INTERNASIONAL

Reema binti Bandar, perempuan Saudi pertama yang jadi dubes

Reema binti Bandar ditunjuk sebagai perempuan pertama yang menjadi duta besar Arab Saudi. Ia akan bertugas di Amerika Serikat.
Reema binti Bandar ditunjuk sebagai perempuan pertama yang menjadi duta besar Arab Saudi. Ia akan bertugas di Amerika Serikat. | Boris Baldinger/World Economic Forum /Wikimedia/CC BY-SA 2.0

Untuk pertama kali dalam sejarah panjangnya, Kerajaan Arab Saudi menunjuk seorang perempuan menjabat sebagai duta besar. Tak kepalang, sang duta besar akan bertugas di negara sekutu utama, Amerika Serikat.

Perempuan berusia 44 tahun tersebut memang bukan warga biasa. Dia masih seorang keturunan keluarga Saud, penguasa Saudi. Namanya Putri Reema binti Bandar Al Saud.

Ia menggantikan Pangeran Khalid bin Salman, adik dari Pangeran Muhammad bin Salman, putra mahkota calon penerus Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud yang, saking berkuasanya, kerap disebut sebagai "penguasa de facto" kerajaan tersebut saat ini.

Pengangkatan Reema sebagai dubes untuk AS dilakukan berdasarkan Dekret Kerajaan yang dikeluarkan oleh Pangeran Muhammad bin Salman pada Jumat (23/2/2019). Demikian dituturkan Arab News, media resmi Kerajaan Saudi.

Sementara Pangeran Khalid, melalui dekret berbeda yang dirilis bersamaan, diangkat sebagai wakil menteri pertahanan Saudi.

Pengangkatan yang terkesan mendadak tersebut dipandang berbagai media sebagai cara MBS--sapaan akrab Pangeran Muhammad--untuk memperbaiki hubungan yang berkembang semakin buruk dengan AS. Penyebabnya adalah kasus pembunuhan terhadap jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, di gedung konsulat Saudi di Turki pada Oktober 2018.

Khashoggi adalah mantan orang dalam Kerajaan Saudi yang kemudian melarikan diri ke AS karena merasa nyawanya terancam ketika MBS berkuasa. Ia mendapatkan izin tinggal permanen di AS dan menjadi kolumnis untuk The Washington Post. Dalam tulisannya ia kerap mengkritik pemerintahan Saudi.

Awalnya pemerintah Saudi menyangkal Khashoggi terbunuh di gedung konsulat, tetapi kemudian mengakui adanya "agen-agen liar" dalam pemerintahan menjadi otak dan pelaku pembunuhan sadis tersebut. Beberapa tersangka telah ditangkap, termasuk dua orang dekat MBS.

Presiden AS Donald Trump dan menantunya, Jared Kushner, dikenal akrab dengan MBS. Oleh karena itu dalam beberapa kesempatan, Trump tampak ragu untuk bertindak terkait masalah pembunuhan tersebut.

Namun banyak anggota legislatif AS yang percaya MBS terlibat, menuntut agar pemerintahan Trump mengambil langkah tegas kepada Saudi dan membuktikan apakah sang pangeran terlibat atau tidak dalam pembunuhan tersebut. Selain itu, parlemen juga meminta Trump memotong bantuan bagi Saudi dalam peperangan di Yaman.

Penunjukan duta besar baru tersebut, menurut pengamat di The Guardian dan The New York Times, tampak sebagai upaya memperbarui hubungan diplomatik kedua negara, sekaligus menutup lembaran kasus pembunuhan Khashoggi.

Kristian Ulrichsen dari Baker Institute, Rice University, AS, meragukan kongres bakal begitu saja melupakan kasus tersebut. Namun Saudi, atau MBS, tampaknya percaya Reema bisa memperbaiki hubungan yang rusak tersebut.

Pengangkatan seorang perempuan sebagai duta besar juga dipandang sejalan dengan upaya sang pangeran untuk lebih memberdayakan dan memberikan kebebasan kepada perempuan di negara Islam konservatif tersebut.

Tugas yang berat menanti Reema, tetapi ia sepertinya siap untuk memanggul tanggung jawab besar itu. Meski akan menjadi diplomat untuk pertama kalinya, Reema sudah tak asing dengan diplomasi, juga dengan Amerika Serikat.

Ayahnya, Pangeran Bandar bin Sultan Al Saud, pernah lama menjabat sebagai dubes Saudi untuk AS, yaitu pada periode 1983-2005. Oleh karena itu, sebagian besar hidup Reema dihabiskan di Negeri Paman Sam. Ia adalah lulusan George Washington University dengan gelar dalam bidang museum.

Sebelum diangkat sebagai dubes, ia lebih banyak berkecimpung dalam bidang olahraga dan filantropi. Sejak 2016 Reema adalah wakil presiden urusan pemberdayaan perempuan di General Sports Authority (GSA) Saudi. Pada 2017 ia menjadi presiden Saudi Federation for Community Sports, lalu dipilih sebagai anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada 2018.

Dia terkenal aktif dalam memperjuangkan hak-hak perempuan Arab, ikut mendirikan Zahra Breast Cancer Association di Riyadh, dan anggota World Bank’s Advisory Council for the Women Entrepreneurs Finance Initiative.

Reema, yang telah bercerai dan memiliki dua anak, juga pernah aktif dalam beberapa bisnis. Mengutip Business Insider, ia adalah salah satu pendiri Yibreen, tempat senam dan spa khusus perempuan, juga pendiri serta direktur kreatif Baraboux, jenama tas tangan mewah.

Reema adalah pendukung Vision 2030, rencana pembangunan jangka panjang yang tengah dijalankan MBS. Pemberdayaan perempuan Saudi agar kreatif berbisnis menjadi salah satu upaya diversifikasi agar kerajaan itu bisa mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR