TERORISME

Saat mantan teroris pembuat bom bertobat

Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme, tengah memberi kesaksian usai bertobat di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (10/7/2019).
Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme, tengah memberi kesaksian usai bertobat di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (10/7/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Sepak terjang Kurnia Widodo (45) di dunia terorisme hampir tidak terkira. Sarjana kimia ini secara tidak langsung memicu maraknya aksi teror bom tanah air lima tahun terakhir.

"Saya sudah belajar meracik bom sejak masa kuliah," kenang mantan terpidana terorisme ini di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Rabu (10/7/2019).

Kurnia sudah intoleran sejak mengenyam bangku pendidikan di SMA 2 Lampung. Ia digambarkan sebagai pribadi yang kaku, anti-Pancasila, anti-NKRI, dan benci bangsa ini.

"Percik-percik rasa intoleransi sudah muncul semasa SMA 2 di Lampung," paparnya.

Masih berumur belasan tahun, jiwanya terpanggil mendirikan negara khilafah berazaskan hukum Islam. Kesalahan pergaulan pula yang menanam narasi ketertindasan umat Islam versi mereka di Indonesia.

Pada 1992, Kurnia diterima di Intitut Teknologi Bandung (ITB) dan tetap bergaul dengan komunitas muslim garis keras. Kelompok kecilnya ini kian menggosok paham radikalnya.

"Saya kian penasaran dengan perjuangan Islam, belajar dengan orang dan kelompok lain," ungkapnya.

Selama kuliah, Kurnia aktif mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Al Zaytun di Indramayu Jawa Barat (Jabar). Di sini, Kurnia masuk kelompok kecil yang mengenalkan konsep Negara Islam Indonesia (NII).

"Kelompok kecil ini dipimpin lelaki yang memiliki sembilan istri," kata Kurnia soal fakta yang bertentangan dengan nuraninya tersebut.

"Dasarnya dari mana antum punya sembilan istri? Saya memutuskan keluar," imbuhnya.

Meski sudah keluar, Kurnia sudah terlanjur terpapar doktrin radikalisme. Tekadnya sudah bulat; membubarkan negara ini atau mati syahid.

"Mereka (kelompok radikal) selalu mempergunakan isu penindasan warga Islam dan narasi akhir zaman, datangnya khalifah Imam Mahdi dan Dajjal," ungkapnya.

Sampai di sini, Kurnia secara mandiri mulai belajar merakit bom di kamar indekosnya. Sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Kimia ITB, Kurnia punya cukup bekal ilmu membuat bom berdaya ledak tinggi.

"Tiga kali uji coba bomnya berhasil, tiga kali pula hampir tewas terimbas getaran bom ini. Seperti terlempar hingga terserempet besi yang terlontar daya ledak bom," ungkapnya.

Keahliannya meracik bom kian populer di antara kelompok radikal. Jaringan teroris Cibiru Bandung pun melibatkannya dalam pelatihan militer Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) di Aceh.

Keikutsertaannya ini yang membuatnya berurusan aparat hukum. Detasemen Khusus 88 meringkus Kurnia dan empat pelaku teror lainnya di Jabar. Pengadilan lantas menjatuhkan vonis penjara enam tahun pada Juni 2011.

"Tapi keyakinan saya belum goyah, saya bahkan melempar kursi ke majelis hakim pascaputusan," papar Kurnia.

Selama menjalani masa tahanan, Kurnia tetap berkomunikasi dengan sel-sel jaringan teroris. Apalagi dirinya berada satu sel dengan Bahrum Naim yang dipenjara atas kepemilikan senjata dan belakangan menjadi tokoh propaganda ISIS.

"Saya pula yang mengajarkan Naim bagaimana merakit bom. Dia ahli IT sehingga kemudian menyebarkan cara membuat bom lewat dunia maya," tuturnya seraya menyesalkan ajarannya sudah tersebar luas.

Kurnia meracik bahan peledak cair yang memiliki kemampuan ledak setara bom TNT (trinitrotoluene). TNT lazim digunakan kalangan militer dan industri pertambangan.

Namun di penjara pula, Kurnia menemukan pencerahan. Menurutnya, tidak masuk akal mengkafirkan sesama umat Islam yang taat menjalankan perintah Tuhan.

"Semua yang berkaitan dengan negara disebut thogut dan halal dibunuh. Tidak boleh salat di musala penjara karena menggunakan uang thogut. Padahal para sipir di penjara juga muslim yang taat," sebutnya menceritakan awal mula dirinya "berbalik arah".

Kurnia makin yakin kala dipertemukan dengan penyintas bom Hotel JW Marriot (2003) dan kantor Kedutaan Besar Australia (2004), keduanya di wilayah Kuningan, Jakarta. Dua peristiwa bom ini memakan puluhan korban, baik jiwa maupun luka-luka .

Meskipun tidak terlibat langsung dengan aksi bom ini, ia merasa turut berdosa karena korbannya mayoritas warga Indonesia. "Saya memang tidak terlibat, tapi merasa bertanggung jawab korban ini," ungkapnya.

Kurnia bertemu dengan korban bom Kuningan, Iwan Setiawan, yang cacat permanen dan kehilangan istrinya. Puncaknya, Kurnia bertemu penyintas bom Marriot Febby Firmansyah Isran yang menderita 60 persen luka bakar.

"Iwan terlempar akibat ledakan saat mengantarkan istrinya yang hamil. Dia mencari tubuh istrinya sembari memegang bola matanya yang terlepas. Sedangkan Febby masih merasakan kesakitan luka bakar hingga sekarang ini," keluhnya.

Kurnia makin menyesal karena Iwan dan Febby tetap berlaku baik kepadanya.

Itu sebabnya Kurnia kini aktif ikut program pencegahan ideologi terorisme bersama Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT). Keluar dari penjara, ia pun langsung bergabung dengan program deradikalisme para siswa SMA 2 Lampung.

Pemerintah kini menggalakkan program deradikalisme ke sejumlah universitas di seluruh Indonesia. BNPT menjadi ujung tombak untuk mengadang penyebaran program radikal di kalangan mahasiswa.

"Sudah hampir semua kampus di Jawa dan sekarang mulai menyasar kampus di luar Jawa," tutur Direktur Pencegahan BNPT, Brigadir Jenderal Hamli.

Ia menjelaskan, pelaku teror menyasar kalangan akademisi dalam penyebaran ideologinya. Para mahasiswa menjadi calon pelaku teror yang berguna dalam menyebarkan paham radikal.

"Pelaku teror yang berpendidikan rendah biasanya menjadi martir bom bunuh diri. Sedangkan kelompok berpendidikan akan sangat berguna bagi mereka," ujar Hamli.

Lantaran itu, Hamli meminta mahasiswa selalu menjaga pergaulan --khususnya dengan kelompok diskusi kajian agama. Menurutnya, para mahasiswa harus menekankan sikap skeptis belajar agama dari banyak kalangan.

Mahasiswa yang terpapar paham radikal akan memulai sikap intoleransi, lalu radikalisme hingga puncaknya melakukan teror. "Kalau punya pemahaman intoleran atau radikal, sudah cukup sampai di situ saja. Jangan naik kelas menjadi pelaku teror, urusannya dengan Densus nanti," tegasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR