BANJIR DAN LONGSOR

Relokasi warga Sentani tunggu tanah dari pemda

Warga berada di antara sampah yang terbawa akibat meluapnya danau Sentani di Waena Jayapura, Papua, Jumat, (29/3/2019).
Warga berada di antara sampah yang terbawa akibat meluapnya danau Sentani di Waena Jayapura, Papua, Jumat, (29/3/2019). | Gusti Tanapi /AntaraFoto

Pemerintah Pusat mendesak Pemerintah Provinsi Papua untuk bergerak cepat dalam membangun ulang rumah warga yang terdampak banjir di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyatakan warga yang menjadi korban tak mungkin kembali lagi ke tempat tinggalnya. Selain bangunan yang rusak, lokasi tempat tinggal mereka masuk dalam zona merah bencana.

Pemerintah Pusat bakal membantu proses pembangunan tersebut, tegas Jokowi. Namun, pemerintah daerah yang harus menentukan lokasi relokasi.

“Tanahnya saja belum ketemu. Kalau tanahnya sudah ketemu, sudah dibebaskan gubernur dan bupati, baru masuk pembangunan rumah. Tapi, pembangunan rumah akan kami lakukan cepat. Begitu tanah ada, langsung hari itu juga kami bangun," janji Jokowi di GOR Touware, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Senin (1/4/2019).

Selain relokasi warga, Pemerintah Pusat juga meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)—dibantu pemerintah setempat—mulai pengerjaan rencana antisipasi jangka panjang atas bencana yang mungkin terulang kembali.

Salah satu langkah antisipasi yang dimaksudnya adalah rehabilitasi kawasan Pegunungan Cycloop.

Selain rehabilitasi, rencana jangka pendek yang bisa dikejar adalah pembangunan tanggul untuk melindungi kawasan pemukiman warga.

Dalam hal ini, mantan Gubernur DKI Jakarta itu memilih langsung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menindaklanjuti rencana tersebut.

“Tadi ada beberapa jaminan dari Menteri PUPR (Basuki Hadimuljono) akan dibuat tanggul dan dam di atas,” tutur Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, sebuah nota kesepahaman antara BNPB bersama sejumlah pihak ditandatangani untuk mempercepat pemulihan kawasan cagar alam Pegunungan Cycloop, Danau Sentani, dan daerah aliran Sungai Sentani Tami.

"Semua dilibatkan agar pengerjaan lapangan cepat dan agar segera dikerjakan. Semua tadi, BNPB, gubernur, bupati, gereja, semuanya dilibatkan," tukas Jokowi.

Kepala BNPB Letjen Doni Monardo sebelumnya menyebut tiga faktor yang diduga menjadi penyebab banjir bandang di Sentani.

Pertama, faktor topografi kemiringan lereng di Cagar Alam Cycloop yang terjal dan memiliki lapisan tanah sangat tipis serta ditumbuhi tanaman. Ketika satu saja tanaman terpotong, itu akan terkupas dan longsor.

“Tingkat kemiringan yang lebih dari 40 derajat, longsor akan terjadi sangat cepat," ujar Doni.

Faktor kedua adalah intenstitas hujan secara ekstrem yang mengguyur Kabupaten Jayapura sepanjang Sabtu (16/3/2019) malam. Intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu 5 jam 30 menit. Akibat daya tampung yang terbatas, air dengan sangat cepat mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Faktor terakhir adalah permukiman yang dibangun warga dan pembukaan hutan di lereng Cycloop.

Gunung Cyclopp merupakan bagian dari kawasan cagar alam di dalam pegunungan Robhong Holo yang membentang di Kabupaten Jayapura dari barat ke timur sejauh 36 kilometer.

Pembentukan Kawasan Cagar Alam Gunung Cyclopp disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 56/Kpts/Um/1/1978 tanggal 26 Januari 1978 dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 365/Kpts-II/1987 tanggal 18 November 1987 dengan luas 22.500 hektare.

Selanjutnya, status kawasan itu kembali ditegaskan melalui PP Nomor 28 Tahun 1985 dan SK Menteri Kehutanan No.365/Kpts-II/87. Pada 2012 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.782/Menhut-II/2012/ Luasnya meningkat menjadi 31.479,84 hektare.

Menurut laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) USAID Lestari, sepanjang 1990-2014 terjadi perambahan hutan seluas 2.570 hektare. Perambahan dilakukan demi permukiman warga, berladang, pembalakan liar, dan perburuan satwa.

Perambahan hutan di Robhong Holo menurun 32 hektare sepanjang 2015-2017. Penurunan angka ini disebut-sebut berkat kerja sama USAID Lestari, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, dan Dinas Kehutanan, serta polisi kehutanan yang rutin berpatroli.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR