INTERNASIONAL

Rencana absurd Trump membeli Greenland

Pemandangan Desa Upernavik di belahan barat Greenland, 11 Juli 2015. Pemerintah AS berencana untuk membeli pulau terbesar di dunia ini.
Pemandangan Desa Upernavik di belahan barat Greenland, 11 Juli 2015. Pemerintah AS berencana untuk membeli pulau terbesar di dunia ini. | Linda Kastrup /EPA-EFE

Greenland mendadak menjadi perhatian dunia. Penyebabnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan niat pemerintah AS untuk membeli pulau terbesar di dunia itu. Saat ini daratan di kawasan Arktika (Kutub Utara) itu adalah daerah otonom bagian dari Kerajaan Denmark, yang menegaskan keinginan Trump itu absurd.

Kabar itu pertama disiarkan oleh koran AS, The Wall Street Journal, Kamis (15/8/2019). Kemudian The Washington Post (16/8) mendapat konfirmasi dari sumber di Gedung Putih bahwa rencana pembelian itu kerap dibahas Trump dalam beberapa pekan terakhir. Mereka masih menunggu seberapa serius sang Presiden dengan omongannya.

Lalu, pada Minggu (18/8), Trump mengonfirmasi rencana itu. Menurutnya, rencana itu seperti "pembelian real estate skala besar". Greenland, lanjutnya, memiliki arti strategis yang penting bagi AS.

Tapi, presiden yang pernah menjadi salah satu raja real estate di AS itu menegaskan, pembelian Greenland belum masuk dalam prioritas pemerintahannya saat ini.

Denmark dan Greenland menolak

Rencana tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Denmark dan Greenland.

"Greenland tidak dijual. Greenland bukan milik orang Denmark. Greenland milik warga Greenland," tegas Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen (h/t CNN.com).

Pemerintah Greenland, melalui Twitter, juga mengeluarkan pernyataan serupa.

Luas pulau ini mencapai 2.166.086 km persegi--nyaris tiga kali lipat luas Kalimantan secara keseluruhan--namun 1,7 juta km perseginya tertutup es. Penduduknya mencapai 56.000 orang.

Greenland adalah wilayah Kerajaan Denmark sejak abad ke-14, tetapi memiliki otoritas dan pemerintahan sendiri. Mereka masih tergantung pada Denmark untuk urusan luar negeri dan pertahanan.

Warga Greenland telah lama ingin melepaskan diri dari Denmark, tetapi masih butuh dana dari negara itu untuk bertahan hidup. Menurut Trump, Denmark menghabiskan AS$700 juta per tahun untuk membantu Greenland.

Kaya mineral dan strategis

AS pernah mencoba membeli Greenland pada 1946. Ketika itu Presiden Harry Truman menawarkan AS$100 juta tetapi ditolak Denmark.

Posisinya yang strategis--penghubung Amerika dengan Eropa Utara, juga dekat dengan Tiongkok dan Rusia--dan kekayaan mineral adalah daya tarik pulau yang telah dihuni sejak 4.500 tahun lalu itu.

LiveScience memaparkan bahwa negeri itu kaya mineral seperti bijih besi, timah, seng, berlian, emas, rare earth mineral (REE), uranium, dan minyak. Walau demikian, karena kondisi alam yang ganas, butuh upaya besar untuk mengekstraksi kekayaan alam tersebut.

Tiongkok, yang menyatakan diri sebagai "negara di dekat Arktika" sempat berencana berinvestasi dengan membangun tiga bandara di Greenland. Rencana itu dibatalkan tahun lalu tanpa alasan jelas.

Menurut Washington Post, saat mengetahui rencana Tiongkok, pemerintah AS mengatakan kepada pemerintah Denmark untuk membiayai sendiri pembangunan bandara itu ketimbang menyerahkannya kepada Tiongkok.

Tiongkok tahun lalu juga mengumumkan rencana pengembangan "Polar Silk Road" (Jalur Sutera Kutub) untuk mengirimkan produk mereka ke Eropa lewat laut sekitar Arktika.

Sementara itu, Rusia juga berkepentingan dengan kawasan Arktika. Sejak 2013 mereka telah memperbarui sistem pertahanan di Arktika dengan dana miliaran dolar AS. Rencana Trump untuk membeli Greenland pastinya akan amat mereka cermati.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR