PEREKONOMIAN DUNIA

Resesi ekonomi bayangi Uni Eropa karena Brexit dan Jerman

Pendukung pro-Uni Eropa membawa bendera Uni Eropa dan Inggris di depan Rumah Parlemen di Westminster, London, Inggris, Rabu (19/12).
Pendukung pro-Uni Eropa membawa bendera Uni Eropa dan Inggris di depan Rumah Parlemen di Westminster, London, Inggris, Rabu (19/12). | Hannah McKay /Antara Foto/Reuters

Keputusan Inggris untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa semakin memantik kekhawatiran atas perekonomian yakni terjadinya resesi.

Inggris akan meninggalkan Uni Eropa (Brexit) pada 29 Maret 2019. Namun apabila aksi keluar tersebut tanpa disertai kesepakatan, maka akan menimbulkan kekacauan yang akan berdampak negatif pada perekonomian.

Para ekonom UBS yang dipimpin Arend Kapteyn, mengungkapkan gangguan perdagangan yang disebabkan Brexit yang tidak berakhir mulus akan menjerumuskan Inggris ke dalam resesi. Oleh sebab itu, kesepakatan antara Inggris dengan Eropa akan menciptakan kepastian bagi dunia usaha.

Keluar dari Uni Eropa tanpa ada kesepakatan bakal menimbulkan bencana bagi perusahaan-perusahaan di Inggris. Mereka akan menghadapi hambatan perdagangan baru dan lingkungan hukum yang tidak pasti.

"Sebelum Brexit, PDB Inggris telah mencapai 2,1 persen atau titik terendah dalam satu periode," ujar Kapteyn dilansir dari CNBC, Jumat (11/1/2019).

Biro riset Capital Economics memperkirakan bahwa Brexit yang tidak mulus akan menyebabkan ekonomi Inggris menyusut 0,2 persen pada 2019. Adapun nilai tukar poundsterling kemungkinan anjlok ke $1,12 AS, dari level saat ini $1,26.

Tingkat ketidakpastian yang tinggi berkontribusi terhadap perlambatan signifikan pada ekonomi Inggris pada paruh kedua tahun 2018. Belanja konsumen dan investasi bisnis juga terpukul sejak para pemilih memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa pada tahun 2016.

Proyeksi perlambatan ekonomi juga menyelimuti ekonomi terbesar kedua Eropa yakni Jerman. Produksi industri Jerman secara tak terduga mengalami penurunan pada November 2018. Fakta ini menempatkan negara tersebut dalam risiko tergelincir ke dalam resesi teknis pada akhir 2018.

Dilansir dari Bloomberg, produksi industri Jerman turun 1,9 persen pada November 2018, setelah turun 0,8 persen pada bulan sebelumnya. Penurunan ini juga memperpanjang serangkaian data yang mengecewakan dari ekonomi terbesar di Eropa tersebut.

Penurunan produksi November didorong oleh barang-barang konsumen dan energi. Produksi barang-barang konsumen turun 4,1 persen, sedangkan energi turun 3,1 persen. Secara tahunan, produksi industri Jerman turun 4,7 persen, terbesar sejak 2009.

Menurut Kementerian Ekonomi Jerman, penurunan produksi diperburuk oleh efek hari kerja ketika para pekerja mengambil cuti ekstra di sekitar hari libur umum menjelang akhir pekan, sementara para produsen mobil terus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan prosedur uji emisi baru.

Saat data kinerja industri biasanya volatil, sejumlah indikator telah mengisyaratkan berlanjutnya pelemahan pada kuartal keempat dan memperkuat kekhawatiran tentang ekonomi.

Kendati demikian, bank sentral Jerman Bundesbank telah mempertahankan prediksinya bahwa ekonomi mungkin mengalami pertumbuhan yang cukup kuat pada akhir tahun lalu.

“Pada nilai nominal, data produksi industri hari ini jelas telah meningkatkan risiko resesi teknis di Jerman pada paruh kedua 2018. Di sisi lain, konsumsi swasta dan publik masih memiliki potensi untuk mengimbangi kekuatan resesi,” kata Carsten Brzeski, kepala ekonom di ING Jerman dilansir dari The Guardian.

Pertumbuhan dunia menyusut

Menurut Bank Dunia, tahun ini pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat menjadi 2,9 persen dari 3 persen pada 2018. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain; aktivitas perdagangan dan manufaktur internasional melemah, ketegangan perdagangan tetap terjadi, dan beberapa pasar negara berkembang besar telah mengalami tekanan pasar keuangan yang substansial.

Menurut laporan Global Economic Prospects edisi Januari 2019, pertumbuhan di antara ekonomi maju diperkirakan akan turun menjadi 2 persen tahun ini.

Melambatnya permintaan eksternal, meningkatnya biaya pinjaman, dan ketidakpastian kebijakan yang terus-menerus diperkirakan akan membebani prospek pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang.

Pertumbuhan untuk kelompok negara ini diperkirakan akan tetap stabil di 4,2 persen, yang merupakan angka lebih lemah dari yang diperkirakan tahun ini.

“Pada awal 2018, ekonomi global sedang berjalan dengan cepat, namun kehilangan kecepatan pada tahun tersebut dan perjalanan dapat lebih bergejolak pada tahun ini,” kata Chief Executive Officer World Bank, Kristalina Georgieva, dalam siaran pers dikutip Jumat (11/1).

“Ketika tantangan ekonomi dan keuangan menguat untuk negara berkembang, kemajuan dunia dalam mengurangi kemiskinan ekstrem dapat terancam. Untuk menjaga momentum, negara-negara perlu untuk berinvestasi pada manusia, mendorong pertumbuhan yang inklusif, dan membangun masyarakat yang tangguh,” lanjutnya.

Bank Dunia menilai Asia Timur dan Pasifik tetap menjadi salah satu kawasan yang berkembang dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Pertumbuhan regional diperkirakan akan moderat ke 6 persen pada tahun 2019, dengan asumsi harga komoditas stabil secara umum, moderasi dalam permintaan dan perdagangan global, dan pengetatan bertahap kondisi keuangan global.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan tetap stabil di 5,2 persen. Sementara pertumbuhan di Tiongkok diperkirakan akan melambat menjadi 6,2 persen tahun ini karena penyeimbangan kembali domestik dan eksternal terus berlanjut.

Negara-negara lain di kawasan diproyeksikan tumbuh 5,2 persen pada 2019 karena permintaan domestik yang mengimbangi dampak negatif dari melambatnya ekspor.

Di kawasan Eropa dan Asia Tengah, efek berlarut-larut dari tekanan finansial di Turki diperkirakan akan membebani pertumbuhan regional tahun ini. Perekonomian Turki diperkirakan melambat menjadi 2,3 persen pada tahun 2019.

Polandia diperkirakan melambat menjadi 3,9 persen karena pertumbuhan wilayah Eropa melambat. Pertumbuhan di bagian timur wilayah ini juga diperkirakan akan melambat karena ekonomi besar termasuk Rusia, Kazakhstan, dan Ukraina melambat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR