GEGER HOAKS

Rentetan hoaks yang berdampak sepanjang 2018

Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin (8/10/2018). Aksi tersebut menuntut Ratna Sarumpaet segera meminta maaf kepada warga Bandung dan meminta aktivis itu diadili karena telah melakukan kebohongan publik yang meresahkan.
Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin (8/10/2018). Aksi tersebut menuntut Ratna Sarumpaet segera meminta maaf kepada warga Bandung dan meminta aktivis itu diadili karena telah melakukan kebohongan publik yang meresahkan. | Novrian Arbi /Antara Foto

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) merilis data 10 konten hoaks atau berita bohong paling berdampak sepanjang 2018. Kasus "penganiayaan palsu" Ratna Sarumpaet memimpin daftar konten hoaks versi Kemkominfo.

Penyusunan dan proses identifikasi hoaks paling berdampak itu menggunakan mesin pengais konten Sub-Direktorat Pengendalian Konten Internet Direktorat Pengendalian Informatika Ditjen Aplikasi Informatika Kemkominfo.

Adapun dampak yang ditimbulkan dari sebaran konten hoaks itu relatif beragam. Mulai dari menimbulkan keresahan dan ketakutan di sebagian kelompok masyarakat hingga menjadi perhatian nasional melalui pemberitaan media massa.

Selain bisa memprovokasi dan menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat, hoaks juga berdampak sangat buruk --baik psikologis, sosial, maupun fisik.

Berikut ini konten terindikasi hoaks yang memiliki dampak selama 2018:

1. Hoaks Ratna Sarumpaet

Pemberitaan penganiayaan Ratna Sarumpaet oleh sekelompok orang pertama kali beredar dalam Facebook per tanggal 2 Oktober 2018 pada akun Swary Utami Dewi. Unggahan itu disertai tangkapan layar (screenshoot) aplikasi pesan WhatsApp yang disertai foto Ratna.

Konten tersebut kemudian viral melalui Twitter dan diunggah kembali serta dibenarkan beberapa tokoh politik tanpa melakukan verifikasi pada kebenaran berita tersebut.

Setelah ramai diperbincangkan, konten hoaks ditanggapi kepolisian yang melakukan penyelidikan setelah mendapatkan tiga laporan mengenai dugaan hoaks pada pemberitaan tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan Kepolisian, Ratna diketahui tidak dirawat di 23 rumah sakit dan tidak pernah melapor ke 28 Polsek di Bandung dalam kurun waktu 28 September sampai dengan 2 Oktober 2018. Saat kejadian yang disebutkan pada 21 September, Ratna diketahui tidak sedang di Bandung.

Hasil penyelidikan justru menunjukkan Ratna datang ke Rumah Sakit Bina Estetika di Menteng, Jakarta Pusat, pada 21 September 2018 sekitar pukul 17.00 WIB.

Direktur Tindak Pidana Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol, Nico Afinta, mengatakan Ratna telah melakukan perjanjian operasi plastik wajahnya pada 20 September 2018 dan tinggal di RS tersebut hingga 24 September. Polisi juga menemukan sejumlah bukti berupa transaksi dari rekening Ratna ke klinik tersebut.

2. Hoaks gempa susulan di Palu

Isu terjadinya gempa susulan di Palu, Sulawesi Tengah, menyebar melalui aplikasi Whatsapp dan sempat menimbulkan keresahan masyarakat. Berita itu berdampak langsung kepada korban gempa dan tsunami yang masih mengalami trauma.

Dalam pesan berantai tersebut tertulis bahwa Palu dalam keadaan siaga 1. Pesan tersebut menyebutkan bahwa akan terjadi gempa susulan berkekuatan 8,1 SR dan berpotensi tsunami besar.

Isu tersebut langsung dibantah oleh Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. Melalui akun Twitter, Sutopo menegaskan tidak ada satu pun negara di dunia dan iptek yang mampu memprediksi gempa secara pasti.

3. Hoaks penculikan anak

Hoaks penculikan anak beredar di media sosial media seperti Facebook, Twitter dan aplikasi pesan singkat Whatsapp. Orang tua pun resah. Di Twitter, hoaks yang beredar menyatakan pelaku penculikan anak tertangkap di Jalan Kran Kemayoran, Jakarta Pusat.

Kapolsek Kemayoran Kompol Saiful Anwar langsung membantah. Ia mengatakan kabar penangkapan pelaku penculikan tersebut tidak benar. Ia mengatakan laki-laki dalam video yang beredar adalah seorang tukang parkir yang mengidap gangguan jiwa.

Tidak hanya di Kemayoran, di beberapa daerah juga beredar hoaks serupa dengan tambahan ilustrasi gambar yang bervariasi. Hoaks itu menjadi isu nasional yang sangat mengkhawatirkan dan meresahkan masyarakat.

4. Hoaks konspirasi imunisasi dan vaksin

Salah satu hoaks tentang vaksin imunisasi yang cukup viral adalah isu konspirasi penyebaran virus atau penyakit melalui vaksin. Dikabarkan vaksin yang digunakan imunisasi mengandung sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah.

Isu yang tidak benar itu menimbulkan dampak yang luar biasa terhadap stigma masyarakat Indonesia tentang Imunisasi. Imbasnya masyarakat menjadi ragu bahkan takut untuk memberikan imunisasi pada anak-anak mereka.

5. Hoaks rekaman black box Lion Air JT610

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan terkait penemuan kotak hitam (black box) pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang ditemukan oleh tim SAR gabungan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (1/11/2018).
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan terkait penemuan kotak hitam (black box) pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang ditemukan oleh tim SAR gabungan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (1/11/2018). | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan laut Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018), menjadi isu yang banyak diperbincangkan di berbagai ruang publik dan media sosial. Bersamaan dengan itu bermunculan pula berbagai isu meliputi berita, foto dan video yang disinformasi bahkan hoaks terkait kecelakaan tersebut.

Salah satunya beredar pula video di platform YouTube yang diunggah oleh channel "Juragan Batik Reborn" pada tanggal 29 Oktober 2018. Video itu berjudul "LION AIR JT610 Mengerikan Hasil Rekaman BLACK BOX".

Video tersebut bukan isi rekaman dari kotak hitam Lion Air JT610, tetapi tanggapan seseorang terkait video MAP detik-detik Lion Air JT610 hilang kontak. Jadi, judul video tidak sesuai dengan isinya sehingga dikategorikan sebagai konten disinformasi/hoaks.

Adapun kotak hitam Lion Air JT610 ditemukan oleh Tim SAR TNI AL yang dipimpin oleh Panglima Komando Armada I Laksamana Muda Yudo Margono. Kotak yang berisi informasi penerbangan ini ditemukan pada kedalaman 30 meter pada Kamis, 01 November 2018 pukul 10.15 WIB.

Kabar hoaks ini tentu menimbulkan banyak spekulasi dan keresahan di kalangan masyarakat, mengingat banyaknya jumlah korban pada tragedi maut tersebut.

6. Hoaks telur palsu atau telur plastik

Pada awal 2018 masyarakat Indonesia digegerkan dengan berita hoaks mengenai telur palsu atau telur plastik yang beredar di pasar tradisional dan supermarket. Berbagai foto dan video terkait proses pembuatan telur palsu banyak diunggah ke YouTube dan media sosial. Bahkan beberapa mengatakan bahwa telur-telur itu diproduksi di Tiongkok.

Masyarakat dibuat resah karena telur merupakan salah satu makanan sumber energi yang dekat dengan konsumsi masyarakat Indonesia. Isu tersebut juga merugikan peternak ayam petelur dan para penjual telur.

Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Mabes Polri turun langsung ke lapangan guna menyikapi peredaran berita-berita mengenai telur palsu yang ternyata hoaks.

7. Hoaks penyerangan tokoh agama sebagai tanda kebangkitan PKI

Hoaks tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebenarnya bukanlah isu baru. Tapi isu ini menjadi makin viral pada tahun 2018, seiring dengan dinamika politik.

Beberapa kejadian seolah dikaitkan dengan kebangkitan PKI. Pada awal 2018 terjadi kasus pemukulan terhadap seorang kyai atau tokoh agama. Setelah tertangkap pelakunya ternyata adalah orang gila.

Beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab menarasikan kejadian tersebut sebagai tanda-tanda kebangkitan PKI. Isu itu menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasalnya keberadaan PKI di Indonesia memberi catatan sejarah kelam. Kebanyakan masyarakat tidak ingin partai komunis yang telah lama dibubarkan itu bangkit kembali.

8. Hoaks kartu nikah dengan empat foto istri

Setelah Kementerian Agama (Kemenag) resmi menerbitkan kartu nikah bagi pasangan suami-istri untuk efisiensi dan akurasi data, beredar viral di media sosial sebuah gambar kartu nikah berwarna kuning dengan logo Kementerian Agama.

Dalam kartu tersebut tercantum empat kolom istri dan satu kolom suami lengkap dengan kolom nama dan tanggal pernikahan pada masing-masing kolom istri. Sebagian netizen menganggap hal tersebut hanya lelucon, namun tidak sedikit yang berspekulasi bahwa kartu tersebut adalah kartu legalitas untuk berpoligami.

Kabar itu disebut sebagai hoaks oleh Kemenag. Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag, menerangkan kartu nikah terbitan Kemenag memiliki warna dasar hijau dengan campuran kuning.

Bagian atas kartu bertuliskan kop Kemenag. Di bagian tengah terdapat tiga kotak. Dua kotak di bagian atas untuk foto pasangan pengantin, sementara kotak bagian bawah akan diisi kode batang atau barcode yang jika dipindai akan muncul data-data lengkap tentang pernikahan pemilik buku.

9. Hoaks makanan mudah terbakar positif mengandung lilin atau plastik

Pada awal 2018 muncul isu adanya zat berbahaya dalam serbuk sebuah merk minuman kopi sachet. Hal itu ramai diperbincangkan setelah adanya unggahan video seseorang menebarkan serbuk kopi tersebut ke api yang membuat nyala api makin besar.

Video itu menimbulkan keresahan di kalangan konsumen, bahkan tidak sedikit yang menggunakan teknik membakar makanan hanya untuk membuktikan adanya kadar lilin atau plastik dalam makanan tersebut.

Padahal BPOM, melalui situs resminya memberikan penjelasan bahwa hal tersebut tidaklah dapat dibenarkan. Pasalnya, semua produk pangan yang memiliki rantai karbon (ikatan antar atom karbon) serta mengandung lemak/minyak dengan kadar air rendah, terutama yang berbentuk tipis dan berpori, seperti kerupuk, crackers, dan makanan ringan lainnya pasti akan terbakar/menyala jika disulut dengan api.

10. Hoaks telepon disadap dan WhatsApp dipantau pemerintah

Pada awal 2018 beredar berita hoaks melalui pesan berantai tentang pemantauan segala aktivitas pengguna ponsel. Bahkan informasi itu menunjukkan pengguna ponsel akan disadap dan dipantau oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Kabar mengatakan aktivitas dipantau pemerintah mulai panggilan telepon hingga media sosial. Dalam pesan tersebut dikatakan kebijakan itu berkenaan dengan peraturan komunikasi baru dan jaringan keamanan dari BSSN. Kemudian ditulis secara rinci apa saja yang akan dipantau oleh pemerintah mulai dari panggilan telepon, WhatsApp, sampai Facebook.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan masyarakat pengguna jejaring dan media sosial. Kebijakan yang tidak bisa dilacak sumbernya itu meresahkan warganet karena ruang media komunikasi yang dianggap privat dipantau oleh pemerintah.

Namun isu tersebut dibantah oleh Kemkominfo. Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Ferdinatus Setu mengatakan, info ini tidak benar

Selama ini Kementerian Kominfo merilis informasi mengenai klarifikasi dan konten yang terindikasi hoaks melalui portal kominfo.go.id dan stophoax.id.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR