LEBARAN 2019

Satu arah di tol Trans Jawa saat arus mudik dan balik

Kendaraan melintas di pintu keluar tol Brebes Timur, Jawa Tengah, Kamis (9/5/2019). Kementerian Perhubungan dengan Pejagan Pemalang Tol Road (PPTR) rencana akan memberlakukan satu jalur (one way) dari Km 29 hingga Km 262 tol Jakarta-Brebes bersifat situasional pada 30 Mei hingga 2 Juni untuk antisipasi kemacetan pada arus mudik mendatang.
Kendaraan melintas di pintu keluar tol Brebes Timur, Jawa Tengah, Kamis (9/5/2019). Kementerian Perhubungan dengan Pejagan Pemalang Tol Road (PPTR) rencana akan memberlakukan satu jalur (one way) dari Km 29 hingga Km 262 tol Jakarta-Brebes bersifat situasional pada 30 Mei hingga 2 Juni untuk antisipasi kemacetan pada arus mudik mendatang. | Oky Lukmansyah /Antara Foto

Harga tiket pesawat yang mahal membuat para pemangku kepentingan mengantisipasi melonjaknya jumlah mobil dan bus yang bakal digunakan para pemudik pada Lebaran 2019. Rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah (one way) akan diberlakukan di tol Trans Jawa.

Pada Lebaran kali ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan jumlah kendaraan pribadi yang digunakan akan mencapai 10,6 juta unit, naik sekitar 16 persen dibanding tahun lalu. Sementara pengguna bus diperkirakan naik sekitar 20 persen dari 4,51 juta penumpang pada tahun lalu. Bertambahnya pengguna berarti armada bus yang digunakan juga bertambah.

Oleh karena itu, para pemangku kepentingan lalu lintas--Kemenhub, Polri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), dan Jasa Marga--mencari cara untuk mengurangi kemacetan yang terjadi pada periode arus mudik dan balik.

Usai berembuk pada Kamis (9/5/2019), mereka memutuskan untuk menggunakan sistem one way pada periode waktu tertentu di tol Trans Jawa. Sementara sistem pelat nomor kendaraan ganjil-genap, yang pernah diwacanakan, hanya diberlakukan untuk kendaraan yang akan menyeberangi Selat Sunda, di Merak dan Bakauheni.

Sistem one way untuk arus mudik akan diberlakukan di Tol Trans Jawa, mulai dari Cikarang Utama (Kilometer 29) hingga Brebes Barat (KM 262), pada periode 30-31 Mei dan 1-2 Juni, masing-masing selama 24 jam. Demikian dijelaskan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, Kamis (9/5/2019).

"Kendaraan dari arah timur nanti dari Brebes Barat akan keluar menggunakan jalan arteri atau jalan negara sampai ke Cirebon, kemudian Indramayu sampai ke Jakarta," jelas Budi dalam Antaranews.com.

Sementara untuk arus balik, sistem yang sama bakal dioperasikan pada 8-10 Juni, mulai pukul 06:00 WIB selama 24 jam dari Palimanan (KM 189) sampai Cikarang Utama (KM 29).

Sistem satu arah hanya sampai KM 29 karena, menurut Budi, agar warga Jakarta yang ingin ke Bekasi dan sebaliknya masih bisa menggunakan jalan tol itu.

Ia juga menjelaskan bahwa sistem ganjil-genap tidak jadi diberlakukan di tol Trans Jawa karena khawatir terjadi penumpukan di pintu tol jika banyak masyarakat yang tidak menyadari peraturan tersebut.

"Kenapa one way? Karena ada kecenderungan masyarakat mudik dengan rombongan, bisa 2-3 mobil, kemudian kalau ada yang (bernomor) ganjil dan yang genap, pasti mereka akan terpisah mobilnya," kata Budi, dilansir detikcom.

Petugas tol juga akan memantau area-area istirahat (rest area). Kalau sudah penuh, kendaraan yang dilarang masuk dan bakal diminta untuk berhenti di rest area berikutnya atau keluar tol lebih dulu untuk beristirahat.

Mengenai proyek tol Jakarta-Cikampek yang saat ini menjadi sumber kemacetan di jalur tersebut, Budi menyatakan akan disetop sementara selama arus mudik dan balik. Pemerintah juga akan membatasi kendaraan barang selama periode tersebut.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, meminta pemerintah untuk lebih giat mensosialisasikan keputusan pengaturan lalu lintas tersebut.

"Sehingga masyarakat yang mau ke Jakarta akan berpikir harus melewati jalur yang mana, karena jalur non-tol Jakarta-Cikampek ini banyak yang tidak tahu karena terbiasa dengan jalan tol dan tidak terpelihara," jelas Djoko kepada BeritaSatu.

Djoko juga menilai sebaiknya sistem one way itu diberlakukan sejak KM 66 (Dawuan) saja karena pada titik itu para pengguna akan terpecah meneruskan ke Cikampek atau Cipali, dan Cipularang.

Ketua Bidang Advokasi MTI, Darmaningtyas, dalam CNN Indonesia, menilai kebijakan tersebut memang tidak ideal tetapi menjadi satu-satunya alternatif untuk mengurai kemacetan yang mungkin terjadi. Sistem one way juga disebutnya lebih baik ketimbang ganjil-genap.

Ganjil-genap di Merak dan Bakauheni

Sementara itu, sistem ganjil-genap akan diberlakukan bagi kendaraan yang akan menyeberang laut dari Merak ke Bakauheni dan sebaliknya.

Biasanya, menurut Budi Setiyadi, kendaraan yang menyeberangi Selat Sunda akan menumpuk pada periode pukul 00:00-06:00. Oleh karena itu kemacetan parah terjadi pada waktu tersebut.

Guna menghindari penumpukan, Kemenhub akan membuat skema imbauan kendaraan berpelat nomor ganjil untuk melintas pada pukul 8 pagi hingga 8 malam. Sementara, untuk kendaraan berpelat nomor genap diimbau melintas pada pukul 8 malam hingga 8 pagi.

Menurut Budi, adanya perubahan infrastruktur dari Bakauheni ke Kayuagung dengan beroperasinya tol Bakauheni-Terbanggi Besar akan meningkatkan minat masyarakat menggunakan kendaraan pribadi ke Sumatra.

Selain itu, Budi mengatakan ada rencana penggunaan dermaga khusus untuk motor. "Jadi (motor) tidak bercampur dengan yang lain. Ini untuk mencegah antrean sekitar 7-8 km hingga ke arah tol, sehingga nanti habis antrean bisa sampai sore sehingga kita lakukan pencegahan dengan cara ini," pungkas Budi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR