TERORISME

Remaja Berau tersangkut kasus terorisme JAD Sibolga

Foto ilustrasi pengakapan terduga teroris.
Foto ilustrasi pengakapan terduga teroris. | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Detasemen Khusus Anti Teror 88 Mabes Polri membekuk pemuda tanggung asal Berau Kalimantan Timur (Kaltim), MZ (19) alias Abu Arkam, atas tuduhan terorisme. MZ ditangkap setelah menetap di kediaman Rajis sang ayah kandungnya di Tanjung Redeb, Berau.

"Dia baru saja 1,5 bulan menetap di Tanjung Redeb," kata Rajis saat dihubungi Beritagar.id, Kamis (21/3/2019).

Rajis mengatakan, beberapa tahun terakhir anaknya ini menetap bersama mantan istrinya di Makassar, Sulawesi Selatan. MZ melanjutkan pendidikan agama di pondok pesantren Makassar selepas lulus sekolah menengah pertama (SMP) di Berau.

"Anak saya mengunjungi saya di sini setelah beberapa tahun di Makassar. Tidak tahan sekolah di pondok," ungkapnya.

Selama interaksi singkat ini di kediamannya, Rajis menilai tidak ada perilaku yang menyimpang ditunjukkan MZ. Aktivitas keseharian sosok pemuda pendiam ini pun hanya seputar antar jemput adiknya di sekolah taman kanak kanak.

"Selain itu hanya bermain ponsel di rumah saja, tidak ada yang aneh," sebutnya.

Barulah tiga hari lalu misteri perilaku MZ terungkap, Selasa (19/3). Rajis dikagetkan kedatangan belasan polisi berbaju sipil dan aparat desa untuk menggeledah rumahnya. "Polisi bertanya, apakah saya orang tua MZ? Mereka ingin memeriksa rumah atas penangkapan MZ," ungkapnya.

Rajis pantas kaget mengingat putranya sejak pagi meminta izin pergi ke luar rumah. Ia sempat mengkhawatirkan putranya ini yang tidak memberi kabar hingga sore hari.

"Tahu-tahu datang banyak polisi memeriksa rumah terkait anak saya,” tuturnya.

Dalam pemeriksaan itu, Rajis menyebutkan, polisi tidak menemukan alat bukti yang menguatkan tuduhan pasal pasal terorisme. Ia hanya berharap polisi segera melepaskan anaknya bila tidak ditemukan bukti sesuai tuduhan.

"Polisi tidak menemukan apa apa dalam pemeriksaan. Cuma buku catatan saja, polisi bilang kalau tidak ada yang memberatkan akan segera dilepaskan. Saya nanti akan dipanggil guna pemeriksaan," ujarnya.

Proses penangkapan MZ berlangsung cepat tanpa diketahui banyak pihak. Pemuda ini bahkan langsung diterbangkan ke Mabes Polri guna menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Pemeriksaan tersangka tidak dilakukan di Polres Berau. Silakan hubungi Mabes Polri soal penanganan kasus itu,” kata Kepala Polres Berau, Ajun Komisaris Besar Pramuja Sigit Wahono.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menyatakan, MZ sudah menyandang status tersangka atas tuduhan terorisme. Pemeriksaan tersangka lantas diintensifkan di Mabes Polri di Jakarta.

“Sudah berstatus tersangka serta langsung dibawa ke Jakarta,” paparnya.

Dedi menerangkan, MZ punya beberapa nama alias, misalnya Abu Arkam dan Muhammad Al Indunisiy. Tersangka disebut sebut punya keterkaitan dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sibolga, Sumatra Utara (Sumut).

Warga Sibolga sempat digemparkan aksi nekat istri tersangka terduga teroris yang meledakkan diri bersama anak kandungnya, Selasa (12/3). Daya ledak bom bunuh diri perempuan nahas ini bahkan merusak 155 rumah di Kelurahan Pancuran, Sibolga Sambas, Sibolga, Sumut.

MZ terindikasi memiliki hubungan erat dengan jaringan JAD, termasuk Abu Hamzah yang sudah dibekuk polisi. MZ diketahui berkomunikasi aktif dengan jaringan kelompok JAD dan bertujuan melawan siapapun yang berseberangan dengan ISIS.

Dalam pemeriksaan pun diketahui MZ berniat melakukan amaliah merampok bank sebagai modal jihad. Mereka pun menyebut polisi dengan istilah thogut sebagai sasaran utama serangan pelaku teror tunggal (lone wolf) ini.

"Sudah ada rencana merampok bank sebagai modal jihad pelaku ini," tuturnya.

Sesuai informasi terbaru itu, polisi bereaksi cepat menangkap MZ di Jalan Durian III, Kelurahan Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Berau, Selasa (19/3) pukul 09.20 WITA.

"Ditangkap tanpa perlawanan dan langsung dibawa guna menjalani pemeriksaan," tegas Dedi.

Polisi terus mengembangkan penyidikan kasus pengungkapan jaringan teroris JAD Sibolga di Indonesia. Sejauh ini sudah ada delapan tersangka JAD Sibolga yang dilakukan penahanan sejak awal Maret lalu.

Polisi pun berhasil menyita 300 kilogram bahan peledak aktif yang dipergunakan dalam rencana aksi teror di tanah air.

Rekam jejak teror kerap muncul di kota/kabupaten Kaltim. Polisi berulang kali membekuk tersangka teror yang tengah bersembunyi dari kejaran aparat.

Awal Januari 2016, Densus menangkap pelarian teror Ambon yang bersembunyi di Balikpapan. Sepuluh bulan setelahnya, ibu kota provinsi Samarinda diguncang bom molotov Gereje Oikumene berujung jatuhnya korban jiwa setempat. Aksi teror dilakukan residivis teror dari Jawa.

Jauh sebelumnya, Kaltim menjadi saksi penangkapan pelaku pengeboman di Bali, Ali Imron, di Pulau Brukang Samarinda, Januari 2003. Adik kandung Amrozi ini diduga hendak kabur ke Malaysia pasca-pengeboman yang memakan 180 korban jiwa tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR