KARIER

Reputasi di media sosial jadi syarat pelamar kerja

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri memberi paparan saat Diskusi Publik tentang Peningkatan Kualitas SDM Indonesia di Untirta, Serang, Banten, Jumat (7/12/2018).
Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri memberi paparan saat Diskusi Publik tentang Peningkatan Kualitas SDM Indonesia di Untirta, Serang, Banten, Jumat (7/12/2018). | Asep Fathulrahman /ANTARA FOTO

Anda yang gemar curhat soal pekerjaan di media sosial perlu lebih berhati-hati. Sebab, perusahaan akan memonitornya ketika menyaring kandidat. Setidaknya begitu menurut Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri.

"Ke depan (pengecekan) akun medsos akan menjadi tren bagi perusahaan saat akan menerima karyawan sehingga kalau medsos kita enggak benar itu bisa mengganggu perjalanan karier kita," kata Hanif dalam pidato sambutan, kunjungan kerja ke pabrik PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. di Kabupaten Semarang, Rabu (20/3).

Jika ada peribahasa "Mulutmu harimaumu", maka di media sosial "jempolmu adalah harimaumu".

Hanif pun mengimbau agar masyarakat lebih bijak bermedia sosial. Hal ini berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda.

Media sosial itu benar pencitraan. Sebab, konten yang mereka unggah mencerminkan siapa diri mereka sebenarnya.

Ada kasus manakala seorang pelamar kerja dinyatakan berhasil dalam tes tertulis dan wawancara, akan tetapi ia batal diterima kerja. Sebabnya tak lain adalah konten akun media sosialnya yang berisi hal-hal negatif.

"Oleh karena itu, saya pesan hati-hati gunakan medsos, jangan gampang termakan hoaks dan ikut menyebarkan hoaks, terutama hoaks mengenai tenaga kerja asing," ujar Hanif.

Imbauan Hanif laik ditimbang, mengingat lebih dari sepertiga hari orang Indonesia dihabiskan di dunia maya.

Menurut data Global Web Index yang diolah Lokadata, Indonesia menempati urutan keempat di dunia yang paling banyak menghabiskan waktu untuk internet yakni delapan jam 32 menit per hari.

Youtube adalah media sosial paling populer di Indonesia. Sebanyak 43 persen dari total penduduk Indonesia, atau sekitar 112 juta penduduk per 2017 mengaksesnya.

Penetrasi Facebook dan WhatsApp juga tak kalah populer. Masing-masing 41 persen dan 40 persen dari total penduduk Indonesia.

Data ini bersumber dari survei pengguna media sosial berusia 16-64 tahun yang dilakukan pada kuartal II dan III pada 2017.

Apa yang disampaikan Hanif soal bijak bermedia sosial demi masa depan karier sebenarnya bukan hal baru. Malah sudah sewajarnya disadari.

Menurut survei CareerBuilder 2018, 70 persen pemilik usaha menggunakan media sosial dalam proses penyaringan calon pegawai. Bukan hanya yang belum jadi karyawan, pengusaha bahkan juga mengecek media sosial karyawannya.

Laporan terbaru First Advantage pun berbunyi demikian. Sebanyak 60 persen pemilik usaha bilang mereka selalu menyaring kandidat potensial untuk mengungkap keburukan yang tersembunyi.

Internet dan media sosial mencatat rekam jejak siapapun. Namun, tentu bukan berarti Anda harus berhenti bermedia sosial dan menjadi pertapa.

Gunakanlah jempol secara bertanggung jawab di media sosial, dan ketahuilah bahwa hal itu bisa memengaruhi masa depan keuangan. Tak kalah penting, perilaku di media sosial adalah perpanjangan reputasi Anda.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR