BJ HABIBIE WAFAT

Salat gaib dan jejak Habibie di PTDI

Pesawat N250 Gatotkaca karya perdana BJ Habibie terparkir di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Kamis (12/9/2019). Pesawat akan dimutilasi untuk diangkut ke Museum Dirgantara TNI AU di Yogyakarta.
Pesawat N250 Gatotkaca karya perdana BJ Habibie terparkir di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Kamis (12/9/2019). Pesawat akan dimutilasi untuk diangkut ke Museum Dirgantara TNI AU di Yogyakarta. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Ruang utama Masjid Habiburrahman PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat, yang berkapasitas seribu orang hampir penuh. Sekitar 700 orang melaksanakan salat zuhur yang disambung salat gaib bagi almarhum Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Kamis siang (12/9/19).

Presiden ketiga Indonesia itu wafat sehari sebelumnya. Imam masjid Nahludin memimpin hingga doa penutup dan pengajian bersama. Sitrasiwi, 55 tahun, ikut dalam jamaah salat untuk jenazah dari jarak jauh tersebut.

Tadinya karyawan PTDI itu ingin mengantar mantan bosnya ke tempat peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Namun kehadirannya hanya bisa diwakili rekan-rekan pabrik pesawat terbang tersebut karena harus bertugas di Bandung.

"Doa bisa dari mana saja," katanya.

Bubar acara di masjid, karyawan kembali bekerja. Staf serta tamu melintasi bendera setengah tiang yang berderet memanjang di antara gerbang pertama dan kedua.

Bayu terkadang mengibarkan Merah Putih yang tengah menjadi simbol berduka itu. Sitrasiwi ikut ke hanggar pusat pengiriman pesawat bersama wartawan dan staf PTDI lain. Di pintu hanggar ia bersandar, memantau prosesi pemakaman BJ Habibie dari kiriman foto dan video rekan-rekannya di grup Whatsapp.

"Banyak yang datang ke rumah duka," ujarnya sambil menunjukkan beberapa foto.

Bekerja di sana sejak 1983, perempuan di divisi pengamanan itu pernah ikut mengawal Habibie di kompleks PTDI yang dulu bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio sebelum berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 1985.

Menurutnya, pengawalan Habibie sebagai Presiden Direktur kala itu tergolong ketat. Namun sang bos tidak selalu ingin dikawal, misalnya ketika sering keliling komplek pabrik. Tujuannya untuk inspeksi, membawa tamu, dan mendekatkan diri ke karyawan.

"Semua karyawan menjaga Pak Habibie," ujarnya.

Ratusan jamaah Masjif Habiburrahman PT. Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, melakukan salat gaib dan pengajian bagi almarhum BJ Habibie, Kamis (12/9/2019) siang.
Ratusan jamaah Masjif Habiburrahman PT. Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, melakukan salat gaib dan pengajian bagi almarhum BJ Habibie, Kamis (12/9/2019) siang. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Sritomo yang pernah bertugas di bagian pengamanan tertutup menimpali. "Beliau tidak ada jarak, dekat seperti teman biasa atau bapak ke anak," kata pensiunan PTDI yang bekerja sejak 1985 itu.

Habibie biasa menyapa dan mengobrol dengan karyawan, semisal sudah makan atau sebelum. Habibie, kata Sritomo, rajin puasa Senin-Kamis, pun saat menerima tamu. Di musala pabrik, Sitrasiwi pernah berdoa untuk anak di kandungannya pada 1997.

"Semoga anak saya sepintar Ilham dan sesoleh Habibie," demikian doanya.

Lebih lanjut Sitrasiwi menyesali keputusan Habibie yang terjun ke dunia politik sehingga tidak leluasa memikirkan pabrik pesawat. Sepengetahuannya jika Habibie berhenti dari perusahaan yang didirikannya pada 1976 itu, ia akan mengajar di Institut Teknologi Bandung. Namun nasib berkata lain.

Pesawat peninggalan Habibie

Krisis moneter dan tekanan IMF (International MonetaryFund) memendam kemajuan teknologi pesawat Indonesia yang dimotori Habibie. Di hanggar itu sebuah pesawat menjadi saksi artefak; N250 Gatotkaca sebagai karya perdananya.

"Sejak 1998 tidak di-maintenance," kata Adi Prastowo, Manajer Komunikasi Perusahaan dan Promosi PT DI, Kamis (12/9).

Sebentar lagi pesawat itu akan dimutilasi untuk diangkut ke Yogyakarta. Sang Gatotkaca bakal menjadi koleksi Museum Kedirgantaraan TNI Angkatan Udara.

Sayapnya harus dicopot, ujar Adi, lalu badannya diangkut truk dengan pengawalan khusus. Pesawat buatan kedua berjenis serupa yang dinamai Kerincing Wesi diparkir di luar hanggar dan belum jelas nasib berikutnya.

Pesawat NC212i di hanggar PTDI sedang disiapkan sebelum dikirim ke Kementerian Pertanian Thailand untuk penggunaan hujan buatan, Kamis (12/9/2019).
Pesawat NC212i di hanggar PTDI sedang disiapkan sebelum dikirim ke Kementerian Pertanian Thailand untuk penggunaan hujan buatan, Kamis (12/9/2019). | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Sementara pesawat lain yang lebih muda dan berteknologi baru seperti CN235-220 dan NC212i terus diproduksi sesuai pesanan. Sebuah pesawat NC212i di samping N250 Gatotkaca sudah siap dibawa Kementerian Pertanian Thailand yang memesan dua unit untuk penggunaan hujan buatan.

Sebuah pesawat lain jenis CN 235, kata Adi, pada 18 September 2019 akan diboyong ke Nepal sebagai moda militer. Harga kedua jenis pesawat itu berkisar AS $20-30 juta.

Sementara pesawat yang paling gres N219 belum dijual, tapi sudah ditawarkan ke beberapa gubernur. Kedua unit purwarupanya masih proses sertifikasi dan uji terbang oleh pilot Esther Gayatri Saleh.

Adi mengatakan pesawat ringan itu bisa take off dan landing di landasan pendek serta cocok untuk menjangkau daerah pelosok. "Kami tawarkan ke pemda Papua, Kalimantan, dan penetrasi ke Aceh," kata dia.

Harga pesawatnya sekitar AS $6 juta. Inilah jejak Habibie masih berdenyut di PT DI. "Beliau selalu hidup dalam hati kami," kata Sitrasiwi yang tahun depan pensiun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR