REHABILITASI PASCA-BENCANA

Rekonstruksi rumah di Lombok harus jauh dari sesaran gempa

Sejumlah remaja pengungsi korban gempa bumi meminta bantuan di tengah jalan di sekitar lokasi tempat pengungsian darurat di Kayangan, Lombok Utara, NTB, Minggu (12/8/2018). Masih terdapat pengungsi yang belum mendapat bantuan karena sulitnya akses untuk menjangkau lokasi pengungsi..
Sejumlah remaja pengungsi korban gempa bumi meminta bantuan di tengah jalan di sekitar lokasi tempat pengungsian darurat di Kayangan, Lombok Utara, NTB, Minggu (12/8/2018). Masih terdapat pengungsi yang belum mendapat bantuan karena sulitnya akses untuk menjangkau lokasi pengungsi.. | Zabur Karuru /Antara Foto

Rekonstruksi bangunan serta ekonomi menjadi fokus pemerintah saat ini pasca-gempa yang terjadi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Senin (13/8/2018), Presiden Joko “Jokowi” Widodo secara langsung menginstruksikan jajarannya untuk memverifikasi data rumah-rumah yang rusak berat, sedang, dan ringan di seluruh wilayah terdampak. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat proses penyaluran bantuan untuk tiap kepala keluarga.

Laporan situs resmi Sekretariat Kabinet RI menyebut alokasi dana yang diberikan untuk tiap satu rumah dengan kerusakan berat adalah Rp50 juta, kerusakan sedang sebesar 25 juta, dan rusak ringan sebesar Rp10 juta.

Dalam pengerjaannya, Jokowi menginstruksikan TNI dan Polri untuk turut membantu proses pembangunan rumah-rumah warga yang hancur.

Sebagai wilayah yang rawan gempa, Jokowi juga menitikberatkan pembangunan rumah-rumah warga mengacu pada prinsip konstruksi RISHA atau Rumah Instan Sederhana Sehat. Belum jelas seperti apa konstruksi RISHA ini, namun koordinasi pembangunannnya nanti akan dikawal oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut 67.875 unit rumah rusak, 606 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit musala rusak, dan 20 bangunan perkantoran rusak. Dari seluruh kerusakan itu diperkirakan kerugian ekonomi yang didapat akibat gempa ini mencapai lebih dari Rp5,04 triliun.

Demi membangun geliat ekonomi di wilayah terdampak, rekonstruksi fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, hingga pasar-pasar juga dikebut. “Nanti sekolahnya akan dibangun oleh Pak Menteri Pekerjaan Umum (Basuki Hadimuljono). Tapi memang butuh waktu,” kata Jokowi.

Di luar dari rekonstruksi bangunan, proses penyaluran bantuan untuk warga di wilayah terpencil juga dioptimalkan. Ada empat helikopter yang hari ini, Selasa (14/8/2018), ditugaskan khusus untuk mengirimkan bantuan ke wilayah yang belum terjangkau akibat akses jalan yang terputus.

“Masih ada satu, dua, tiga desa yang belum terjangkau karena posisinya menuju ke puncak Gunung Rinjani yang tidak bisa dijangkau oleh motor apalagi mobil,” sambung Jokowi dalam lansiran CNN Indonesia.

Terkait masalah sanitasi, Jokowi juga memastikan bantuan berupa 200 toilet portable dari Kementerian PUPR akan segera datang dan dipasang di sejumlah lokasi pengungsian.

Di sisi lain, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan pembangunan kembali bangunan warga digeser dari zona pergeseran tanah dan retakan gempa. Sebab, salah satu penyebab bangunan roboh lantaran berada di lintasan retakan.

Kepala PVMBG Kasbani mengukur pergeseran bisa diukur pada jarak 20 meter dari retakan. Dalam laporan Tempo.co, Kasbani menjelaskan, retakan muncul akibat pergerakan sesar naik yang dipicu oleh dua gempa berkekuatan besar, yakni pada 29 Juli dan 5 Agustus.

Akibat retakan itu, terjadi juga pergerakan tanah yang naik dengan tinggi bervariasi antara 2 sentimeter (cm) hingga 50 cm. PVMBG memberi nama sesar baru ini Sesar Naik Lombok Utara.

Sesar Naik Lombok Utara ini diprediksi berasosiasi dengan sesar naik busur belakang Flores yang sebarannya berada di utara Pulau Lombok, Subawa, Flores, hingga Wetar.

Adapun wilayah-wilayah yang berada di retakan utama antara lain Desa Sambik Bengkol, Kecamatan Gangga; Dusun Beraringan, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan; serta Desa Selengan, Kecamatan Kayangan.

Daerah ini, sambung Kasbani, tersusun dari endapan kuarter rombakan gunung api muda (lava, batuan tuff, dan batuan breksia) yang telah mengalami pelapukan dan endapan aluvial pantai.

“Karateristik ini yang cenderung memperbesar guncangan gempa bumi,” ujar Kasbani.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR