Rudiantara tengah berpose sesaat setelah dia melakukan wawancara dengan tim Beritagar.id di lantai 7 Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jl. Medan Merdeka Barat, No. 9, Jakarta Pusat pada Selasa (12/2/2019) siang.
Rudiantara tengah berpose sesaat setelah dia melakukan wawancara dengan tim Beritagar.id di lantai 7 Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jl. Medan Merdeka Barat, No. 9, Jakarta Pusat pada Selasa (12/2/2019) siang. Wandha Saphira / Beritagar.id
BINCANG MINI

Rudiantara: Kami saling bengong karena baru dengar istilah unicorn

Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia ini membeberkan dana asing di perusahaan unicorn di Indonesia. Model bisnisnya beda.

Unicorn. Kalau istilah itu terlontar sepuluh tahun lalu, pasti Anda akan membayangkan sosok kuda bertanduk serta diasosiasikan dengan keindahan, kecantikan, dan lain sebagainya. Seekor makhluk yang hidup di dunia imajinasi.

Ketika sekarang istilah unicorn muncul lagi, persepsi masyarakat mulai bercabang. Ada yang tetap terbayang "kuda bertanduk". Ada juga yang menyamakannya dengan perusahaan rintisan digital (startup) dengan nilai ekonomi (valuasi) lebih dari $1 miliar AS.

Unicorn. Istilah yang diperkenalkan oleh Aileen Lee, pendiri Cowboy Ventures, pada 2013 itu, kini menjadi tahapan penting dari startup. Sederhananya, jika startup sudah disebut sebagai unicorn, perusahaan tersebut bisa dibilang menjanjikan.

Istilah tersebut memang baru seumur jagung. Banyak orang yang belum benar-benar mengerti dengan istilah unicorn. Bahkan, Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia, Rudiantara, baru benar-benar mengerti unicorn belum lama ini.

Pada 2015, Rudi datang ke pertemuan investor besar dunia di Amerika Serikat. Di sana, ia mendapat pertanyaan tentang jumlah unicorn di Indonesia. Ia terbengong-bengong karena baru dengar istilah unicorn itu.

Unicorn sebagai perusahaan rintisan belum cukup populer menyaingi persepsi yang sudah melekat, yaitu sosok legenda kuda bertanduk.

Banyak orang belum benar-benar mengerti soal unicorn seperti terlihat dalam debat calon presiden, Minggu (17/2/2019) malam.

Saat itu, Prabowo Subianto, capres nomor urut 02, menyederhanakan unicorn dengan istilah, "Yang online-online itu ya?"

Selang empat tahun dari pertemuan investor-investor dunia tadi, Rudi kini seperti ngelotok soal unicorn. A sampai Z unicorn, seperti sudah berada di luar kepalanya.

Hal itu ia perlihatkan saat tim Beritagar.id bertemu dengannya di kantornya di jalan Medan Merdeka Barat nomor 9, Jakarta Pusat, pada Selasa (12/2/2019) lalu. Pertanyaan-pertanyaan soal unicorn ia jawab tanpa perlu berpikir lama.

Untuk melengkapi tema tulisan, kami kembali menemui pria yang biasa disapa chief tersebut di sejumlah kesempatan. Salah satunya, kala acara "Unicorn untuk Siapa?", yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9, Selasa (26/2/2019).

Rudiantara tengah berpose sesaat setelah dia melakukan wawancara dengan tim Beritagar.id di lantai 7 Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jl. Medan Merdeka Barat, No. 9, Jakarta Pusat pada Selasa (12/2/2019) siang.
Rudiantara tengah berpose sesaat setelah dia melakukan wawancara dengan tim Beritagar.id di lantai 7 Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jl. Medan Merdeka Barat, No. 9, Jakarta Pusat pada Selasa (12/2/2019) siang. | Wandha Saphira /Beritagar.id

Mengapa banyak orang belum mengerti tahu soal unicorn?
Karena unicorn-kan baru populer dua tahun terakhir. Dan perusahaan unicorn-nya sendiri kan tidak banyak bicara.

Anda benar-benar mengerti soal unicorn kapan?
Pada 2015, saya dengan teman-teman yang saat ini sudah unicorn datang ke pertemuan investor besar dunia di Amerika Serikat. Di sana kita ditanya, "Sudah berapa unicorn di Indonesia?"

Kami saling bengong, karena baru dengar istilah unicorn. Namun kami bilang, 2019 akan ada lima unicorn di Indonesia.

Saat ini di Indonesia sudah ada empat unicorn. Satu lagi apakah dari perusahaan berbasis financial technology (fintech)?
Saya belum yakin dengan fintech tahun ini. Traction-nya memang bagus, naiknya cepat. Namun, dari sisi GMV (Gross Merchandise Value), tidak sebesar edutech di bidang pendidikan atau healthtech.

Mayoritas perusahaan unicorn di Indonesia dimodali oleh asing.
Persepsi di masyarakat, dengan didominasi dana asing maka perusahaan itu dikuasai asing. Ya betul dana asing (memang masuk ke unicorn Indonesia). Namun, model bisnisnya beda.

Bedanya seperti apa?
Kalau model bisnis old school, brick and mortar, tergantung berapa besar setoran modal. Nanti, jumlah itu dikonversi menjadi saham. Pemilik saham mayoritas akan memegang kendali berbeda. Kalau ini (perusahaan startup) beda.

Bisa dijelaskan maksudnya?
Contohnya seperti Rio Tinto (perusahaan tambang asal Australia) di Freeport MacMoran. Rio Tinto hanya participating interest. Jadi dia tidak masuk ke manajemen. Dia hanya menjadi financial investor. Maksimal, dia hanya masuk komisaris.

Misalnya Go-Jek. Investornya kan ada Astra International, yang telah menanamkan modalnya ratusan juta dolar, dan lain-lain. Apakah orang Astra menjadi direksi? Gak tuh. Jadi, modelnya memang berbeda, jangan disamakan dengan perusahaan old school.

Jadi polanya seperti kapital ventura?
Memang kapital ventura. Dia hanya mendapatkan keuntungan secara proporsional sesuai dengan dividen perusahaan. Namun, dia tidak masuk ke posisi manajerial.

Jadi tidak bisa gebyah-uyah, yang masuk belakangan mengacak-acak perusahaan. Kalau old school memang begitu.

"Pemerintah mendorong unicorn Indonesia yang mau melantai, punya nama bagus di dunia internasional."

Rudiantara

Pola demikian diterapkan startup lainnya?
Menurut Anda, Ali Baba punya siapa? Jack Ma? Bukan, dia itu founder. Dia memiliki tak lebih dari 8 persen saham. Pemegang saham terbesar, hampir 30 persen, adalah Softbank. Pemegang kedua terbesar, Yahoo, hampir 20 persen.

Apakah keduanya gembar-gembor sebagai pemilik Ali Baba? Gak tuh, karena mereka sebagai acting investor. Tapi manajerialnya dipimpin oleh Jack Ma.

Pemimpin perusahaan yang memiliki hak veto, khususnya employee stock ownership plan (ESOP) dan Management Stock Option Program (MSOP).

Bukankah dengan masuknya asing memiliki risiko, misalnya tiba-tiba mereka menarik dananya?
Untuk jangka panjang kita harus berjaga-jaga. Karena, suatu saat kapital ventura ini akan keluar. Mereka biasanya keluar lewat pasar modal. Jarang yang keluar kapital ventura diganti dengan kapital ventura lainnya, karena margin (keuntungan) semakin tipis.

Terus, apa yang akan dilakukan pemerintah?
Oleh karena itu, pemerintah mendorong unicorn Indonesia yang mau melantai, punya nama bagus di dunia internasional. Karena ketika mereka mau listed (melantai) di bursa, pasar internasional sudah tahu.

Kenapa tidak melantai di Indonesia?
Begini, katakanlah mereka sudah decacorn atau valuasinya $10 miliar AS dan yang mau dilepas 30 persen. Artinya, ada $3 miliar AS (sekitar Rp42 triliun) yang mau dilepas.

Kalau segitu, siapa yang akan "memakannya" di Indonesia. Yang bisa dengan pendanaan segitu besar paling di pasar keuangan Tokyo (Jepang), Shanghai (Tiongkok), Hong Kong, atau Singapura. Kalau nanti misalnya mau dua listing dengan di Jakarta, ya itu bagus.

*Decacorn adalah perusahaan startup dengan valuasi perusahaan di atas $10 miliar AS.

Harus jadi decacorn dulu baru melantai?
Kalau IPO (initial public offering) dulu, susah menjadi decacorn. Namun, kalau sudah decacorn, lebih mudah IPO. Itu, yang namanya pasar saham di Tokyo, Shanghai, Hong Kong, atau Singapura, banyak yang mengincar perusahaan decacorn.

Itulah kenapa saya mendorong perusahaan unicorn Indonesia yang mau decacorn, punya nama di dunia internasional. Karena, mereka akan melantai di dunia internasional dan pasar sudah tahu perusahaan tersebut.

Sampai kapan para unicorn ini akan membakar duit dengan memberi subsidi?
Nanti akan ada titik equilibrium, keseimbangan. Sama seperti Ali Baba, awalnya juga bakar uang. Namun, kini sudah untung. Ini juga akan terjadi dengan startup unicorn Indonesia.

Kapan titik equilibrium itu akan terjadi?
Saya hanya belum tahu kapan terjadinya. Namun, begitu masuk pasar keuangan, matrix return keuangan akan berbeda. Kalau sekarang ventura kapital masih "berjudi". Nanti, di kapital market, akan lebih terukur. Pada saat itu, seharusnya sudah lebih stabil.

Ada kekhawatiran bakal terjadi bubble di perusahaan startup, khususnya unicorn.
Enggak, apanya yang bubble. Bubble kan meletus. Meletusnya gimana?

*Bubble unicorn adalah gelembung ekonomi yang terjadi ketika perusahaan startup unicorn dinilai terlalu tinggi oleh pemodal ventura atau investor dalam penawaran umum perdana.

Seperti di zaman dotcom dulu?
Lain. Kalau saat ini, yang dijual adalah proses baru, benefitnya langsung diterima oleh masyarakat. Kalau bubble, kan prosesnya gak jelas. Dulu, zaman dotcom, ngitung-nya jumlah klik. Kalau sekarang prosesnya jelas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR