SUBSIDI LISTRIK

Rupiah stabil, PLN turunkan tarif listrik golongan 900 VA

Petugas PLN membenahi utilitas atau jaringan kabel udara di kawasan Jalan Zainul Arifin, Medan, Sumatera Utara, Kamis (7/2/2019). PT PLN melakukan penertiban dan penataan utilitas di Medan untuk menjaga keamanan dan estetika kota.
Petugas PLN membenahi utilitas atau jaringan kabel udara di kawasan Jalan Zainul Arifin, Medan, Sumatera Utara, Kamis (7/2/2019). PT PLN melakukan penertiban dan penataan utilitas di Medan untuk menjaga keamanan dan estetika kota. | Septianda Perdana /A

PT PLN (Persero) akan menurunkan tarif tenaga listrik (TTL), khususnya bagi pelanggan rumah tangga mampu 900 volt ampere (VA) sebesar Rp52 per kilowatt hour (kWh) mulai 1 Maret 2019 mendatang.

Dengan pemberlakuan insentif ini, pelanggan golongan R-1 900 VA RTM hanya membayar tarif listrik sebesar Rp1.300 per kilowatt hour (kWh) dari tarif normal sebesar Rp1.352 per kWh.

Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN, I Made Suprateka, menyatakan kebijakan ini dilakukan karena adanya efisiensi di golongan ini, serta terjadinya penurunan harga minyak dunia dan stabilnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

PLN berhasil melakukan efisiensi diantaranya penurunan susut jaringan, perbaikan SFC (Specified Fuel Consumption) dan peningkatan CF (Capacity Factor) pembangkit. Selain itu insentif diberikan juga mengingat kondisi harga minyak dunia selama tiga bulan terakhir mengalami penurunan dari $62,98 AS per barel menjadi $56,55 AS per barel.

Made mengatakan, insentif penurunan tarif listrik pelanggan 900 VA RTM tidak menyertakan syarat apa pun. Insentif tersebut berlaku bagi 21 juta pelanggan listrik R-1 900 VA RTM.

“Dengan adanya insentif ini, PLN ingin memberikan ruang untuk pelanggan 900 VA rumah tangga mampu (RTM) agar dapat lebih banyak memanfaatkan listrik untuk menunjang kegiatan ekonomi dalam kesehariannya,” ujar Made dikutip dari Okezone.com, Minggu (17/2/2019).

Menurut Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Andy Noorsaman Sommeng, penurunan tarif listrik memang sangat diba Dia menjelaskan bahwa penurunan tarif dipengaruhi oleh ICP, inflasi, dan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Dia mengatakan, keputusan penurunan tarif listrik nonsubsidi tersebut merupakan kebijakan korporasi. Oleh sebab itu, PLN tidak perlu mendapat persetujuan pemerintah. Adapun insentif yang diberikan PLN kepada pelanggan tentu melihat tiga parameter tersebut setelah dilakukan evaluasi.

”Kalau kita lihat secara positif bahwa ada perubahan di parameter-parameter ini. Bisa saja itu dilakukan penyesuaian, tetapi itu bergantung korporasi,” kata dia dilansir dari Merdeka.com.

Sementara itu, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), Fahmy Radhi, menilai sudah seharusnya PLN menurunkan tarif tenaga listrik. Pasalnya, variabel yang memengaruhi tarif listrik cenderung mengalami penurunan sehingga memengaruhi harga pokok produksi (HPP) listrik.

Sejumlah variabel itu, di antaranya harga energi dasar yakni harga minyak dunia, harga batu bara, dan kurs rupiah terhadap dolar AS.

”Kalau kita melihat variabel, memang sudah seharusnya tarif listrik turun karena harga minyak dunia mengalami penurunan cukup drastis. Selain itu, kurs rupiah juga menguat sehingga menurunkan HPP listrik,” kata Fahmy.

Namun,ia menyayangkan karena penurunan tarif listrik hanya dilakukan untuk pelanggan 900 VA RTM.

Menurut dia, seharusnya penurunan tarif juga dilakukan untuk pelanggan lain seperti golongan rumah tangga 1.200 VA dan 2.200 VA ke atas atau golongan pelanggan lain dengan tarif otomatis.

Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong PLN untuk menurunkan tarif listrik industri. Menurut dia, penurunan tarif pada seluruh golongan berdampak pada meningkatnya daya beli masyarakat dan berkontribusi pada menurunnya tingkatinflasi sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.

”Melihat variabel yang ada, seharusnya penurunan dilakukan untuk seluruh golongan termasuk industri. Penurunan tarif seluruh golongan akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Fahmy.

Sebelumnya, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, mengatakan pemerintah menargetkan tidak akan menaikkan tarif listrik hingga akhir 2019.

Jonan menampik permintaan itu ada kaitannya dengan pelaksanaan pemilihan umum di tahun 2019. Menurut dia, pertimbangan utama permintaan Presiden untuk menjaga kestabilan harga listrik adalah kemampuan masyarakat dalam menyerap energi listrik.

"Saya kira bukan karena pemilihan presiden tapi lebih karena pemerintah mempertimbangkan kemampuan penyerapan listrik oleh masyarakat," ujar Jonan dikutip dari Kompas.com.

Dengan terjaganya kestabilan tarif listrik, pemerintah berharap target elektrifikasi bisa mencapai 99 persen pada tahun 2019. Saat ini rasio elektrifikasi mencapai 98 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR