Rendahnya penetrasi AC di kota-kota makmur

Perbandingan kepemilikian AC dengan PDRB per kapita, 2018.
Perbandingan kepemilikian AC dengan PDRB per kapita, 2018. | Lokadata /Lokadata

GERAH | Dengan cuaca tropis yang panas dan lembap, Indonesia sebenarnya merupakan pasar pendingin ruangan (air conditioner – AC) yang dahsyat.

Saat ini, penetrasi AC di pasar Indonesia masih sangat rendah. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2018 menunjukkan hanya ada lima juta rumah tangga (atau 8,4 persen dari total rumah tangga) Indonesia yang memiliki AC. Ini jauh di bawah penetrasi produk elektronik lain, seperti kulkas atau pesawat televisi, yang masing-masing mencapai 75 persen dan 90 persen.

Rendahnya penetrasi pasar AC terutama disebabkan lantaran biaya pemakaian listrik yang tinggi. Itu sebabnya, para produsen elektronika kini berlomba menciptakan AC cerdas yang hemat energi – yang secara otomatis bisa menyesuaikan dengan kebutuhan ruangan.

Seiring dengan pertumbuhan jumlah kelas menengah, peningkatan standar hidup dan derasnya urbanisasi, permintaan terhadap mesin penyejuk ruangan terus menanjak.

Pengolahan data Susenas 2018 menunjukkan, populasi AC di sejumlah kota, sudah sangat padat. Di Tangerang Selatan dan Banda Aceh, misalnya, dari tiap 10 rumah, empat di antaranya sudah dilengkapi dengan AC.

Yang menarik, kota-kota “kaya AC” itu termasuk wilayah dengan pendapatan per kapita menengah (tidak tinggi). Pendapatan per kapita Tangerang Selatan Rp45 juta, dan Banda Aceh Rp60 juta, hanya sedikit di atas rata-rata nasional yang saat ini mencapai Rp40 juta per kapita per tahun.

Sementara itu, penetrasi AC di kota-kota dengan pendapatan per kapita sangat tinggi (kami sebut sebagai kota makmur), malah cenderung rendah. Kota Kediri dengan pendapatan per kapita Rp291 juta per tahun, misalnya, hanya 6,9 persen. Begitu juga Tenggarong (ibukota Kutai Kartanegara) yang pendapatan per kapitanya mencapai Rp182 juta per tahun.

Rendahnya penetrasi AC di kota-kota makmur yang cuacanya ekstra-panas seperti Kediri, Tenggarong, Sangatta (ibukota Kabupaten Kutai Timur), Kepulauan Anambas, Teluk Bintuni, dan Natuna, boleh jadi menunjukkan potensi pasar AC yang sangat besar – terutama jika prasarana umum (seperti jalan raya dan listrik) di wilayah tersebut lebih memadai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR