yang biasanya menjadi tempat kapal-kapal bersandar untuk menurunkan wisatawan hancur lebur. Kapal-kapal kini menurunkan penumpangnya langsung di bibir pantai.

Dermaga di Gili Trawangan yang hancur akibat gempa.
Dermaga di Gili Trawangan yang hancur akibat gempa. | Ronna Nirmala /Beritagar.id

Musik di Trawangan tak lagi membahana. Suara burung dan gonggongan anjing lebih nyaring di sana. Lalu lalang sepeda dan cidomo sudah jarang terlihat.

Berjalan tanpa alas di pasir Trawangan menjadi lebih berbahaya. Pasir jadi tajam lantaran bercampur dengan pecahan kaca dan puing-puing bangunan yang runtuh.

Tak ada lagi pemandangan wisatawan asing yang asyik menggelapkan warna kulit di pantai. Wajah nonpribumi yang ada di Trawangan lebih sibuk membersihkan sisa puing-puing di kafe pun hotel yang boleh jadi menjadi milik mereka.

Bangunan layak huni yang ada di Trawangan saat ini berbentuk tenda. Penghuninya bukan wisatawan, melainkan tentara dan petugas kepolisian yang ditugaskan untuk membantu proses rehabilitasi di pulau itu, entah sampai kapan.

Villa Ombak, salah satu resor mewah di pulau itu sekarang dihuni oleh tentara yang sibuk mengangkut reruntuhan bangunan. Air pada kolam renang yang berada di muka resor berwarna keruh, akibat debu-debu yang dihasilkan dari puing-puing resor.

Letda Agus N.W, dari Markas Komando Armada Timur TNI AL Surabaya, Jawa Timur, mengatakan fokus pembenahan memang dimulai dari bangunan-bangunan resor yang menjadi urat nadi pulau ini.

Trawangan masih bisa dikunjungi. Kapal-kapal di Pelabuhan Bangsal masih melayani penyeberangan, meski frekuensinya berkurang drastis dari biasanya.

“Saat normal, kapal bisa tiga sampai empat kali bolak-balik. Sekarang, satu kali saja sudah lumayan,” kata Yadi, salah satu kaptel kapal “Kemajuan Jaya” yang melayani penyeberangan dari Bangsal ke Trawangan, kepada Beritagar.id, Minggu (20/8/2018).

Pendapatannya otomatis tergerus. Dalam satu kali antar, Yadi bisa dapat pemasukan hingga Rp600.000. Kini, bisa dapat separuhnya saja sudah lumayan.

Kendati bisa dikunjungi, aparat keamanan memberlakukan pembatasan jam kunjungan hanya sampai pukul 17.00 WITA. Lebih dari itu, aparat akan memaksa pengunjung untuk kembali ke Lombok.

“Belum bisa. Listrik belum stabil di sini. Kami tak mau ambil risiko keamanan,” sebut Brigadir Sutrisno dari satuan Brimob Polda Jawa Tengah yang bertugas di Trawangan sejak gempa besar kedua pada 5 Agustus 2018.

Apalagi pascagempa, Trawangan menjadi sasaran penjarahan. Barang-barang berharga di toko, kafe, bar, hingga hotel di Trawangan yang ditinggal pemiliknya habis dikeruk oknum. Sutrisno tak menampik hal ini.

Kafe dan hotel yang hancur dan tak berpenghuni di Gili Trawangan.
Kafe dan hotel yang hancur dan tak berpenghuni di Gili Trawangan. | Ronna Nirmala /Beritagar.id

Jumlah korban meninggal akibat gempa di Trawangan masih simpang siur. Proses evakuasi berjalan lambat lantaran pengiriman alat berat ke pulau itu terkendala akses.

Satu-satunya alat berat yang berhasil didatangkan ke pulau itu adalah hasil patungan beberapa pengusaha resor yang menyewa kapal kontainer.

Begitu juga dengan kerugiannya. Salah satu pengusaha resor, Abdullah, enggan menyebut berapa beban ongkos yang harus ditanggungnya setelah resor barunya hancur lebur.

Lebih dari seratus juta? Tanya Beritagar.id. Abdullah hanya menjawab dengan senyum, “bisa lebih dari itu”.

Di balik semua duka dan kehancuran, Yadi dan Abdullah begitu yakin Trawangan bisa lebih cepat pulih. Akhir Agustus ini, kata mereka. “Banyak orang (pengusaha) kaya di Trawangan, mereka mampu membereskan dengan cepat,” tutur Yadi.

“Trawangan gak boleh lama-lama mati. Itu nyawa dari Lombok,” tukas Abdullah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR