LION AIR JT610

Rilis awal KNKT akan menentukan sanksi Lion Air

Petugas memeriksa turbin pesawat Lion Air JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (7/11/2018).
Petugas memeriksa turbin pesawat Lion Air JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (7/11/2018). | Aprillio Akbar /AntaraFoto

Kementerian Perhubungan memastikan maskapai Lion Air tidak akan luput dari sanksi atas peristiwa jatuhnya pesawat bernomor registrasi JT610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Belum jelas sanksi apa yang akan dijatuhkan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menekankan, sanksi akan dijatuhkan sesuai dengan rekomendasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang mengacu pada hasil investigasi awal penyelidikan.

Sesuai dengan aturan kecelakaan transportasi internasional, KNKT harus merilis laporan awalnya satu bulan setelah insiden terjadi. Dengan kata lain, laporan awal itu setidaknya akan diumumkan pada 29 November 2018.

"Nanti KNKT akan memberikan rekomendasi, (sanksinya) kami sesuai dengan itu," kata Budi Karya dalam laporan KOMPAS.com, Minggu (18/11/2018).

Sorotan terhadap insiden yang menewaskan 181 penumpang dan 8 awak pesawat ini memang mengarah pada Boeing Company dan Lion Air.

Boeing Company dituding lalai. Sejumlah ahli penerbangan internasional, baik pilot, pejabat, maupun praktisi, menganggap Boeing telah merahasiakan informasi penting terkait anomali sistem pada komponen sensor angle of attack (AOA) pada model teranyarnya, 737 Max 8 dan Max 9.

Tudingan ini menyasar pada temuan KNKT yang menunjukkan adanya perbedaan data sensor AOA pada penerbangan Lion Air tujuan Cengkareng-Pangkalpinang tersebut. Perbedaan data ini juga berpengaruh komponen indikator kecepatan udara.

Boeing, di pihak lain, baru menerbitkan panduan yang harus dilakukan kru pesawat manakala sensor AOA bermasalah, satu pekan setelah insiden nahas Boeing 737 Max 8 yang digunakan Lion Air PK-LQP terjadi.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono pernah mengumumkan, masalah kerusakan indikator penerbangan ini bahkan sudah terdeteksi sejak empat penerbangan terakhir PK-LQP. Pernyataan ini yang memunculkan tanya mengapa Lion Air tetap mengizinkan pesawat itu terbang.

Dalam penyelidikannya, KNKT turut mewawancarai teknisi serta pilot yang pernah menerbangkan pesawat itu sebelumnya. KNKT menyoroti pengawasan serta kualifikasi bagi pilot untuk maskapainya.

Salah satu risiko terbesar penerbang yang gagal mengenali dan/atau terlambat memperbaiki anomali pada sensor AOA adalah kehilangan kendali. Pesawat terlanjur menukik tajam dan kehilangan daya angkat (stall) dan berpotensi besar terjatuh.

Terkait kelalaian Boeing, salah satu pihak keluarga korban, diwakili kantor hukum Colson Hicks Eidson, melayangkan gugatan kepada perusahaan pembuat pesawat asal Amerika Serikat (AS) itu pada 15 November 2018 waktu AS.

Gugatan mencakup semua jenis kerugian di bawah undang-undang, termasuk kematian akibat kelalaian. "Sebelum tragedi terjadi, apakah Boeing memberikan peringatan yang cukup dan pada waktu yang tepat kepada Lion Air atau para pilot, atas kondisi tak aman yang bisa ditimbulkan oleh fitur 'menukik otomatis' pada pesawat tersebut," bunyi penggalan gugatan itu.

Kendati telah mengisyaratkan sanksi untuk Lion Air, namun pemerintah mengaku tidak akan turut campur dalam gugatan yang diajukan keluarga korban kepada Boeing.

"Bahwa ada yang menuntut, itu merupakan hak individu. Jadi pemerintah tidak mungkin ikut dalam persepsi masing-masing," sambung Budi Karya, dikutip dari CNN Indonesia (h/t ANTARA).

Sementara itu, tim penyelam Badan SAR Nasional (Basarnas) dan KNKT sampai hari ini masih melakukan pencarian cockpit voice recorder (CVR) pada bagian lain kotak hitam JT610. Pencarian ini untuk melengkapi flight data recorder (FDR) yang lebih dulu ditemukan, awal November 2018.

KNKT menuturkan, pencarian salah satu komponen terpenting yang bisa membantu mengungkap insiden ini semakin sulit karena lokasinya diduga sudah tertimbun lumpur di dasar laut.

Meski begitu, KNKT dibantu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), tetap akan mencari CVR karena dari hasil simulasi yang dilakukan tim masih bisa mendeteksi sinyal ping meski sangat lemah.

Di sisi lain, tim Disaster Victim Identification (DVI) Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, kembali mengidentifikasi dua korban JT610, Minggu (18/11/2018).

Jenazah pertama teridentifikasi bernama Janu Daryoko (60 tahun) dengan nomor post mortem 0044B dan nomor ante mortem 152. Jenazah kedua adalah RR Savitri Wulurastuti (42) dengan nomor post mortem 0044F dan nomor ante mortem 109.

Dengan tambahan dua jenazah ini maka total korban yang berhasil teridentifikasi berjumlah 100, dengan perincian laki-laki 73 orang dan perempuan 27 orang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR