PELAYANAN HAJI

Risiko kesehatan tinggi, jemaah haji dibekali barcode

Calon jamaah haji kota Banda Aceh mengikuti manasik haji di halaman masjid Baitul Musyahadah, Banda Aceh, Aceh, Minggu (28/4/2019).
Calon jamaah haji kota Banda Aceh mengikuti manasik haji di halaman masjid Baitul Musyahadah, Banda Aceh, Aceh, Minggu (28/4/2019). | Irwansyah Putra /ANTARA FOTO

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, gelang penanda kesehatan seluruh calon jemaah haji (CJH) 2019 kini cuma satu warna dan dilengkapi barcode. Inisiatif Kementerian Kesehatan untuk memperlancar pemantauan kesehatan ini dilatarbelakangi tingginya risiko dalam pelaksanaan haji tahun 2019.

dr Indro Murwoko, Kepala Bidang Pendayagunaan Sumber Daya dan Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Haji Kemenkes mengatakan, pada pemeriksaan kesehatan tahap I tercatat sebanyak 94.403 atau 44,39 persen jemaah haji tergolong berisiko tinggi.

Jemaah berisiko tinggi adalah mereka yang kesehatannya rentan akibat penyakit ataupun usia.

Lanjut dr. Indro, walau 95.284 jemaah bukan tergolong risiko tinggi, tetapi 22.994 sisanya belum melakukan pemeriksaan kesehatan tahap I.

Padahal, Istithaah yang berarti ‘mampu melaksanakan ibadah haji’ bukan sekadar diukur lewat kecukupan materi, tapi juga kesehatan fisik dan mental. Kemenkes pun telah menetapkan Istithaah Kesehatan sebagai syarat utama pemberangkatan CJH sesuai peraturan Menkes nomor 15 tahun 2016.

“Berdasarkan penetapan istithaah, 186,318 atau sebanyak 87,60 persen jemaah telah ditetapkan status istithaah-nya,” ujar dr Indro, Rabu (24/4), kepada Antara News.

Ia menambahkan, pada pemeriksaan kesehatan tahap kedua, baru sebanyak 106.869 jemaah yang telah memenuhi syarat istithaah kesehatan haji dan 78.049 memenuhi syarat dengan pendampingan.

Sementara, 311 jemaah tidak memenuhi syarat, 1.089 tidak memenuhi syarat kesehatan untuk sementara waktu, 2.585 tidak melakukan pemeriksaan kesehatan, dan 23.778 jemaah belum memeriksakan kesehatan.

Dari sisi usia, Direktur Bina Haji Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Khoirizi, membenarkan mayoritas atau sekitar 63 persen jemaah haji tahun ini adalah kalangan lanjut usia (lansia). Mereka termasuk golongan berisiko tinggi.

Rinciannya, sambung dr. Indro, 75.630 lansia berusia 51–60 tahun, 47.201 orang berusia 61–70 tahun, 7.171 orang berusia 71–74 tahun, dan 5.283 jemaah berusia lebih dari 75 tahun.

Sementara 37 persen sisanya, 54.550 orang berusia 41–50 tahun, 17.954 berusia 31–40 tahun, 4.113 berusia 21–30 tahun, dan 512 orang berusia sampai dengan 20 tahun.

Dengan berbagai fakta itu, "Tantangan petugas haji akan semakin besar," tukas Khoirizi.

Total jemaah haji 2019 adalah 231 ribu orang, dari yang awalnya 221 ribu orang seperti tahun 2017 dan 2018—204 ribu jemaah untuk kuota haji reguler dan 17 ribu untuk kuota haji khusus.

Jumlah jemaah 2019 tertinggi sepanjang sejarah yang tercatat dalam data Kemenag sejak tahun 1988. Ini merupakan tambahan kuota dari pemerintah Arab Saudi sebanyak 10 ribu jemaah, yang kemudian diprioritaskan untuk para lansia dan pendampingnya di tiap provinsi.

Namun, jumlah petugas haji tidak mengalami penambahan secara khusus sehingga rasionya dinilai timpang, Analoginya sama dengan satu orang petugas berbanding 54 jemaah, yang idealnya maksimal melayani 40-42 orang jemaah.

Apalagi, Jemaah yang tidak berisiko tinggi pun masih menghadapi berbagai risiko kesehatan di Tanah Suci. Sebagaimana diimbau Menkes Nila Moeloek, terutama agar mewaspadai sengatan panas (heat stroke), dan virus MERS-CoV alias flu unta dengan tidak berswafoto atau berinteraksi dengan unta.

Data Kemenkes menunjukkan, pada 2018 terdapat 386 orang jemaah haji meinggal di Arab Saudi. Wafatnya jemaah haji paling banyak disebabkan oleh penyakit pernapasan yakni 36,8 persen atau sebanyak 142 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yakni 202 orang menggeser posisi peyakit kardiovaskular (jantung) sebanyak 132 orang.

Untuk mengantisipasi risiko, dr. Indro menerapkan strategi penyelenggaraan kesehatan haji yang baku. Meski begitu, menurut Eka Yusuf Singka, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, berupaya bersama menjaga kesehatan calon jemaah dimulai dari kesadaran individu tak kalah penting.

Lewat gelang barcode yang seluruhnya disamakan berwarna oranye, kesehatan psikologis calon haji akan terjaga. “Kalau dulu kita punya tanda, dia sakit, dia enggak sakit. Sekarang lebih lagi, ada pendataan, dia bisa dipantau," ujar Menkes Nila (27/4).

Sebelumnya, gelang penanda kesehatan jemaah haji punya tiga warna, merah, kuning, hijau, yang disesuaikan dengan kategori keparahan kesehatan jemaah. Kini, "three in one, ada tanda vaksin, ada data-data kesehatan, ada tanda risti (risiko tinggi),” terang Eka.

Ketersediaan data digital yang bisa diketahui melalui scan barcode ini diharapkan bisa membantu petugas lapangan lebih cepat memberi pertolongan dan memantau kesehatan calon jemaah.

Eka mengaku belum memiliki data berapa jemaah yang akan diberikan kartu ini. Sebab, kartunya baru dicetak di pemeriksaan kedua menjelang pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).

Namun, ia memperkirakan total jemaah haji berisiko tinggi tahun 2019 berada di kisaran 63 persen. Tak berbeda jauh dari persentase jemaah pada 2018 sebesar 66,81 persen, atau sebelumnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR