REHABILITASI PASCA-BENCANA

Rekonstruksi dampak bencana Sulteng diperkirakan butuh Rp10 T

Pekerja menyelesaikan pemotongan rangka dan besi Jembatan Kuning yang ambruk di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (20/10/2018), akibat gempa pada akhir September lalu.
Pekerja menyelesaikan pemotongan rangka dan besi Jembatan Kuning yang ambruk di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (20/10/2018), akibat gempa pada akhir September lalu. | Mohamad Hamzah /Antara Foto

Tidak hanya menelan korban jiwa, bencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi yang melanda empat daerah di Sulawesi Tengah (Sulteng); Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, juga menimbulkan kerugian materi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan, setidaknya dibutuhkan anggaran lebih dari Rp10 triliun untuk membangun kembali daerah terdampak bencana pada saat periode rehabilitasi dan rekonstruksi.

Berdasarkan pendataan dan kajian cepat yang dilakukan oleh Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, kerugian dan kerusakan akibat bencana berdasarkan data per 20 Oktober 2018 mencapai lebih dari Rp13,82 triliun. BNPB memperkirakan angka ini akan bertambah karena masih data sementara.

Dari Rp13,82 triliun tersebut, nilai kerugian mencapai Rp1,99 triliun dan kerusakan mencapai Rp11,83 triliun. Dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini meliputi kerugian dan kerusakan sektor permukiman (Rp7,95 triliun), sektor infrastruktur (Rp701,8 miliar), sektor ekonomi produktif (Rp1,66 triliun), sektor sosial (Rp3,13 tiliun), dan lintas sektor mencapai Rp378 miliar.

"Dampak kerugian dan kerusakan pada sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat," ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Minggu (21/10).

BNPB pun mendata detail bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana. Kerusakan antara lain meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, dan jembatan 7 unit.

"Data tersebut adalah data sementara, ia akan bertambah seiring pendataan yang dilakukan," kata Sutopo.

Ia menjelaskan, terjangan tsunami -- dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter dengan jangkauan terjauh mencapai hampir 0,5 kilometer -- telah menghancurkan permukiman penduduk.

Sementara fenomena likuefaksi atau pencairan tanah telah membuat tanah dan permukiman di Balaroa ambles dan terangkat. Likuefaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge, dan Sibalaya menghilangkan ribuan rumah.

Berdasarkan sebaran wilayah; kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp7,63 triliun, Kabupaten Sigi Rp4,29 triliun, Donggala Rp1,61 triliun dan Parigi Moutong mencapai Rp393 miliar. Sementara, kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana belum dilakukan perhitungan.

"Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun pemerintah dan pemda akan siap membangun kembali nantinya. Tentu membangun yang lebih baik dan aman sesuai prinsip build back better and safer," ujar Sutopo.

Hingga Minggu (21/10), BNPB mencatat sebanyak 2.256 orang meninggal dunia akibat bencana alam tersebut.

Detailnya; korban meninggal dunia tersebar di Kota Palu sebanyak 1.703 orang, Kabupaten Donggala 171 orang, Kabupaten Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu satu orang. Semua korban telah dimakamkan.

Sementara 1.309 orang dinyatakan masih hilang, lalu 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Suasana salah satu kawasan kota yang telah dialiri listrik pascagempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10).
Suasana salah satu kawasan kota yang telah dialiri listrik pascagempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10). | Wahyu Putro /Antara Foto

Listrik telah pulih

Sejak Kamis (18/10), kondisi kelistrikan di wilayah terdampak bencana di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, hampir 100 persen pulih. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menegaskan bahwa infrastruktur hampir kembali seperti semula.

"Kalau infrastruktur listrik sudah hampir selesai, sudah hampir kembali sama seperti sebelum terjadinya gempa bumi dan tsunami. Kecuali untuk daerah-daerah yang bangunannya sudah ambruk. Itu harus menunggu bangunannya selesai dulu," ujar Jonan dilansir dari laman resmi Sekretariat Kabinet, Minggu (20/10).

Menurut data rilisan PT PLN (Persero), seluruh tujuh gardu induk telah beroperasi kembali -- termasuk 2.049 gardu distribusi yang telah beroperasi -- memasok 101 megawatt (MW) listrik untuk Palu. Sementara daya yang tersedia di atas beban puncak sebesar 81,72 MW.

Sebanyak 45 penyuling (feeder) yang telah pulih 100 persen mengalirkan listrik bagi pelanggan prioritas. Masing-masing 15 perkantoran, dua PDAM, delapan rumah sakit, 10 bank dan ATM, 11 SPBU, 18 BTS, 17 pusat ekonomi, dan 17 tempat ibadah.

Selain itu, 77 genset telah tiba di Palu. Sebanyak 68 genset di antaranya telah didistribusikan ke berbagai daerah di Palu, Donggala, dan Sigi. Sementara delapan alat berat dan alat bantu seperti crane, mobil, dan sepeda motor juga telah dikerahkan sebagai armada pendukung percepatan perbaikan jaringan.

Sedangkan soal pembangunan kembali Kota Palu, Jonan telah menugaskan Badan Geologi Kementerian ESDM untuk memberikan pendampingan dan rekomendasi wilayah mana saja yang dapat dijadikan hunian.

Ia mengatakan, saat ini Badan Geologi mendampingi pemerintah provinsi untuk memberikan rekomendasi wilayah-wilayah yang dapat dibangun menjadi hunian atau kegiatan lain, serta wilayah-wilayah yang disarankan tidak dibangun sama sekali.

"Sekarang sedang berunding, karena melibatkan kementerian dan lembaga lain," pungkas Jonan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR