PENCEGAHAN BANJIR

Revitalisasi drainase Jakarta Timur baru 30 persen

Petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menggunakan alat berat saat membersihkan sampah dari Kali Pesanggrahan di Tanah Kusir, Jakarta, Kamis (29/11/2018).
Petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menggunakan alat berat saat membersihkan sampah dari Kali Pesanggrahan di Tanah Kusir, Jakarta, Kamis (29/11/2018). | Hafidz Mubarak A. /Antara Foto

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Timur, Mustajab, baru saja mengatakan bahwa di wilayah Jakarta Timur, baru 30 persen drainase yang telah direvitalisasi.

"Revitalisasi itu sekitar 20-30 persen dari total 893.000 meter (drainase)," ujar Mustajab kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/12/2018).

Padahal, Jakarta Timur merupakan salah satu wilayah Jakarta yang paling sering dan banyak titik rawan banjirnya. Hal tersebut lantas membuat drainase tak mampu menampung curah hujan sehingga menyebabkan banjir.

Menurut Mustajab, drainase yang sangat panjang itu membuat SDA Jakarta Timur kewalahan. Apalagi, sumber daya manusia (SDM) yang dipekerjakan dalam perencanaan revitalisasi drainase terbilang minim karena tersandung anggaran yang kecil.

"PNS kita itu kurang, kan lima tahun terakhir ini tidak ada perekrutan PNS. Kemudian anggaran juga," lanjutnya.

Selain itu, aset drainase berada pada Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman sehingga butuh koordinasi lebih lanjut.

“Asetnya itu masih aset perumahan. Jadi, kita itu hanya memelihara, mengeruk. Kalau mengeruknya ya sudah hampir 50-60 persen. Kalau revitalisasi, artinya mengembalikan lebar atau mengembalikan fungsi, itu kita memang rendah,” jelasnya, seperti dikutip Koran-Jakarta, Selasa (4/12).

Pembersihan drainase yang baru mencapai 60 persen itu pun diakuinya belum maksimal. Sehingga membuatnya butuh waktu lebih lama untuk menyurutkan genangan air saat musim hujan seperti saat ini.

Hal itulah yang terjadi di RT 010 RW 005 Jalan Krama Yuda, Rawa Terate, Cakung, Senin (3/12). Kedalaman banjir bervariasi, yakni sekitar 50-100 sentimeter. Banjir ini juga merendam 183 rumah dari 265 kepala keluarga (KK).

Banjir yang dimulai pada pukul 13.00 WIB dan mencapai puncaknya pada 15.00 WIB itu pun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk surut.

"Rawa Terate itu 4-5 jam baru surut ya. Terlalu lama. Kalau Pak Kadis mintanya ke kita maksimal 3 jam (saat hujan Senin, 3/12)," paparnya, seperti dikutip Merdeka.com (4/12).

Namun, untuk mengatasi masalah tersebut Mustajab telah menyiagakan karung pasir dan pompa air guna menanggulangi banjir dan genangan. Pihaknya juga telah memasang keranjang kawat untuk mengikat batu kali (bronjong).

Bronjong tersebut dipasang di beberapa wilayah, seperti di pinggir kali di Cipinang Melayu dan Cipinang Jagal, Pulogadung, Jakarta Timur.

"Setidaknya banjir itu tidak langsung menghantam ke rumah masyarakat. Kita redam dulu menggunakan batu bronjong," lanjut Mustajab.

Selain itu, Sudin SDA Jakarta Timur juga telah mempersiapkan dua pompa air mobile di Kali Cakung Drain. Kedua pompa yang memiliki daya sedot hingga 200 liter per detik digunakan tidak hanya saat banjir, tapi juga saat volume air di Cakung Drain mulai bertambah.

"Bukan hanya hujan lebat, selama antara Rawa Terate dan Cakung Drain tingginya sama sehingga pintu air kami tutup kami lakukan pemompaan, tetapi kalau misal kering karena gravitasi, kami buka lagi," ujar Mustajab, dinukil Kompas.com, Selasa (4/12).

Mustajab pun berharap, kelak ada solusi jangka panjang yang dapat menanggulangi banjir tahunan di wilayah Jakarta Timur. Misalnya seperti bendungan dan pintu air agar banjir lebih bisa dicegah saat curah hujan tinggi.

Drainase vertikal

Jalan keluar lain yang telah diprogramkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, untuk mengatasi banjir di Ibu Kota adalah membangun apa yang disebutnya sebagai "drainase vertikal" atau sumur resapan.

"Nah kita akan secara masif membangun vertikal drainase. Jadi kemarin diperlukan kira-kira 1,8 juta lubang drainase yang harus dibangun di Jakarta. Dengan dibangun 1,8 juta lubang itu, maka setiap lokasi setiap rumah setiap gedung itu harus penuh lubang untuk menurunkan air ke bawah,” kata Anies dalam Republika.co.id (4/12).

Pembangunan drainase vertikal, kata Anies sangat sederhana karena hanya sekadar membuat lubang. Sehingga, ketika anggaran telah tersedia, Pemprov DKI akan segera membangunnya. Uji coba telah dilakukan di wilayah Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan Oktober lalu.

Nirwono Yoga, pengamat tata kota, menyarankan langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan pemerintah DKI Jakarta untuk mengantisipasi dan mengatasi banjir.

Kepada JawaPos.com, Yoga memaparkan langkah-langkah tersebut adalah penataan bantaran kali dengan dikeruk atau diperlebar, serta melarangnya dijadikan pemukiman.

Merevitalisasi waduk, danau, dan situ dengan membuatnya bebas dari bangunan juga menjadi langkah penting. Lalu, merehabilitasi saluran air, mengembangkan Ruang Terbuka Hijau, dan membangun sumur resapan air atau kolam retensi di rumah-rumah, sekolah, kantor, dan area parkir.

"Itu lima konsep yang dikenal dengan ecological drainage (ekodrainase) itu bisa jadi rekomendasi (untuk) pemerintah," tandas Nirwono.

BACA JUGA