Rencana impor gula sebelum musim giling menuai protes petani

Seorang buruh tani mengangkat tebu yang akan dibawa ke Pabrik Gula (PG) Jati Tujuh di Sumedang, Jawa Barat, Kamis, 17 Juli 2014.
Seorang buruh tani mengangkat tebu yang akan dibawa ke Pabrik Gula (PG) Jati Tujuh di Sumedang, Jawa Barat, Kamis, 17 Juli 2014. | Aditya Herlambang Putra /TEMPO

Sejumlah petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menolak rencana pemerintah untuk melakukan impor gula mentah atau raw sugar sebanyak 381.000 ton.

Ketua APTRI, Sumitro Samadikun, mengatakan rencana impor gula mentah tidak tepat waktu. Karena seharusnya dilakukan usai musim giling tebu yang baru dimulai di pertengahan Mei tahun ini.

"Musim giling saja belum selelsai sudah mau impor. Lihat dulu kekurangan gula setelah musim giling, baru kemudian dihitung kekurangan untuk impor," kata Sumitro, dalam detikFinance, Senin (23/5/2016).

Soemitro menanggapi terbitnya surat Menteri BUMN Nomor: S-289/MBU/05/2016 pada 12 Mei 2016 mengenai Impor Raw Sugar tahun 2016, padahal dasar penghitungan maupun alasan impor tersebut belum jelas sepenuhnya.

Berbeda dengan komoditas lain seperti beras atau daging, konsumsi per kapita gula tak terlalu tinggi, sehingga dampak pada pengeluaran masyarakat juga tak terlalu besar.

Secara rata-rata, konsumsi gula orang Indonesia adalah 1 kilogram per buan.

"Itu sangat kecil, artinya kalau harga sebelumnya Rp13.000 per kilogram naik jadi Rp16.000 per kilogram, pengeluaran satu orang untuk gula selama sebulan hanya naik Rp3.000 per kilogram. Ini berbeda dengan daging, beras, atau komoditas lain yang memang harus dibantu," sambung Sumitro.

Sebaliknya, lanjut dia, impor gula mentah akan langsung direspons pasar dengan penurunan harga. Imbasnya, petani mengalami kerugian dan membuat petani malas menanam tebu kembali.

"Swasembada akhirnya tidak pernah tercapai karena luas tanaman tebu tak pernah bertambah, malah berkurang terus," tambahnya.

Dilansir Antara, kebijakan impor gula mentah dengan alasan kompensasi agar PTPN dan PT RNI menjamin rendemen minimal 8,5 persen juga dinilai Sumitro sebagai kebijakan instan dan tidak mendidik, apalagi rendemen rendah terjadi karena pabrik gula tidak efisien.

Sumitro berujar, ketimbang mendorong peningkatan rendemen lewat impor gula mentah, sebaiknya pemerintah fokus merevitalisasi pabrik-pabrik gula peninggalan Belanda yang sudah ada. Peningkatan rendemen juga sifatnya bukan sementara seperti halnya dengan impor.

"Tak perlu banyak, satu tahun cukup revitalisasi 10 pabrik gula, itu sudah cukup, duitnya sekitar Rp1 triliun. Sudah banyak bukti di pabrik gula milik swasta. Di Jawa Timur pun pabrik gula milik Rajawali yang sudah direvitalisasi sudah bisa di atas 8,5 persen," jelasnya.

Sebagai informasi, gula mentah sebanyak 381.000 ton akan diimpor oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, jatah kuota impor itu nantinya akan dialokasikan untuk PG milik 5 BUMN untuk diolah menjadi gula kristal putih (GKP).

Pabrik gula terus menyusut

Saat masih di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, Indonesia pernah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia. Puncaknya terjadi pada tahun 1929-2930. Produksi gula nusantara tembus lebih dari 3 juta ton.

Kala itu ada 179 pabrik gula yang dibangun oleh Belanda yang sebagian besarnya berada di Pulau Jawa. Akan tetapi, satu per satu pabrik gula yang dikelola BUMN tersebut gulung tikar dan menyisakan hanya 50 pabrik saja.

Sumitro menuturkan, masalah ditutupnya sebagian besar PG berpangkal dari rendahnya tingkat rendemen dari mesin-mesin tua peninggalan Belanda. Di sisi lain, peremajaan PG tak banyak dilakukan oleh BUMN-BUMN perkebunan.

"Pabrik gula ini sama kaya mobil, kalau sudah tua harus diganti," katanya.

Kondisi ini pun membuat petani gula Indonesia jadi kalah jauh tertinggal dengan Thailand. Di Indonesia tingkat rendemen (kelebihan pendapatan produksi) rata-rata 7,5 persen. Sementara Thailand bisa mencapai 13 persen.

Sumitro mencontohkan, dengan tingkat rendemen 7,5 persen, dari 100 ton tebu dari kebun petani hanya menghasilkan 7,5 ton gula. Kalau harga gula Rp10.000 per kilogram, didapat hasil Rp75 juta.

Misalnya bagi hasil 70 persen petani, dan 30 persen pabrik gula, artinya petani mendapat hasil Rp52,5 juta. Ditambah dari tetes tebu total dia mendapat Rp 57 juta. Sementara biaya perawatan, sewa lahan, dan sebagainya per hektar Rp54 juta. Petani hanya untung Rp3 juta per hektar.

Sementara dengan rendemen 13 persen, petani Thailand bisa menikmati manisnya gula yang lebih besar. Dengan produktivitas yang sama yakni 100 ton per hektar, bisa dihasilkan gula sebanyak 13 ton.

"Ini rahasia kenapa Thailand bisa jual gula lebih murah daripada kita. Karena petani tebu Thailand bisa menjual gula Rp10.000 per kilogram saja sudah untung," ungkapnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR